Jumat, 30 Maret 2018

Review buku It’s Okay To Laugh karya Nora McInerny Purmort



MY LIFE IS HARD, BUT JUST BEING ALIVE CAN BE HARD

It’s Okay To Laugh adalah buku non-fiksi kesekian yang telah berhasil saya baca sampai lembar terakhir. Tidak terpikir kalau buku ini bisa membuat saya kepo dari lembar pertama. Penuturan yang ringan dan penuh humor membuat nyaman ketika membacanya, khususnya untuk saya. Baik, langsung saja.

Review

A lot of people go to therapy when their spouse dies. Or when their father dies. Or when they have a miscarriage. I don’t know what other people do when all three things happen to them within a few weeks, but/spend ten minutes twice a day medicating with Oprah and Deepak Chopra.

Bagaimana perasaan Anda ketika dua orang yang paling dekat dengan Anda meninggalkan Anda sesaat setelah Anda mengalami keguguran?

Sekiranya itulah yang terjadi Nora. Ayah dan suaminya (Aaron) meninggal tak lama setelah dia mengalami keguguran anak keduanya. Seakan mimpi buruk yang betah menghantui Nora. Nora bukanlah wanita super yang bisa menerima semua kejadian itu begitu saja. Nora sedih luar biasa.

“I have a brain tumor.”

Nora adalah anak dari ayah-ibu yang memiliki 4 anak, yang mana Nora salah satunya. Tetapi Nora hanya dekat dengan ayahnya. Ayah Nora memang humoris kepada semua anggota keluarganya. Nora sangat menyayangi ayahnya. Maka dari itu, tak heran Nora sangat terpukul ketika ayahnya meninggal karena mengidap kanker.

That he is a good father and te best gift he has even given us is how much he loves my mother, that their happy and stable marriage has set the standard for loving partnership means for their four children.

Aaron, suami tercinta Nora, yang ternyata mengidap kanker otak stadium akhir, sangat mengejutkan Nora. Bukan main sedihnya. Tetapi mereka saling menyemangati satu sama lain. Menghabiskan waktu bersama dan melakukan hal-hal yang mereka sukai di sela-sela terapi yang Aaron jalani. Hingga Aaron menghembuskan napas terakhirnya 6 minggu setelah ayah Nora pergi. Aaron pergi meninggalkan Nora dan anak mereka, Ralph.

This being a cancer that has carved out its invisible infrastucture within his strong, healthy body, colonizing his esophagus, his lymphatic system, his lungs.

Hubungan Nora dan ibunya tidaklah sebaik hubungan Nora dengan ayahnya. Tapi ketika kejadian dimana kedua perempuan itu sama-sama kehilangan laki-laki yang mereka sangat cintai, membuat mereka sadar bahwa mereka sama-sama butuh sandaran untuk tetap tegar dalam meneruskan hidup pada esok hari. Hubungan mereka memang tidak bisa seperti hubungan Nora dan ayahnya, tetapi begini saja sudah cukup berarti untuk keduanya.

“I lost the future I expected with Aaron, and she lost the man she’d spent most of her past with. I lost my father and my husband, and she lost her husband and her son-in-law.”

Nora melanjutkan hidupnya. Dia tidak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan. Dia pun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan Ralph. Sering Nora teringat dengan ayahnya dan Aaron. Lalu tersenyum sendiri. Atau mungkin menangis tanpa sadar. Keduanya akan terkenang selamanya di hati Nora, selamanya.

Thoughts [spoiler]

Salut banget deh sama Nora! Setelah mengalami semua kesedihan yang akhirnya berhasil bangkit untuk meneruskan hidupnya. Bahkan dengan senang hati menuliskannya kembali, yang mau tidak mau menggali memori itu. Berbagi kisahnya sekaligus memberi pelajaran untuk orang-orang yang mungkin mengalami satu-dua kejadian yang Nora alami.

Buku ini seluruhnya menceritakan kehidupan Nora. Dari Nora kecil sampai Nora dewasa. Bagaimana keluarga Nora, bagaimana Nora dengan ayahnya, bagaimana romantisnya Aaron dan Nora, dan bagaimana Nora menghadapi semuanya.

1. Nora dan keluarganya

Selain ayah dan ibunya, seperti yang udah saya sebut bahwa Nora memiliki 3 saudara lain di keluarganya. Tetapi orang yang paling dekat dengan Nora adalah ayahnya.

“I just feel like I could be doing more with my life,” reads a diary entry of mine. “Be more successful. Be a better writer. Save more money.”

Itu yang Nora tulis di diary-nya ketika berusia 10. Saya boro-boro mikir begitu ya XD.

Ketika Nora bercerita tentang orangtuanya yang weirdos, tapi penyayang.

They were total weirdos compared to other parents we knew. But they were consistent. About their weirdo traits and their love for us. We were loved, care for, and taught by example that love is patient, kind, and often annoying.

Dan bagaimana Nora ini sangat mengidolakan ayahnya.

“You were such a good father to us.”

Ketika sebuah rahasia besar terungkap. Saya syok berat! Serius, nggak kepikiran sama sekali. Ayah Nora mengungkapnya di detik terakhir sebelum dia meninggal. Fakta bahwa Nora adalah anak adopsi.

2. Nora dan Aaron

We had a lot of other great things in common. He loved his family the way I love mine.

Saya terharu banget sama pasangan yang satu ini. Ketika Aaron ketahuan mengidap kanker, mereka berdua memutuskan untuk menikah. Ajib kan? Lain kayak yang di film-film, yang biasanya orang yang mengidap penyakit itu menghilang karena nggak mau membuat orang yang dicintainya sedih. Atau mungkin kekasihnya bakal ninggalin kekasihnya yang sakit karena tidak ingin repot mengurusinya.

Nah, kalau ini Nora  dan Aaron berjuang bareng-bareng. Mereka menikah dan menikmati waktu berduaan, sampai Aaron nggak inget kalau lagi sakit. Nora rajin nganterin Aaron check-up, setia banget dah pokoknya. Aaron-nya suka cerita apa aja. Ada aja topik yang dibahas tiap harinya.

Dan Ralph pun lahir. Tapi mereka tetep romantis XD.

We got married, we had a baby, we traveled and went to concerts and sometimes got caught by the nurses getting a little too friendly in his hospital bed.

Saya inget. Ini nyesek banget. Jadi Nora ke dokter kandungan buat USG, eh taunya...

“I’m sorry,” the ultrasound tech said slowly and quitely, “your baby just isn’t alive.”

3. Nora untuk pembaca.

My life is wild and precious. I only have one. What am I going to do with it?

Lakukan sesuatu yang kamu suka. Bekerjalah selagi bisa. Bahagiakan orang yang kamu sayangi selagi mereka hidup. Carilah pacar, meskipun pada akhirnya itu bisa jadi pilihan yang salah.

Menikahlah dengan orang yang humoris, orang yang rela tidur berdua di kasur rumah sakit yang kecil, orang yang menyayangi keluarganya dan disukai keluarga kamu, dan paling penting, menikahlah dengan orang yang sangat mencintai kamu.

I’m not writing this book to bum you out, although parts of it are for sure a bummer. I’m thinking specifically about the parts where my dad dies, or my husband dies, or I miscarry a baby. I don’t need your pity–I  have plenty of my own, and I spend it creating sad stories.

Aku terjatuh, tapi berhasil bangkit lagi. Maka tertawalah:)

I don’t know what is next, and that’s okay. I can keep inventing this life as I go, creating the world I want for myself and my son, showing him that life is best when you live it yourself, rather than waiting for someone to show you how it’s done.

**

Nah, untuk cerita yang lebih serunya kalian bisa baca bukunya ya. Selamat membaca:) Jujur, saya puas membaca buku ini sampai akhir. Buku ini berhasil membuat saya ngakak, sedih, dan nyesek secara bergantian. What a life

Sekian dan terimakasih.

*

Kutipan : 2016 © Hak Cipta. Nora. 

1 komentar:

  1. kyknya bagus.. ini inggris ya? ada versi bhs indo nya gak min? maksudnya novelnya

    BalasHapus