Senin, 14 Agustus 2017

Sinopsis Secret Forest Episode 14

GOTCHA. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.


Episode 14

HWANG SHI MOK tanpa ekspresi menutup kembali kain yang menutupi tubuh Jaksa Young. Tuan Yoon berbicara dengan suara parau, menjelaskan kalau Jaksa Young sudah meninggal saat dia sampai di rumah itu. Shi Mok melihat sekitar sebentar, lalu memerintahkan polisi untuk memeriksa kartu perjalanan Jaksa Young. Selepas Shi Mok pergi, Jang Gun mengeluh sikap Shi Mok yang sangat dingin (ga keliatan sedih).

Pimpinan Tim merasa pembunuhnya terburu-buru, soalnya darahnya bercecer dan tidak rapi. Dia juga stress sendiri, tidak menyangka Tuan Yoon, orang yang bekerja di Kejaksaan mencabut pisau dengan tangan kosong. Jang Gun membela, itu pasti gerakan refleks sebagai rekan kerja. Letnan Han tidak berkata apapun.


Shi Mok baru saja ikut melihat sesi autopsi, entah apa hasilnya. Saat Shi Mok berjalan di lorong, tiba-tiba saja terdengar lengkingan keras di telinganya. Shi Mok meringis sambil menutup kedua telinganya. Shi Mok pun pingsan. Nooo!


Letnan Han bersama keempat rekannya mencoba menganalisis pembunuhan itu. Pembunuhan itu memang sekilas terlihat mirip dengan CEO Park dan Ga Young, yaitu sama-sama pakai pisau dapur yang bermotif bunga-bunga. Tapi, kali ini darahnya bececeran. Letnan Han memberikan hasil autopsi. Hasilnya Jaksa Young meninggal karena kehabisan darah, dan bisa jadi, Jaksa Young dibunuh saat pingsan, sebab tak ada bukti perlawanan.

Sun Chang (polisi muda) masuk sambil membawa daftar riwayat perjalanan transportasi Jaksa Young. Semua tujuannya cuma Rumah Jaksa Young – Kejaksaan, dan sebaliknya. Hari terakhir aja yang beda. Letnan Han berkata kalau Jaksa Young habis ke rumah Shi Mok dan ke rumahnya (untuk pesta) kemarin. Letnan Han menunjukkan foto pria berpayung hitam, “Dia menyusup ke rumah Shi Mok. Mungkin pria itu pembunuhnya, karena mengira Jaksa Young melihat wajahnya,”

“Siapa yang berani menyusup ke rumah Jaksa? Apa ada yang hilang?” tanya Pimpinan Tim.

“Tidak ada, hanya peringatan. Ini terjadi setelah Shi Mok membocorkan soal senjata ilegal Hanjo.”

Semua polisi kaget. Ternyata yang ngelawan Hanjo adalah Tim Investigasi Khusus. Pimpinan Tim menyuruh rekannya jangan menuduh Hanjo dulu, bisa bahaya kalau nuduh-nuduh Hanjo tanpa bukti yang kuat. Mereka melihat daftar riwayat lagi, di sana tercatat terakhir kali Jaksa Young menggunakan taksi menuju rumahnya. Bisa saja pembunuh itu membunuhnya di dekat rumah Jaksa Young, lalu dibawa ke TKP (rumah Ga Young). Pimpinan Tim hanya berpesan pada rekan-rekannya untuk melakukan tugas mereka dengan baik.



Letnan Han bergegas ke RS setelah mendapatkan telepon. Letnan Han nelangsa melihat Shi Mok yang terbaring di ranjang. Sebelum itu, dokter memberitahu Letnan Han tentang operasi yang pernah Shi Mok lalui. Letnan Han cuma diam, mungkin kasihan. Dokter juga bilang, Shi Mok pingsan gara-gara stress. Letnan Han pun akhirnya ngerti, Shi Mok itu emang kelihatan ‘dingin’, tapi sebetulnya mikirin Jaksa Young. Junior yang nge-fans padanya (de javu Romantic Doctor). Letnan Han menyudahi kunjungan singkatnya, dan kembali bekerja.



Jaksa Seo juga terlihat sangat terpukul. Dia ingat saat dia mencekik Jaksa Young hingga pingsan. Yah kita tau, gitu-gitu Jaksa Seo perhatian sama Jaksa Young. Di tempat lain, Tuan Yoon menyiapkan surat pengunduran diri. Heh.

Shi Mok sadar. Ingatan tentang masa kecilnya muncul sekilas. Shi Mok duduk. Penampilannya sangat kacau, seperti bukan Shi Mok yang biasa. Dia mencopot paksa infus yang menempel di lengannya, lalu pergi dengan sempoyongan. Ih, susternya ngga liat apa ya?

Shi Mok tiba di flatnya. Dia teringat Jaksa Young. Jaksa Young yang sangat percaya padanya, jaksa berani yang nekat melakukan apa aja, dan tetap mengikuti Shi Mok, padahal Shi Mok udah terang-terangan jaga jarak. Rasa bersalah terlihat dari raut wajah Shi Mok. Shi Mok melihat baju yang pernah dia pinjamkan ke Jaksa Young. Jaksa Young udah ngga ada, padahal kemarin baru aja pesta bareng. Ah, sedih! Bukan ‘drama korea’ kalo ngga sedih.



Rekan-rekan dari Kejaksaan mengunjungi rumah duka. Ibu Jaksa Young menangis tersedu-sedu, sedangkan ayahnya, Young Il Jae, tak menunjukkan ekspresi apa-apa.

Young Il Jae baru bereaksi saat melihat Shi Mok datang. Penampilannya agak berantakan, bahkan tidak pakai dasi. Young Il Jae marah karena Shi Mok tak memegang janjinya (untuk ngejagain Jaksa Young). Shi Mok hanya diam. Muncul Kepala Lee dan beberapa bawahannya. Young Il Jae beralih ke Kepala Lee. Dia menuduh Kepala Lee yang membunuh putrinya. Young Il Jae melayangkan tongkatnya, dan BUK! Jaksa Seo pasang badan untuk melindungi Kepala Lee, jadi Jaksa Seo yang kena pukulannya. Young Il Jae memaki Kepala Lee..

Shi Mok akhirnya bersuara. Shi Mok marah menyalahkan Young Il Jae, karena sikapnya yang selama ini terlihat tak peduli. Shi Mok berteriak, andai saja Young Il Jae tidak berdiam diri dan ‘bertarung’, pasti ngga akan begini jadinya. Young Il Jae terdiam. Manajer Kang menyuruh Shi Mok menjaga sopan-santunnya. Sebelum Shi Mok berteriak lagi, ibu Jaksa Young menyuruhnya berhenti. Shi Mok mengerti, lalu memberi penghormatan terakhir di depan foto Jaksa Young. Kepala Lee memutuskan pulang. Rekan-rekan polisi juga melihat kejadian itu.



Letnan Han memberitahu Shi Mok tentang perkembangan kasus Jaksa Young. Jaksa Young yang pulang lebih awal, selang beberapa saat sebelum Jaksa Young menelepon Shi Mok untuk memintanya bertemu (Jaksa Young nelpon pas Shi Mok nyari berkas Ga Young).

Letnan Han berkata kalau orangtua Jaksa Young juga tidak mengerti kenapa putrinya pulang lebih awal, soalnya masih jam kerja. Apalagi tak lama setelah dia masuk rumah, Jaksa Young keluar lagi dan menghilang. Shi Mok nampak berpikir, Jaksa Young menghilang setelah meneleponnya. Letnan Han juga bilang kalau Ga Young sudah ketemu, ibunya yang memindahkannya karena khawatir. Shi Mok tak menjawab dan berjalan keluar.


Shi Mok menginterogasi anggota-tim-khusus-investigasi. Semuanya punya alibi. Tapi Shi Mok agak kaget pas asistennya bilang kalau Jaksa Young menguping sebelum masuk ke ruangan Shi Mok kemarin. Terakhir giliran Tuan Yoon. Tuan Yoon menceritakan sesuai yang terlihat pada kilas balik.

Kilas balik. Tuan Yoon menggedor rumah Ga Young, tapi tidak ada balasan. Dari belakang ada seorang gadis, sepertinya dia penghuni rumah itu. Gadis itu ngga ngomong apa-apa dan memilih menjauh, soalnya dia bukan Ga Young. Dan ketika Tuan Yoon udah menjauh, gadis itu buru-buru masuk ke rumah yang tadi Tuan Yoon gedor. Tiba-tiba ada jeritan dari rumah itu, refleks Tuan Yoon berbalik dan masuk ke rumah itu. Jaksa Young sudah tergeletak di sana.

Kembali ke masa kini. Shi Mok tak bertanya banyak dan membiarkan Tuan Yoon keluar.



Nyonya Lee masuk ke ruang kerja suaminya dengan ekspresi marah. Jaksa Seo tau diri dan langsung keluar, tepat saat Nyonya Lee membicarakan perceraian. Nyonya Lee bertanya dengan nada tinggi, apa suaminya berubah karena gadis itu (Ga Young) sudah siuman? Kepala Lee menyangkal bahwa tak ada wanita lain di hatinya. Nyonya Lee menyela, “Kita bukan pasangan yang bisa bertengkar begitu saja (mereka org berpengaruh). Setidaknya, tutupi keburukan kita masing-masing,”

“Aku tidak pernah selingkuh. Seharusnya kita tidak bertemu saat itu. Hari pertama kita bertemu,” Kepala Lee melanjutkan, harusnya waktu itu dia tak pernah menyentuh Hanjo dan memiliki prestasi gemilang, dengan begitu Istrinya tidak akan menyukainya. Nyonya Lee kecewa mendengarnya. Kepala Lee berkata kalau dia harus bertemu dengan Mertua Lee, “Kita lanjutkan obrolan kita di rumah.” Nyonya Lee tak menjawab dan ikut keluar, mukanya keliatan kecewa banget.

Jaksa Seo gerak cepat masuk ke ruangan Kepala Lee (eh serius, ni jaksa nekad bener yak). Dia menemukan sebuah tiket pesawat di sana. Belum sempat dibuka, sekretarisnya Kepala Lee muncul dari balik pintu untuk mengajak makan. Jadi Jaksa Seo terpaksa menerima ajakannya.


Shi Mok menemui Young Il Jae. Young Il Jae mengaku flashdisknya hilang. Padahal di hari kematian putrinya, masih ada di laci itu. Shi Mok tak mengerti, flashdisk apa? Young Il Jae berkata kalau itu berisi bukti penggelapan pajak Mertua Lee. Penggelapan pajak yang diubah jadi saham buat kedua anaknya. Heh? Jadi karena bukti itu, Mertua Lee menjebak Young Il Jae. “Rumah ini selalu ada orang, kecuali kemarin sore (Jaksa Young pulang cepat sore itu),” jelas Young Il Jae.

“Satu-satunya orang yang terlihat sore itu adalah Jaksa Young. Mungkin dia yang ambil,” balas Shi Mok.

Young Il Jae kaget banget. Syok. Seketika dia merasa bersalah, gara-gara dia nyimpen bukti itu, putrinya ikut terlibat. Shi Mok nampak berpikir ‘mungkin Jaksa Young ngambil flash disk itu gara-gara nguping di kantorku’.


Shi Mok ke kamar Jaksa Young. Tak ada sesuatu yang aneh. Kecuali buku catatan Jaksa Young yang ada bekas sobekan kertasnya. Letnan Han muncul dan ikut bergabung. Shi Mok meraba-raba lembar kosong yang ada setelah lembar bekas sobekan. Dia mengambil pensil dan meng-arsir-nya. Binggo. Muncul tulisan mirip ‘nol’ dan ‘tujuh’.

“Tidak. Di sini seperti ada pengulangan. Di tulis berkali-kali,”

Shi Mok mengambil tempat sampah yang ada di samping meja dan mengeluarkan isinya. Hanya beberapa tisu/kapas dan banyak sisa rautan pensil. Letnan Han melihat sisa rautan pensil yang berserakan, lalu berkata, “Hanya halaman ini yang memakai pensil, tulisan-tulisan lain selalu memakai pulpen. Pasti dia melihat sesuatu, makanya dia terus mengoreksinya. Tapi.. apa ini beneran angka (karena lebih mirip ‘DJ’)? Dimana dia melihat ini? Dan bagaimana?” Pembicaraan mereka terhenti karena Pimpinan Tim memanggil Letnan Han. Letnan Han mencoba olah TKP.



Shi Mok mencoba berpikir baik-baik. Mengurutkan kronologinya. Shi Mok melihat arsiran itu lagi. Dia sadar kalau itu bukan angka, tapi huruf. Shi Mok berpikir itu huruf DT. Dia kembali berpikir, dan ingat saat Letnan Han bilang ‘Jaksa Young langsung pulang dari rumahku.. Jaksa Young tak sengaja menumpahkan jus pada Tuan Yoon, jadi kami tidak mengobrol banyak’. Aha. Shi Mok melihat foto selfie mereka. Letnan Han muncul sambil berkata pelaku tak mungkin datang ke sini. Shi Mok tak menanggapi, dan bergumam, “Aku tau pelakunya. Selama ini dia ada di dekat kita.” Shi Mok langsung bergegas. Letnan Han belum paham, tapi ikut bergegas.


Terdengar suara Shi Mok. “Jaksa Young menuliskannya setelah pulang dari rumah Letnan Han. Tidak mungkin Jaksa Young menulisnya saat pulang kemarin sore, sebab rentang waktunya sangat singkat (ya soalnya itu ditulis berkali-kali dan ada byk ampas rautan, pasti nulisnya ga sebentar). Jaksa Young tidak pernah bertemu Ga Young, jadi mereka tak mungkin melihat tulisan itu secara bersamaan. Jika mereka tidak melihatnya di satu tempat, itu artinya pada sosok yang sama. Di tubuh seseorang. Tulisan itu TATO.”

“Sejak pertama mendengar angka itu, sampai dia menggambarnya di rumah. Hanya anggota-tim yang dia temui. Itu artinya salah satu dari anggota-tim adalah si pembunuh. Bila Jaksa Young melihat tato itu bersamaku, maka aku pasti melihatnya juga. Tapi, waktu itu yang tidak bersamaku di atap (rumah Letnan) ada 4 orang. Jaksa Young, Letnan Han, Jang Gun, dan Tuan Yoon. Jaksa Young yang melihat si pembunuh. Letnan Han dan Jang Gun tak mungkin punya tato karena mereka polisi. Jadi, tato yang dilihat Jaksa Young adalah milik Tuan Yoon.”

Shi Mok dan anggota kepolisian tiba di bandara. Tuan Yoon terdeteksi ingin pergi ke luar negeri. Di saat yang sama, Mertua Lee menelepon seseorang. Mertua Lee menyuruh penelepon untuk tidak menghubunginya lagi, sampai dia yang menghubungi si penelepon.


Kembali ke bandara. Tuan Yoon memakai topi dan berjalan sambil menunduk. Dia sampai di tempat check-in, tapi anehnya dia bukan ikut check-in, dia melongok seperti mencari sesuatu (atau seseorang). Karena tak melihat apa yang dia cari, akhirnya Tuan Yoon berbalik dan menjauhi tempat check-in.

Shi Mok mengawasi CCTV. Dia melihat Tuan Yoon berlari karena ketahuan polisi saat bahu mereka saling bersenggolan. Shi Mok bergegas sambil menghubungi yang lain.



Letnan Han berlari. Dia mengejar Tuan Yoon yang jauh di depannya. Letnan Han memotong jalan, dan berhasil menghadang Tuan Yoon. Mereka adu fisik. Jelas Tuan Yoon yang lebih unggul. Tuan Yoon berada di atas Letnan Han dan siap meninju Letnan Han yang mencengkram bajunya. Tapi kepalan tangan Tuan Yoon berhenti di udara. Matanya beradu tatap dengan Letnan Han. Uh, saya ngga suka bilang ini, tapi sepertinya Tuan Yoon ngga tega.



Semua polisi segera datang dan menarik Tuan Yoon menjauh. Shi Mok muncul dan langsung menarik pakaian Tuan Yoon hingga tatonya terlihat dengan jelas. U.D.J.




BERSAMBUNG

Madam Lee kasian. Ngingetin saya pada sosok Yeo Jin, ibunya Anna di The K2. Sosok wanita yang berkuasa, tapi terjebak dengan permainan cinta mereka sendiri, yang justru membuat kedua wanita itu memiliki kelemahan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar