Senin, 06 November 2017

Review : This Is Where It Ends – Marieke Nijkam

Hasil gambar 
“Everyone has a reason to fear the boy with the gun.”

Warning! This review may contain spoilers!

Review :

"I never realized that courage was so terrifying."

Ty adalah seorang laki-laki remaja yang kecewa pada nasib yang menimpanya. Dia mulai menyalahkan semua orang semenjak kematian ibunya. Claire, pacarnya, meninggalkannya karena menganggap Ty telah selingkuh. Autumn, adik perempuannya, sibuk berlatih ballet dan seolah menganggapnya Ty tidak ada. Ty merasa kesepian. Ty menyalahkan Autumn atas kematian ibunya. Ty sangat kecewa pada Claire yang telah salah paham padanya dan itu membuat Ty semakin membenci dunia. Ty tidak tahu bahwa Claire masih menyayanginya, hanya saja terjadi kesalahpahaman antar keduanya. Dan mereka tidak mencoba meluruskan kesalahpahaman itu. Puncak dari semua kekecewaan Ty adalah ketika Ty datang ke auditorium sekolah sambil membawa sebuah pistol dan bermain-main dengan orang-orang yang ada di auditorium itu hingga mengakibatkan pertumpahan darah.

Thoughts :

“We’re more than our mistakes. We’re more than what people expect of us.”

Ceritanya tidak biasa, tapi saya tidak menemukan sesuatu yang menarik dari novel ini. Saya tidak mengerti kenapa Ty harus bertindak demikian diumur segitu matangnya yang harusnya bisa mengendalikan dirinya sendiri. Autumn tidak menjauhi Ty, tapi Autumn telah menemukan tempat dimana dia merasa nyaman. Waktu ibunya masih hidup, Ty sangat dekat dengan ibunya dan Autumn merasa ada jarak di antara keakraban mereka. Artinya, dari awal memang Ty tidak dekat dengan Autumn. Jujur, saya kesal ketika Ty mencoba mengacungkan pistol itu ke adiknya sendiri.

Menurut saya, retaknya hubungan Ty dan Claire berawal dari Ty sendiri. Claire tak sengaja melihat Ty sedang menggoda bahkan mencoba mencium perempuan lain. Wajar kalau Claire kecewa berat. Tapi Ty malah salah paham juga. Sayangnya, Ty tidak tahu betapa khawatirnya Claire ketika mendengar dia membuat kekacauan.

Alur ceritanya yang lambat membuat saya ingin cepat-cepat menamatkan novel ini. Dari halaman seratus ke atas, hanya menceritakan suasana di dalam auditorium. Padahal bagian itu mungkin bisa dipersingkat dan ditambah cerita lain.

“You can’t always keep your loved ones with you. You can’t always settle your life in one place. But as long as you cherish the memories and make new ones along the way, no matter where you are, you’ll always be at home.”

Terlepas dari itu, ada satu yang unik, yaitu semua karakternya berkaitan satu sama lain. Karakter di novel ini lumayan banyak, tapi saya rasa, penulis berhasil menghubungkannya dengan rapi sehingga bisa dipahami. Saya bisa merasakan hangatnya hubungan anatara adik-kakak-pacar-teman yang digambarkan. Dan karakter yang membuat saya terkesan adalah Claire. Dia memiliki suatu penilaian sendiri, tanpa terpengaruh pendapat orang lain. Claire percaya bahwa Ty bukan orang yang jahat karena Ty selalu baik padanya. Claire memang bukan tokoh utama, tapi karakternya terlihat menonjol.

Saya ikhlas memberi 2 dari 5 bintang yang saya punya. Selamat membaca ;)

**

Chris to Claire : “I never thought you needed to win to be perfect.”

**
Kutipan : 2015 © Hak Cipta. Marieke. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar