Minggu, 13 Agustus 2017

Sinopsis Secret Forest Episode 13

Curiosity can kill the cat. Pernah denger kan? Ya, itu salah satu peribahasa yang lumayan terkenal, dan emang terbukti kebenarannya. Kecurigaan bisa membunuhmu, atau setidaknya membahayakanmu. Jadi Anda harus mengontrol rasa ingin tahu Anda, tapi terlambat, salah satu jaksa kita merasakan dampaknya.


Episode 13

TUAN YOON kembali bergabung dengan yang lain. Kemudian Asisten Choi (Asistennya Shi Mok) berinisiatif untuk mengambil beberapa foto untuk kenangan-kenangan. Mereka pun merapat dan selfie bareng sambil tersenyum.


Jang Gun mendekati Shi Mok dan Letnan Han yang sedang melihat pemandangan kota. Jang Gun dengan nada bersalah mengaku kalau dia sudah memberikan salinan CCTV pada Kepala Kepolisian Kim yang dia curi dari laptop Letnan Han.

Letnan Han kaget sekaligus kecewa karena rekannya sendiri sudah menyabotase laptopnya. Jang Gun beralasan toh ngga ada yang dirugikan, lagipula dia rasa ngga adil untuk Kepala Kepolisian Kim yang harus kehilangan semua miliknya padahal dia bukan pembunuh. Letnan Han marah mendengarnya, tindakan Kepala Kepolisian Kim juga termasuk pelanggaran berat. Sedangkan Shi Mok, dia teringat sebuah kotak hadiah yang dia lihat saat mengunjungi kantor Kepala Lee.

Asisten Choi membenarkan, Kepala Kepolisian Kim bukan tipe pembunuh (terbukti saat Asisten Choi menyamar jadi Ga Young). Jang Gun yakin kalau atasannya itu tidak berhubungan dengan ‘nol’ dan ‘tujuh’. Jaksa Young bingung dan bertanya balik. Letnan Han menjelaskan kalau itu yang diucapkan Ga Young. Tuan Yoon melirik Jaksa Young yang sedang mengerutkan keningnya (mikir).



Shi Mok menurunkan Jaksa Young di pinggir jalan dan bergegas ke rumahnya setelah Jaksa Young menceritakan soal suara pintu yang terbuka. Dan itu benar. Ada sepasang pakaian Shi Mok yang terlihat sobek-sobek tergantung di tengah kamar. Shi Mok menghubungi Letnan Han.


Tak lama, Letnan Han dan Jang Gun tiba. Jang Gun memeriksa pakaian sobek-sobek itu, sedangkan Letnan Han mendeteksi adanya alat penyadap. Setelah itu, mereka memeriksa CCTV. CCTV jelas merekam seorang pria berpayung hitam yang keluar dari gedung. Persis yang dibilang Jaksa Young.

Jang Gun berasumsi kalau itu adalah peringatan untuk Shi Mok, “Seseorang yang dipenjarakan Shi Mok atau musuh kita (macam Kepala Lee atau Mertua Lee).” Jang Gun melanjutkan, “Tapi narapidana tak mungkin senekat itu. Kalau dia musuh kita, artinya semua anggota tim dalam bahaya.”


Letnan Han menemani Shi Mok di rumahnya dengan segelas kopi di tangan masing-masing. Jang Gun? Dia pulang duluan, mungkin ngeri, Ha. Mereka membicarkan soal pelaku teror itu. Shi Mok berpendapat pelakunya bukan si pembunuh, sebab metodenya sangat berbeda. Letnan Han membalas, kemungkinan besar pelakunya adalah orang Hanjo. Karena kalau coba ‘dikaitkan’, cukup cocok dengan alasan Hanjo Group yang merasa dirugikan karena bisnis ilegalnya diungkap ke publik (Shi Mok bocorin ke Sungmoon Daily).

Kemudian Shi Mok juga memberitahu Letnan Han kalau dia mendapat kontak Anonim yang ternyata seorang siswa SMA (yg ngirim berita tentang korupsi di Kejaksaan ke Sungmoon Daily). Letnan Han menawarkan untuk menemui siswa itu dan mendapatkan sketsa pengirim asli berita tersebut. Shi Mok mengangguk setuju, dan menyarankan agar memakai software sketsa wajah saja. Letnan Han membela diri kalau gambarnya lebih bagus dari software itu. Shi Mok menghela napas panjang sambil bergumam ‘aigoo’. HAHAHA. Letnan Han menatap tajam Shi Mok. Letnan Han tak terima, Shi Mok meragukan kemampuan menggambarnya.

Shi Mok menjelaskan bahwa pelakunya itu pasti tau 3 hal : hubungan Kepala Lee dengan CEO Park, fakta bahwa CEO Sungmoon hampir menikah dengan putri pemilik Hanjo Group, dan fakta bahwa CEO Sungmoon masih dendam karena batalnya pernikahan itu. Sejauh ini ada 3 orang yang dia curigai, yaitu Kepala Lee, Istrinya, dan Mertuanya (menarik, huh?). Letnan Han ngga habis pikir, itu sama saja menggali kuburan sendiri. Dan kalau memang pelakunya ada di antara mereka, pasti ada motif kuat dibaliknya. Shi Mok menyeruput kopinya, berpikir. Sebelum pulang, Letnan Han berpesan pada Shi Mok untuk menghubunginya kalau nanti mimpi buruk. Ha.



Bisnis senjata yang Hanjo rencanakan, batal diwujudkan karena pemerintahan Korea tidak memberi izin. Mertua Lee terlihat marah melihat berita itu. Tim Investigasi Khusus juga terlihat gembira sekaligus kecewa, sebab tim-mereka dibubarkan tanpa alasan yang jelas (Kepala Lee yg nyuruh petinggi buat bubarin), apalagi tugas mereka belum selesai.

Di depan pers, Mertua Lee meminta maaf sedalam-dalamnya pada rakyat Korea atas tindakannya. Palsu. Mertua Lee minta maaf karena ceroboh tidak menyadari ada pihak asing dalam kontraknya. Padahal, faktanya memang ada kerjasama yang melibatkan Pengusaha Jepang Matsuyama di dalamnya. Perkataan bohongnya itu berhasil menipu media dan masyarakat.


Anggota-tim-inti-investigasi-khusus mengepak barang-barang mereka dengan wajah lesu, yah mereka harus balik ke aktivitas masing-masing. Mereka pengin protes, tapi mereka sadar kalau itu sia-sia. Shi Mok membalik papan tulis yang di penuhi coretan tentang kasus CEO Park. Semua orang terpaku, melihat coretan dan tempelan notes yang memenuhi papan tulis, mereka sama sekali ngga nyangka kalau Shi Mok se-niat itu untuk mengungkap kebenaran tentang kasus itu. Shi Mok mencopot semua tempelan itu dan menghapus tulisan-tulisannya, anggota-tim merasa tidak enak. Usaha Shi Mok dipaksa berhenti di tengah jalan.

Setelah papan tulis kinclong, Shi Mok menghadap semua orang sambil berterima kasih karena sudah mau bekerja sama dengannya sampai sejauh itu. Mereka pun meninggalkan ruangan itu dengan berat hati. Bahkan ketika mereka sampai di depan gedung, mereka refleks menatap gedung yang sudah menjadi rumah kedua mereka selama beberapa minggu terakhir ini.



Baru saja Letnan Han menginjakkan kakinya di kantor, ponselnya berdering. Beberapa saat kemudian, Letnan Han sudah sampai di ruang keamanan yang dipenuhi tayangan CCTV jalanan. Ternyata Letnan Han ingin mencaritahu pria berpayung hitam itu. Letnan Han memberi perintah tempat-tempat mana saja yang mungkin dilalui si pria berpayung hitam pada petugas (hm, baju petugasnya kayak petugas Call Center di Voice). Anehnya, pria itu seperti sengaja berjalan jauh sambil terus menutupi wajahnya dengan payung, yang akhirnya baru naik naksi. Wajah pria itu benar-benar tidak terdeteksi CCTV.


Jaksa Young terlihat gelisah. Setelah selaman dia mencorat-coret buku catatannya, mencoret-coret ‘nol’ dan ‘tujuh’. Bayangan saat dia samar-samar melihat tato Tuan Yoon terus berputar di kepalanya. Lamuannya terhenti saat berpapasan dengan Shi Mok di lorong kantor. Ada Tuan Yoon juga di belakang Shi Mok. Jaksa Young menatap Tuan Yoon ragu. Tuan Yoon membalas tatapannya. Cepat-cepat Jaksa Young masuk ke ruang kerjanya. Huft.


Shi Mok menemui Young Il Jae (ayah Jaksa Young). Dengan blak-blakan Shi Mok meminta penjelasan, apa sih yang sebenarnya ditakutin Mertua Lee? Shi Mok tau kalau Young Il Jae punya bukti penting yang bisa menjatuhkan Mertua Lee, makanya dulu Mertua Lee berani menjebaknya. Shi Mok berjanji akan mengurus semuanya. Tapi Young Il Jae tetap bungkam, pura-pura tak tahu apa yang Shi Mok bicarakan. Baginya, keutuhan keluarganya saat ini adalah hal terpenting. Dia ngga butuh nama baiknya dikembalikan, selama keluarga selamat, dia akan baik-baik saja. Setelah mengatakan itu, Young Il Jae mengusir Shi Mok secara halus. Dan... berita pertemuan mereka sampai ke telinga Mertua Lee.


Letnan Han pergi ke tempat di mana pria berpayung itu tertangkap kamera CCTV jalanan untuk terakhir kali. Letnan Han memasuki sebuah minimarket yang terletak tak jauh dari sana, lalu dia minta izin untuk melihat rekaman CCTV di hari kejadian. Dan ya, di sana terekam saat pria itu menutup payungnya dan naik taksi. Masih ngga terlihat jelas wajahnya, tapi setidaknya rekaman itu lebih baik dari CCTV jalanan. Letnan Han mem-print-out foto pria itu. Kemudian menghubungi pihak taksi yang membawa pria itu.

Letnan Han pergi ke tempat di mana supir taksi menurunkan pria itu. Tempatnya aneh. Lahan kosong yang dipenuhi mobil-mobil (bekas?). Sebelumnya, supir taksi juga curiga sama pria itu, sampai menganggap pria itu gila karena memakai payung saat tidak hujan. Tidak ada sesuatu yang menarik, akhirnya Letnan Han memutuskan untuk cabut.


Letnan Han menemui Shi Mok di ruangannya. Lalu memberitahu apa-apa yang dia dapat, termasuk foto dari CCTV minimarket itu. Shi Mok tak mengenal pria itu. Shi Mok pun menghubungi Jaksa Young untuk datang ke ruangannya.

Sambil menunggu Jaksa Young, mereka melanjutkan obrolan lagi. Shi Mok bilang pada Letnan Han kalau ada satu orang lagi yang dia curigai, yaitu Young Il Jae. Karena beliau tau tentang 3 hal itu. Letnan Han ngangguk-ngangguk setuju, lagipula kalau ada penyelidikan ulang, Young Il Jae yang paling diuntungkan (karena bisa memulihkan nama baiknya). Shi Mok terlihat ragu, “Tapi Young Il Jae tak seambisius itu hingga membunuh orang. Young Il Jae tipe pemikir, bukan eksekutor. Aku tau dia memiliki bukti penting...” Ketukan pintu terdengar, perkataan Shi Mok terputus. Jaksa Young muncul. (dia denger ngga ya?)


Shi Mok menunjukkan foto itu. Sayangya, Jaksa Young pun tak mengenali pria itu, tapi Jaksa Young membenarkan kalau pria itulah yang dia lihat malam itu. Jaksa Young bertanya, apa pria itu benar-benar masuk ke flat Shi Mok? Apa terjadi sesuatu sampai kau mencari sedetail itu? Shi Mok tak menjawab keduanya, dia hanya berterima kasih pada Jaksa Young karena sudah ke ruangannya. Jaksa Young keluar dengan perasaan kecewa berat. Shi Mok kejam ya?



Jaksa Seo gregetan pada Shi Mok karena blak-blakan mengirim foto pria berpayung hitam itu. Apalagi sekarang dia kerja di Blue House. Shi Mok terdengar santai. Jaksa Seo juga memarahi Shi Mok karena terlalu cepat membocorkan berita tentang senjata ilegal itu. Ha. “Apa kau tau, kurasa Kepala Lee tau kalau kau dan aku berhubungan secara diam-diam. Dia mencoba menge-tes ku,”

Belum selesai Jaksa Seo curhat, Shi Mok meminta Jaksa Seo untuk segera memberitahunya jika mengenal pria itu karena pria itu sudah menyelinap ke kamarnya, “Jaksa Young melihatnya dari belakang.” Shi Mok mengakhiri panggilannya. Tuan Yoon mendengar kalimat Shi Mok yang terakhir. Tuan Yoon menyapa Shi Mok yang terlihat buru-buru sambil bertanya, mau ke ruang Kepala Kejaksaan? Shi Mok mengangguk, Tuan Yoon ikut mengangguk, tujuan mereka sama.


Ya ternyata.. Manajer Kang diangkat sebagai Kepala Kejaksaan yang baru menggantikan Kepala Lee. Manajer Kang sumringah. Shi Mok dan beberapa petinggi lain mengucapkan selamat. Kemudian Manajer Kang mengumumkan kalau Shi Mok menjadi Kepala Divisi Unit 3 (kalo gasalah semacam Deputi Lee dulu). Semua kaget. Shi Mok ngga kalah kaget. Shi Mok menerima jabatan tangan Manajer Kang dengan bingung. Diikuti petinggi lain. (Semua petinggi itu sebenernya ga terima, mereka dilangkahi Shi Mok. Secara mereka udah lama kerja di sono, udah senior, gengsi kan kalo dilangkahi sama Jaksa Muda?)



Semua petinggi sudah keluar, tersisa Shi Mok dan Tuan Yoon. Ponsel Shi Mok berdering. Letnan Han memberitahu Shi Mok kalau ada reporter yang menyelinap ke bangsal Ga Young, kalau bisa Shi Mok ke sana. Shi Mok mengaku sedang sibuk. Tuan Yoon yang mendengar itu, langsung mengajukan diri untuk pergi ke RS. Shi Mok mengangguk setuju. Tuan Yoon bergegas.

Shi Mok kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Manajer Kang. Mereka duduk. Manajer Kang memberi sebuah berkas yang berisi kasus pertama yang akan Shi Mok ambil sebagai Kepala Divisi.

Manajer Kang curhat kalau kemarin dia baru bertemu dengan Jaksa Agung. Dia pikir, dia akan dipecat, eh taunya ditawari posisi ini (yah mungkin semacam sogokan). Shi Mok berkata, “Anda menerima sebuah piala beracun (kayak hadiah, tapi bisa membahayakan kapan saja). Saya menolak piala itu.”

Shi Mok merasa posisi itu tidak wajar, jadi dia tidak bisa menerimanya sekarang. Shi Mok meminta waktu selama 10 hari. Janjinya untuk menangkap si pembunuh tinggal 10 hari lagi (janji yg di teve itu lho, yg kata Shi Mok janji nangkep dlm 2 bulan. Nah tinggal 10 hari lagi, sebelum 2 bulannya selesai). Manajer Kang cuma menghela napas melihat kekeras-kepalaan Shi Mok. Shi Mok berjanji akan melakukan tugas yang Manajer Kang berikan tadi. Akhirnya Manajer Kang mengizinkannya. Huft, bijak.



Shi Mok masuk ke ruang kerjanya. Kedua Asistennya menyambutnya dengan tepukan tangan, dan barang-barang yang sudah di-pak-pak. Siap pindah ke kantor baru. Shi Mok langsung berkata kalau tidak akan pindah. Krik-krik, asistennya bingung. Belum sempat bertanya, ponsel Shi Mok berdering.

Tuan Yoon melaporkan kalau Ga Young tidak ada di bangsalnya, “Katanya Ga Young dan ibunya ikut bersama seorang pria (Anda ya?). Apa aku perlu ke rumahnya?” Shi Mok menolak dan meminta Tuan Yoon ke RS saja. Shi Mok menutup panggilannya.



Kemudian Shi Mok dibantu asistennya bergegas mencari berkas Ga Young. Ponsel Shi Mok berdering lagi. Kali ini Jaksa Young. Jaksa Young meminta bertemu dengan Shi Mok sekarang, ada hal penting yang dia ingin bicarakan. Shi Mok hanya mengiyakan sambil berkata kalau dia akan meneleponnya lagi nanti. Shi Mok menutup panggilannya. Setelah melihat alamat Ga Young, Shi Mok segera pergi.

Shi Mok menggedor rumah Ga Young. Tak ada panggilan. Ponselnya malah berdering lagi. Dari Letnan Han. Letnan Han meminta Shi Mok datang ke tempatnya sekarang, di Garwol-dong. Ada mayat seorang gadis di sana.

Shi Mok tiba di sebuah rumah yang sudah dipasangi garis polisi. Ada Tuan Yoon juga, yang tangannya berlumuran darah terlihat kacau. Shi Mok mendekati mayat itu, dan membuka kain penutupnya secara perlahan. Gadis itu Jaksa Young. Wae?!



BERSAMBUNG

Tidakkah ini terlalu cepat buat Jaksa Young buat ninggalin drama ini?? Ah, padahal saya suka sama akting Jaksa Young ini. Hiks.


“Jaksa Young melihatnya dari belakang.” Kalimat Shi Mok yang Tuan Yoon dengar. Mungkin Tuan Yoon salah paham, dia pikir, Shi Mok ngomongin ‘tato’, soalnya kan Jaksa Young ngeliat tatonya dari belakang. Padahal kan, Shi Mok lagi ngomongin ‘pria berpayung hitam’, ya.. Jaksa Young juga melihat pria itu dari belakang. Huh. Karena salah paham itu Tuan Yoon ngebunuh Jaksa Young... Tapi kenapa?

KALAU MISALNYA TUAN YOON NGEBUNUH JAKSA YOUNG GARA-GARA JAKSA YOUNG NGEBOCORIN SOAL TATO, apa gunanya ngebunuh Jaksa Young? Kan udah di bocorin. Udah ada orang lain yang tau kalo dia pembunuhnya. Atau ada alasan lain? Seperti Ga Young, yg di culik Tuan Yoon tanpa ada motif yg jelas? Atau yg ngebunuh si pria berpayung hitam ya??

Oke,  tenang, nantikan sinopsis selanjutnya!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar