Senin, 28 Agustus 2017

Sinopsis Secret Forest Episode 15

NOW PLAYING : Better Man - Robbie Williams

Everything happens for a reason. Ada alasan kuat yang membuat Tuan Yoon berani melakukan kejahatan itu. Manusia berhak marah atau dendam, tapi janganlah memaksa diri kita menjadi seorang penjahat yang justru membuat kita sederajat dengan orang yang kita dendami.


Episode 15

Letnan Han dan rekan-rekannya menggeledah rumah Tuan Yoon. Mereka merasa tempat yang ditinggali Tuan Yoon bukan seperti ‘rumah’. Tak ada perabotan-perabotan, hanya tempat tidur dan meja kecil. Letnan Han menemukan sebuah tas hitam di bawah tempat tidurnya, yang isinya barang-barang bukti yang menunjukkan bahwa Tuan Yoon benar-benar telah melakukan pembunuhan. Bahkan ada jubah hitam yang terdeteksi dipenuhi darah. Semua orang meringis melihatnya.



Di saat yang sama, Shi Mok menginterogasi Tuan Yoon langsung. Tuan Yoon menceritakan semuanya. Beberapa tahun silam, putra semata wayangnya yang berusia 6 tahun mengalami kecelakaan saat hendak jalan-jalan. Bus yang ditumpanginya menabrak pembatas jalan hingga bus meledak serta menghanguskan seluruh penumpangnya. Setelah Tuan Yoon selidiki, sadarlah dia bahwa ada kesalahan teknis pada busnya. Busnya tak layak jalan karena perusahaan busnya sendiri sengaja mengabaikan ‘ketidaklayakan’ itu demi keuntungan semata. Apalagi tak ada pegawai perusahaan dan penguasa berduit yang dipenjara atau dihukum karena kelalaian itu.



“Bus itu bisa saja tidak beroperasi, tapi karena seorang broker (makelar), bus itu bisa beroperasi,” ucap Tuan Yoon. Broker itu adalah CEO Park. Tuan Yoon melanjutkan, “Aku hanya bisa berdoa, berharap putraku langsung meninggal saat ledakan itu terjadi sehingga dia tidak perlu merasakan sakit.”

Tuan Yoon mengakui bahwa dia yang telah membunuh CEO Park dan menculik Ga Young. Kenapa Ga Young? Tuan Yoon merasa Ga Young sama saja seperti CEO Park. Bedanya, CEO Park dengan uang, sedangkan Ga Young menggunakan ‘tubuhnya’. Tuan Kang (korban salah tangkap yg dituduh ngebunuh CEO Park, dia bunuh diri di penjara) juga masuk dalam rencananya. Termasuk Shi Mok (biar Shi Mok dicurigai, jadi Tuan Yoon bebas dari kecurigaan). “Aku sudah lama merencakan ini, hari demi hari,” tegas Tuan Yoon.

“Tapi kenapa kau tidak melakukan apa-apa pada Mantan Kepala Kejaksaan Bae?”

“Aku masih menunggu. Ketika dia digiring seperti binatang dan semua kejahatannya terungkap.”

Shi Mok berkata meskipun begitu Tuan Yoon tidak berhak membunuh mereka. Shi Mok menebak apa karena itu juga Tuan Yoon membunuh Jaksa Young? Tuan Yoon menggeleng dan menyangkal telah membunuh Jaksa Young. Shi Mok mengulangi pertanyaannya. Tuan Yoon tetap menyangkal.

“Lalu kenapa kau melarikan diri? Kau ke bandara karena kau tau mau ditangkap kan?”

“Aku tidak akan membahas hal itu.” jawab Tuan Yoon.

Shi Mok bangkit dan keluar. Sebelum itu, Shi Mok bertanya apa Tuan Yoon merasa baikan setelah membunuh orang? Tuan Yoon menjawab kalau hatinya sudah kosong ketika putranya tewas. Shi Mok tak berkata lagi. Tuan Yoon digiring ke sel.


Letnan Han memeriksa mobil Tuan Yoon. Di sana ada sebuah kosmetik (semacam parfum? Wewangian?). Letnan Han teringat saat Tuan Yoon menjelaskan kalau Ga Young mengalami kejang saat ada di basement. Pasti Ga Young teringat ruang bawah rumah CEO Park (dan mencium bau Tuan Yoon itu), makanya dia kejang. Dari penuturan Tuan Yoon, seakan Tuan Yoon tahu betul kondisi Ga Young. Letnan Han mengeluh karena tidak menyadarinya sedari dulu.

Shi Mok menemui Manajer Kang. Dia bertanya tentang kasus bus itu, tapi Manajer Kang mengaku tak tahu-menahu tentang masalah bus. Shi Mok mengerutkan dahinya, bagaimana Tuan Yoon tahu kalau Manajer Kang saja ngga tahu? Manajer Kang berkata kalau Tuan Yoon ahli menyelidiki hal-hal rahasia. Manajer Kang cuma berharap kalau Tuan Yoon memang tidak membunuh Jaksa Young. Shi Mok berjanji akan menyelidiki lebih lanjut, lalu Shi Mok undur diri. Manajer Kang berkata Shi Mok sudah bekerja keras hari ini, kemudian Manajer Kang mengucapkan selamat karena Shi Mok memenuhi janjinya (yg nangkep pembunuh CEO Park dlm 2 bulan).


Mertua Lee tidak kaget ternyata CEO Park punya banyak musuh. Karena menurutnya, CEO Park itu terlalu serakah (Heh? Ngga sadar Pak, Anda juga!). Kepala Lee berkata dia sendiri belum tahu apa motif Tuan Yoon sampai membunuh CEO Park. Mertua Lee ngangguk-nggangguk, lalu bertanya apa Kepala Lee sudah mengetahui siapa yang membocorkan soal senjata ilegal? Kepala Lee menggeleng (padahal dia tau kalau Jaksa Seo pelakunya). Mertua Lee ngangguk-ngangguk lagi dan menyuruh menantunya beristirahat. Kepala Lee menurut.


Sesampainya di kamar, dia mendapati istrinya sedang menunggunya. Kepala Lee memberi sebuah amplop. Isinya tiket ke Jepang. Nyonya Lee mencoba protes. Kepala Lee berkata lagi, “Temuilah anak kita. Di sini akan ada pemeriksaan aset kita, lebih baik kau tidak di sini. Sebahagia apapun kau di sana, jangan pernah lupakan aku.” Nyonya Lee akhirnya luluh, terbuai dengan kata-kata manisnya. Poor you, Madam. Dia setuju untuk pergi. Kepala Lee memeluknya dengan ekspresi datar.


Shi Mok menelepon Letnan Han dari pojangmacha. Letnan Han menerima panggilannya. Matanya merah dan suaranya parau, habis menangis. Letnan Han sedang merenung dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak peka. Malahan mengajak Jaksa Young ke rumahnya, yang mana, di sanalah Jaksa Young melihat tato itu. Shi Mok ikut merasa bersalah, dialah yang mengajak Tuan Yoon bergabung ke Tim Inti Investigasi Khusus. Shi Mok bercerita alasan Tuan Yoon membunuh CEO Park.

“Meskipun dia hidup seperti itu, bagaimana bisa dia membunuh anak orang lain, padahal dia pernah merasakannya (kehilangan anak)?”

“Hidup seperi itu?” tanya Shi Mok.

“Rumahnya. Sepertinya dia telah bercerai,”

“Saat terjadi sesuatu pada anak mereka, biasanya orangtuanya saling membenci (huhu, kayak ortu Shi Mok).” Shi Mok menegak sojunya.

“Bukannya harusnya mereka saling menguatkan satu sama lain?”

“Orangtua seperti itu memang ada, tapi entah dimana,”

“Bagaimana dengan orangtuamu?” tanya Letnan Han. Shi Mok tak menjawab. Letnan Han  bertanya lagi, kenapa Shi Mok tidak cerita tentang operasi Shi Mok dulu? Shi Mok menghela napas, apa pentingnya itu? Letnan Han bertanya, apa masih sakit?

“Tidak.”

“Hanya itu yang ingin aku tau. Kalau sakit lagi, beritahu aku,” ucap Letnan Han dengan suara parau. “Yah meski aku tak bisa melakukan apapun, tapi aku bisa membawamu ke rumah sakit.”

Shi Mok tak menjawab selama beberapa detik. Sebelum mengakhiri panggilan, Shi Mok memberitahu Letnan Han kalau Tuan Yoon mengaku tidak membunuh Jaksa Young.



Nyonya Lee pamitan sama ayahnya. Kepala Lee mengantar dan menyetir sendiri istrinya. Di dalam mobil, Nyonya Lee tersenyum bahagia. Kepala Lee meyodorkan sebuah berkas ‘pemindahan aset’. Kepala Lee berkata dia akan memindahkan aset mereka ke yayasan (biar ga kedeteksi). Nyonya Lee menandatanganinya tanpa bertanya. Dia benar-benar percaya pada suaminya. Kepala Lee melepas istrinya sampai ke tempat check-in. Kepala Lee menatap punggung istrinya yang menjauh, lalu bergumam ‘selamat tinggal’. Heh?


Jaksa Seo berkunjung ke ruangan Shi Mok. Jaksa Seo memberitahu Shi Mok perihal tiket yang dia lihat dan soal cerai apalah itu. Shi Mok berbalik memberitahu Jaksa Seo soal Tuan Yoon yang menyangkal pembunuhan Jaksa Young. Shi Mok juga memberitahu bahwa kemungkinan Jaksa Young mengambil beberapa dokumen dari ayahnya tentang Hanjo Group. Dokumen itu hilang di hari kematiannya.

Jaksa Seo langsung menebak, bagaimana kalau Jaksa Young dibunuh karena memiliki bukti itu? Mertua Lee dan Kepala Lee bisa jadi dalangnya. Pembicaraan mereka terputus karena telepon berdering. Ternyata di lobi ada Young Il Jae (ayahnya Jaksa Young). Shi Mok bergegas turun. Jaksa Seo mengekor.


Young Il Jae menceritakan soal kejahatan Keluarga Lee yang dia tahu. Soal saham-saham mereka, penggelapan pajak dan sebagainya. Mereka semua akan di penjara kalau kejahatannya terungkap, termasuk Nyonya Lee. Young Il Jae bertanya apa pembunuh putrinya dari Mertua Lee? Shi Mok menggeleng, dia belum bisa memastikannya. Jaksa Seo menggenggam tangan Young Il Jae dan memintanya mempercayai Shi Mok sepenuhnya.

Jaksa Seo mengantarnya sampai turun tangga keluar. Young Il Jae minta maaf soal tak sengaja memukul punggung Jaksa Seo (penginnya mukul Kepala Lee, tapi Jaksa Seo pasang badan, jadi dia yg kena). Jaksa Seo tak mempermasalahkan hal itu. Lalau Jaksa Seo bertanya wujud dokumen yang hilang itu? Young Il Jae menjawab, yang ada logo akademi tempat dia mengajar dulu. (Sepertinya yg hilang ga hanya flash disk, tapi juga berkas2. Makanya Jaksa Young perlu tas untuk membawanya)



Jaksa Seo gerak cepat, dia langsung menyelinap ke ruangan Kepala Lee yang kosong melompong. Dia mengubrak-abrik beberapa berkas yang ada di laci meja dan mencoba menyalakan laptopnya. KLEK. Pintu terbuka, Kepala Lee masuk dengan santai. Jaksa Seo melotot kaget (Ha. Lagian nekat). Jaksa Seo menutup laptop perlahan. Kepala Lee menyuruh Jaksa Seo keluar, tanpa bertanya lebih lanjut. Aneh.

Seseorang masuk ke ruangannya. Kepala Lee meminta Jaksa Seo mengantarkan sebuah amplop ke bawah. Jaksa Seo membaca amplopnya, di depannya ada tulisan ‘Beasiswa Yayasan’. Jaksa Seo membawa berkasnya dengan bingung. Dia lebih bingung karena Kepala Lee ngga bertanya apa-apa, padahal dia tertangkap basah.


Di dalam ruangannya, Kepala Lee dan orang itu membicarakan soal saham-saham yang sudah dipindahtangankan pada kakaknya Nyonya Lee. Kepala Lee cuma ngangguk-ngangguk mendengarnya, itu berita baru untuknya. Tak banyak yang mereka bicarakan. Pertemuan mereka sampai ke telinga Mertua Lee. Mertua Lee bertanya-tanya apa yang coba menantunya lakukan.

Asisten Shi Mok datang dan menyerahkan rekaman CCTV Tuan Yoon selama di bandara. Shi Mok merasa tidak enak karena memanggilnya pada hari libur. Asistennya tak keberatan. Asistennya melaporkan kalau selama ini Tuan Yoon tidak berkomunikasi dengan siapapun, tidak ada riwayat panggilan yang mencurigakan di ponselnya. Shi Mok tetap meminta tolong agar memeriksa, siapatau Tuan Yoon punya ponsel ilegal.

Shi Mok menonton rekaman itu dalam diam. Asistennya ikut nonton sambil terus berkomentar. Asistennya bergumam dia bingung melihat Tuan Yoon yang muter-muter bandara, kenapa ngga langsung berangkat? Sesekali Tuan Yoon menengok ke belakang, waspada. Ke area check-in dua kali. Mengedarkan pandangan, seperti mencari sesuatu, lalu berbalik keluar. Klik, Shi Mok mem-pause rekamannya. Shi Mok sadar kalau Tuan Yoon mungkin mencari seseorang.


Shi Mok menemui Tuan Yoon di ruang interogasi dan menanyakan soal Anonim yang membocorkan isu tentang perkorupsian di Kejaksaan. Tuan Yoon menjawab semua pertanyaan Shi Mok apa adanya, sesuai seperti yang Shi Mok dengar dari Letnan Han. Tuan Yoon-lah yang memberikan berkas itu pada siswa SMA suruhannya. Shi Mok bertanya lagi, kenapa Tuan Yoon memilih Sungmoon Daily? Tuan Yoon hanya menjawab dia yakin CEO Sungmoon akan bertindak demikian (artinya Tuan Yoon jg tau dendam CEO Sungmoon pada Keluarga Lee).

Shi Mok frustasi, kenapa Tuan Yoon bisa mengetahui semua hal dimana hanya pelaku yang terlibat aja yang bisa mengetahui rahasia itu? Tidak mungkin orang dalam mau membocorkan rahasia penting pada Tuan Yoon (Mr Yoon has no power or money). Tuan Yoon menatap Shi Mok, tanpa berniat menjawab. Shi Mok merasa Tuan Yoon sedang berusaha melindungi sekawannya itu.

Shi Mok berkata, “Kau pasti berniat kabur bareng dengannya. Dia membunuh Jaksa Young, itulah kolaborasi kalian, tapi dia malah meninggalkanmu. Mungkin dia kabur setelah mendengar surat penangkapanmu. Atau dia masih di negara ini, makanya kau tutup mulut untuk melindunginya?”

Shi Mok duduk dan melanjutkan analisisnya yang super keren. “Kalau kau ingin kabur, kau bisa mengambil tujuan negara mana saja, asalkan bisa meninggalkan negara ini secepatnya. Tapi justru kau sibuk mencari seseorang. Kalau dia kaki tanganmu, pasti kau tinggal meneleponnya atau mengatur waktu pertemuan, tanpa harus repot-repot mencari seperti itu. Kau pasti ingin menangkap orang itu, siapapun dia.”


“Aku tak punya sekutu. Aku melakukannya sendiri.” Tuan Yoon menyangkal. Shi Mok menghantamkan tinjunya ke meja, kesal (oke, itu horor). Lalu mengulangi pertanyaannya, siapa dia? Tuan Yoon diam. Shi Mok berdiri dan berkata, “Bagaimana rasa melihat ada pisau bermotif mawar ada di samping jasad Jaksa Young? Ada orang yang menyamar jadi dirimu dan membuat seolah-olah Jaksa Young merupakan bagian dari pembunuhan berantaimu? Pasti karena itu kau ke bandara, ingin menangkap orang itu. Kenapa? Karena kau merasa kau bukan psikopat yang membunuh tanpa alasan.”

Shi Mok menunjukan foto pria berpayung hitam, apa dia pelakunya? Tuan Yoon tetap akan pendiriannya, sama sekali menolak untuk menjawab. Mendapat respon seperti itu, Shi Mok berjanji akan menangkap orang itu secepat mungkin.


Mertua Lee berbincang dengan Jaksa Seo. Dia bertanya apa Jaksa Seo yang membocorkan perihal senjata ilegal? Jaksa Seo tak langsung menjawab, dia pura-pura bodoh sambil berkata dia merasa tersanjung kalau bisa mengetahui rahasia sebesar itu duluan (artinya Jaksa Seo nyangkal). Mertua Lee ngangguk-ngangguk. Lalu bertanya tentang menantunya. Jaksa Seo menjawab sekenanya.

Seperginya Jaksa Seo, Mertua Lee langsung menelepon yayasan, bertanya surat apa yang menantunya berikan. Mertua Lee kaget banget pas tau kalau itu surat pemindahan uang (atau aset). Mertua Lee berteriak di telepon kalau dia tidak pernah memberi izin tentang pemindahan itu. Mertua Lee membanting teleponnya marah.



Di luar ruangan, Jaksa Seo menerima panggilan dari Shi Mok. Shi Mok menanyakan perihal foto pria berpayung hitam yang pernah dia kirimkan pada Jaksa Seo. “Dia menyelinap tepat setelah aku membocorkan soal senjata ilegal. Jaksa Young sempat melihatnya. Jaksa Young terbunuh dan beberapa dokumen menghilang. Kau sempat menyinggung tentang asisten pribadi Mertua Lee, apa dia adalah pria itu?”

Jaksa Seo membuka galeri dan melihatnya dengan teliti. Jaksa Seo ingat beberapa kali sempat bertemu dengan Asisten Mertua Lee itu, karena asistennya itu memang selalu ada di ruangan Mertua Lee. Kemudian Jaksa Seo sadar kalau perawakan pria berpayung hitam dan Asisten Mertua Lee terlihat mirip. Jaksa Seo berkata pada Shi Mok, “Apa ini sebuah kebetulan? Aku baru saja menemui Mertua Lee, ini pertama kalinya aku melihat Mertua Lee tanpa dia di sampingnya.”


Shi Mok menutup panggilannya dan bergegas menyuruh asistennya untuk mengecek keberangkatan Asisten Mertua Lee, Woo Byung Jun, dan seluruh keberangkatan luar negeri. Asistennya mengangguk paham. Shi Mok masuk ke ruangannya dan menempelkan 4 calon tersangka di papan tulis. Ada Mertua Lee, Kepala Lee, Nyonya Lee, dan Young Il Jae.

Orang yang mengetahui perihal Mantan Kepala Kejaksaan Bae (yg punya otoritas soal bus). Shi Mok membuang foto Nyonya Lee.

Orang yang mengetahui Asisten Woo pergi. Shi Mok membuang foto Young Il Jae.

Orang yang bisa menggerakkan Tuan Yoon untuk menangkap Asisten Mertua Lee. Shi Mok membuang foto Mertua Lee. (ya iyalah, masa nangkep asistennya sendiri)

Tersisa foto Kepala Lee. Shi Mok menatap foto Kepala Lee dalam-dalam. (DARI AWAL. Shi Mok ini curiga sama Kepala Lee. Setelah berpetualang..., ternyata Kepala Lee memang yg paling mendekati)



Kamera berpindah menyorot Kepala Lee. Dia sedang bersantai di ruang kerjanya sambil mendengar musik klasik.


BERSAMBUNG

Komentar :

Best scene : pas Letnan Han nyuruh Shi Mok nelpon kalau ngerasa sakit lagi. [Letnan Han ini peduli bgt sama orang2 yg dia kenal. Sama Kyung Wan, Kepala Kepolisian Kim, sekarang Shi Mok. Dia ngga mau orang2 di sekitarnya terluka lagi. Matanya sampe bengkak gara2 nangis ngerasa bersalah sama Jaksa Young]


Quote of the day, by Jang Gun : “Manusia itu sama. Tidak ada yang benar-benar iblis, namun tidak ada juga yang benar-benar baik.” 

1 komentar:

  1. Yey. Satu episode lagi mbak. Hwaitiiing!

    BalasHapus