Kamis, 09 November 2017

Review : Turtles All the Way Down – John Green


“Life is a series of choices between wonders.”

Warning! This review may contain spoilers!

Review

“You are as real as anyone, and your doubts make you more real, not less.”

Aza adalah seorang gadis berumur 16 tahun yang mengidap suatu kecemasan akut atau OCD. Tubuhnya sering mengeluarkan keringat berlebihan dan Aza sangat sensitif terhadap mikroba C. diff. Aza hidup berdua dengan ibunya yang penyayang. Aza memiliki seorang sahabat yang bernama Daisy.

“I is the hardest word to define.”

Aza sering merasa khawatir terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Daisy senang menulis fanfic, salah satunya fanfic Star Wars tentang kisahnya Rey dan Chewbacca. Suatu ketika, Aza merasa tokoh yang digambarkan Daisy adalah refleksi dari dirinya (yang menyedihkan). Tapi Daisy meyakinkannya bahwa itu tidaklah benar. Tak acuh, Aza malah merasa bersalah karena menjadi teman yang tidak menyenangkan untuk Daisy. Daisy gemas melihat Aza yang salah paham padanya. Mereka pun bertengkar, lalu Daisy mengungkapkan uneg-unegnya pada Aza.

“People always talk like there’s a bright line between imagination and memory, but there isn’t, at least for me. I remember what I’ve imagined and imagine what I remember.”

Davis, cowok tajir yang dekat dengan Aza. Mereka pernah menjauh untuk beberapa saat dan kembali dekat akhir-akhir ini. Meskipun Davis memiliki harta yang cukup banyak, tapi itu berbanding terbalik dengan tingkat kebahagiaan yang dia rasakan. Ayah Davis hilang entah kemana. Davis berusaha keras mencari keberadaan ayahnya dan berusaha menjadi kakak yang baik untuk Noah, adik laki-lakinya yang sangat mengharapkan kehadiran sang ayah.

Sulitnya lagi, hubungan Aza dan Davis ditentang ibunya Aza. Ibunya Aza menganggap orang-orang kaya itu selalu bersikap seenaknya. Ibunya Aza tidak mau putri kesayangannya harus menerima sikap sewenang-wenang seperti itu.


Thoughts [SPOILER]

“What I love about science is that as you learn, you don’t really get answers. You just get better questions.”

Kualitas dari Pak Green tidak perlu diragukan lagi. Kita tidak hanya mendapat hiburan karena ceritanya, tapi juga mendapat ilmu gratis tentang dunia sains. Saya memang baru dua kali membaca novelnya Pak Green, The Fault In Our Stars dan novel ini. Tapi saya sering melihat Pak Green di channel yutubnya, Crash Course (kalian wajib mampir!). Saya salut sama Pak Green ini, jago sains dan wawasannya luas banget, tapi bikin novel Young-Adult pun bisa.

“Everyone remembers you, Holmesy. It’s not a value judgement. I’m not saying you’re good or generous or kind or whatever. I’m just saying you’re memorable.”

Soal novel ini, ada tokoh Aza yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Aza yang selalu mengkhawatirkan orang lain, tapi ketika rasa khawatirnya terlalu berlebihan dia menjadi sangat menyebalkan. Saya senang ketika Daisy mengungkapkan uneg-unegnya langsung. Daisy tidak suka kalau Aza selalu menganggap dirinya itu pathetic (karena sakit dan miskin), padahal Daisy juga mengalami kehidupan yang kacau.

Saya sadar betul kenapa ibunya Aza bersikap demikian. Dia sangat takut Aza akan tersakiti. Pada realitanya, memang banyak orang kaya yang sering berperilaku seenak jidatnya dan selalu menggunakan uang untuk menyelesaikan apapun masalahnya.

“I would’ve told her that Davis and I never talked much, or even looked at each other, but it didn’t matter, because we were looking at the same sky together, which is maybe more intimate than eye contact anyway. Anybody can look at you. It’s quite rare to find someone who sees the same world you see.”
Davis : "I used to think you should never be friends with anyone who just wants to be near your money or your access or what ever. Like, never make a friend who doesn’t like you. What’s the difference between who you are and what you have? Maybe nothing."
Aza : "I like being outside at night. It gives me this weird feeling, like I’m homesick but not for home. It’s kind of a good feeling, though."
Davis : "When you lose someone, you realize you’ll eventually lose everyone."

Selain kebersamaan Aza dan Daisy, saya juga menyukai saat-saat dimana Aza bersama dengan Davis. Sederhana, tapi memorable. Juga obrolan-obrolan santai, tapi menyentuh. Dan saya sangat menyukai bagian ketika Aza memeluk Noah untuk menenangkannya. Duh, saya jadi baper XD.

 “No, it’s not, Holmesy. You pick your endings, and your beginnings.”

Ending-nya. Saya selalu bermasalah dengan ending novel luar. Pasti begitu. Rasanya saya pengin edit sedikit biar hati ini senang, HA.

Kesimpulannya, saya suka dengan novel TATWD. Oke, untuk novel Pak Green ini, saya ikhlas memberi  3.5 dari 5 bintang yang saya punya. Selamat membaca;)

**

 “I thought, lying there, that I might love him for the rest of my life. We did love each other –maybe we never said it, and maybe love was never something we were in, but it was something I felt. I loved him, and I thought, maybe I will never see him again, and I’ll be stuck missing him, and isn’t that so terrible.”

“You remember your first love because they show you, prove to you, that you can love and be loved, that nothing in this world is deserved except for love, that love is both how and you become a person and why.”

**
Kutipan : 2017 © Hak Cipta. Green. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar