Minggu, 06 Agustus 2017

Sinopsis Secret Forest Episode 12

Tidak bisa dipungkiri bahwa kekuatan uang itu sangat besar. Tapi, bukan berarti ngga bisa dilawan. Ada banyak kasus dimana 'orang-ber-uang' malah terjerembab ke bawah. Harus ada, setidaknya satu, satu orang yang mempunyai tekad untuk melawan 'orang-ber-uang' itu. Mari kita liat, sampai berapa lama 'uang' itu berkuasa?  


Episode 12

SHI MOK bersama Letnan Han mulai menelusuri ruang bawah tanah rumah CEO Park. Ruangan itu lebih pas disebut gudang. Karena sejauh mata memandang, hanya terlihat barang-barang yang berserakan dan itu sudah tertutup debu, dengan sarang laba-laba yang menggantung di langit-langit ruangan itu.


Tiba-tiba muncul Pimpinan Tim. Entah apa maksud kedatangannya, Pimpinan Tim memutuskan untuk bergabung. Jadilah mereka bertiga barsama-sama mencari apapun yang bisa dijadikan petunjuk. Tak lupa Letnan Han menjelaskan perihal Ga Young yang mengatakan ‘nol’ dan ‘tujuh’.

Mata Shi Mok menangkap ‘angka 7’ yang tertulis di atas kain yang berdebu. Shi Mok mencoba mengintip dari posisi yang dia duga sebagai tempat Ga Young disekap. Tapi angka ‘7’ itu tidak terlihat dari posisi Ga Young disekap karena terhalang sebuah kursi. Lagipula tidak ada ‘nol’ di situ. Apa yang Ga Young lihat benar-benar angka yang tertulis di kain berdebu itu?



Pimpinan Tim bilang kalau tak ada yang mencurigakan dengan gudang itu, dia sudah menyelidikinya bersama tim forensik. Lagipula TKP-nya kan ada di lantai atas, alias dalam rumah CEO Park.

Pimpinan Tim merasa aneh, kenapa ngga langsung dibunuh di hari penculikannya saja? Kalau seandainya mau dibunuh di tempat ini, kenapa Ga Young harus disekap selama sehari dulu, baru ditikam?

Shi Mok spontan membalas, “Kalau langsung dibunuh malam itu, Ga Young akan meninggal karena kehabisan darah. Pelaku sengaja melakukan itu untuk membuat Ga Young tetap hidup, karena Ga Young akan ditemukan oleh sekelompok pelajar yang berpesta pada malam itu,”

Pimpinan Tim mengeluh, skenario pembunuhan macam apa itu. (Saya sependapat, Timjang-nim!)

Kyung Wan yang baru saja muncul dari balik pintu, bertanya dengan nada lirih, “Kenapa pelaku membiarkannya hidup, sedangkan ayahku dibiarkan meninggal? Emang apa kesalahan ayahku sampai dibunuh dengan kejam?” Kyung Wan langsung keluar gudang dengan perasaan kecewa.



Letnan Han mengikuti Kyung Wan ke dalam rumahnya dan mencoba menenangkannya yang mulai menangis. Tak lama, muncul Pimpinan Tim, dia berlutut sambil meminta maaf, dia seharusnya menghentikan siksaan yang Kyung Wan terima waktu itu (Oh ternyata tujuannya dateng mo minta maaf). Kyung Wan membuang muka, siksaan itu masih membekas di dalam pikirannya. Kyung Wan bangkit dan masuk ke dalam kamar. Letnan Han kembali mengikutinya.


“Aku (juga) membenci ayahku karena kehidupan yang dia jalani. Tapi, saat aku mendengar dia meninggal dengan cara seperti itu (ditusuk ampe tewas).. Itu malah menjengkelkan! Aku ingin berbicara padanya, sekalipun dia menyumpahiku.. Sekali saja. Aku ingin bilang kalau aku tak membencinya lagi,” ucapnya sambil menangis. Letnan Han menepuk-nepuk punggung Kyung Wan, matanya ikut basah. “Dia meninggal sendirian, aku kasihan padanya..” lanjut Kyung Wan. Shi Mok mendengar percakapan itu dari luar.



Kepala Lee mengantar mertuanya keluar, setelah mendiskusikan bisnis besar yang akan mereka jalani. Ruang Kepala Lee kosong. Dengan sigap, Jaksa Seo masuk untuk mengambil ponselnya (dengan nampan di tangan buat alibi ngambil cangkir teh yg sudah kosong).

Jaksa Seo hampir saja ketahuan karena Kepala Lee memergokinya saat sofanya digeser. Untung gerakan tangan Jaksa Seo cepat, dia berhasil menyembunyikan ponselnya di bawah nampan yang dia bawa. Jadi, saat sofa itu digeser, tak ada apa-apa di sana. Kepala Lee menyuruhnya keluar. Jaksa Seo mengambil cangkir dan melangkah dengan ekspresi bingung karena Kepala Lee tidak bertanya apa-apa (nanya ‘apa yg Jaksa Seo cari’). Tapi pas di luar, Jaksa Seo menghela napas lega.


Shi Mok duduk berhadapan dengan Nyonya Lee. Shi Mok iseng bertanya, apa benar Nyonya Lee menyukai Kepala Lee duluan? Nyonya Lee tersenyum membenarkan.

Kemudian Shi Mok menyinggung tentang kedatangan Nyonya Lee ke ruang rawat Ga Young. Shi Mok bertanya, Siapa yang Nyonya Kim lihat malam itu? Apa Nyonya Lee sudah membuat pernyataan dengan pelaku untuk bungkam? Nyonya Lee menegaskan bahwa dia bukan tipe orang yang bisa membuat perjanjian dengan siapapun (Jelas. Anda udah punya semuanya).

Shi Mok bangkit sambil berkata kalau dia tak punya pilihan lain selain membuat Nyonya Lee sebagai tersangka, sebab saat itu ada suster yang melihat Nyonya Lee keluar dari ruangan Ga Young. Barulah Nyonya Lee mengaku-dengan-amat-terpaksa, “Aku hanya ingin melihat rupa gadis itu! Tapi, dia di sana. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas, Kepala Kepolisian Kim membekap wajahnya, tapi dia berhenti di tengah jalan dengan tangan bergetar. Hanya itu yang aku lihat!”

Nyonya Lee berpesan pada Shi Mok untuk tidak memberitahu suaminya. Shi Mok mengangguk paham, lalu undur diri.



Jaksa Seo dengan norak menelepon Shi Mok, dia berkata kalau dia punya rekaman percakapan tentang bisnis itu (Serius, nadanya norak bgt. Trus nelponnya sambil jingkrak-jingkrak kesenengan. HA). Shi Mok mulai percaya perkataan Jaksa Seo, soalnya dia baru saja mendengar berita tentang kerjasama Hanjo (perusahaan milik Mertua Lee) dengan Menteri Pertahanan. “Pasti mereka berniat menjual senjata dengan harga mahal.” ucap Jaksa Seo semangat. Tapi Shi Mok masih belum paham betul, bisnis seperti apa itu. 


Jaksa Seo tak sengaja bertemu dengan Jaksa Young di depan ruang rawat Ga Young. “Kau pasti ingin tanya Kepala Lee pelakunya atau bukan,” tebak Jaksa Seo.

“Dan kau pasti ingin memastikan kalau Kepala Lee bukan pelakunya kan?” sembur Jaksa Young. (Jaksa Young mikir kalau Jaksa Seo pasti ngebela atasannya). Jaksa Seo tak menjawab.

Akhirnya mereka berdua masuk. Kedua jaksa itu memperkenalkan diri sebagai teman sejawat-nya Shi Mok. Ibu Ga Young menggangguk-percaya (Hah, the power of Shi Mok!). Jaksa Young minta izin untuk menanyakan sesuatu pada Ga Young. Ibu Ga Young mempersilahkan.

Jaksa Young memperlihatkan foto Kepala Lee sambil bertanya, apa Ga Young mengenalnya? Ga Young menatap foto itu. Tapi pandangannya jatuh pada Jaksa Seo yang berdiri tak jauh dari sana. Mereka bertatapan sebentar. Ingatan saat Jaksa Seo mengejarnya di malam penculikan itu berputar di kepalanya. Seketika Ga Young histeris. Ketakutan. Ibu Ga Young buru-buru memeluk anaknya.



Jaksa Young dan Jaksa Seo duduk di luar di depan kamar Ga Young. Jaksa Young termenung. Sedangkan Jaksa Seo sepertinya sadar kalau Ga Young histeris saat melihat mukanya. Tapi tidak ada yang menyadari hal itu selain dia. Soalnya posisi saat di berdiri tepat di belakang kertas foto, jadi orang-orang bakal nyangka Ga Young histeris gara-gara lihat foto. Ibu Ga Young juga terkecoh, dia bergumam, “Itu foto yang sama.. Tapi kenapa reaksi Ga Young berbeda?” (Shi Mok pernah nunjukin foto itu juga, tapi waktu itu Ga Young diem aja)

Jaksa Seo menyarankan agar Jaksa Young tidak perlu melakukan hal itu lagi. Dengan nada tulus, Jaksa Seo ingin Jaksa Young hidup tenang dan berjalan lancar (maksudnya : Kepala Lee bukan tandingan Jaksa Young. Mending mundur, drpd keadaannya makin buruk). Jaksa Young tersenyum dengan sedikit kikuk, tidak biasanya Jaksa Seo sepeduli itu. Ha.


Shi Mok bertemu CEO Sungmoon Daily di kantornya (Sungmoon : media yg kemarin menerbitkan pesan Anonim tentang per-korupsi-an di kejaksaan). Shi Mok langsung bertanya siapa Anonim itu? CEO Sungmoon tersenyum tak menjawab. Shi Mok bertanya lagi, “Targetnya Kejaksaan atau Hanjo Group? Kenapa Anda menerbitkan berita yang bahkan tidak ada rinciannya sama sekali?”

CEO Sungmoon tersenyum pahit. Akhirnya dia menceritakan kisahnya. CEO Sungmoon ternyata punya dendam pribadi pada Kepala Lee yang sudah merebut Nyonya Lee darinya. Dulu CEO Sungmoon ini hampir jadi menantu pengusaha sukses. Semuanya berubah ketika Nyonya Lee menyukai Kepala Lee.

Shi Mok mengerutkan dahinya bingung, kenapa CEO Sungmoon masih menyimpan dendam sebegitu lamanya? CEO Sungmoon menjawab, “Apa kau tidak mengerti? Aku akan bekerja di tempat yang lebih bagus daripada di sini!” (ternyata pria ini materialistis juga toh)

“Siapa saja yang tau kalau kau punya dendam pada Kepala Lee? Mungkin dia adalah Anonim itu,” ujar Shi Mok.

“Anonim itu anak SMA.” kata CEO Sungmoon mengoreksi, “Dia diberi imbalan sejumlah uang oleh pria tua.” CEO Sungmoon menghela napas, lalu berkata bahwa tidak ada yang tau kalau dia masih dendam pada Kepala Lee.

Karena CEO Sungmoon tak mau memberikan info siswa itu, Shi Mok menawarkan satu berita penting untuk Sungmoon. Yaitu tentang bisnis senjata ilegal yang akan dijalani Hanjo Group. CEO Sungmoon tertarik. Akhirnya CEO Sungmoon memberikan info siswa itu.



Dan.. berita itu benar-benar menghebohkan. Semua media membahasnya. Masyarakat korea mengutuk orang-orang yang terlibat itu. Jaksa Seo mengeluh karena Shi Mok buru-buru ngebocorin berita itu. HAHA. Di tambah, Jaksa Seo takut dicurigai sebagai pengkhianat.

Anggota Tim Investigasi juga sedang melihat berita itu. Jung Bon bertanya pada Shi Mok, “Apa kau yang memberikan info itu? Kenapa tidak kita aja yang memberitakannya lewat konferensi pers?” Shi Mok beralasan kalau mereka ber-enam saja tak akan cukup untuk melawan Hanjo. Tuan Yoon membenarkan pendapat Shi Mok. Letnan Han berkata, tapi itu sangat mudah bagi Hanjo untuk mengetahui informan yang mengacaukan bisnisnya. Shi Mok sadar, tapi tak berkata-apa. (Letnan Han takut Shi Mok bakal diteror Hanjo. Atau bahkan Tim mereka yang diteror)



Mertua Lee terlihat marah karena bisnisnya sudah berantakan, apalagi rekan bisnisnya tidak mau ikut bertanggung-jawab. Di tempat lain, CEO Sungmoon bertemu dengan Kepala Lee di Blue House. CEO Sungmoon memberitahu kalau Shi Mok lah informan itu. Alih-alih Kepala Lee mengingatkan bahwa Hanjo Group tak akan jatuh dengan mudah. CEO Sungmoon tersenyum sinis, “Apa kau merasa sudah menjadi anggota keluarga itu?” Tanpa mendengar balasan Kepala Lee, CEO Sungmoon memilih pergi.

Tak lama, mertuanya menelepon. Mertua Lee bilang kalau anak buahnya Kepala Lee ada yang berkhianat. Seketika Kepala Lee ingat saat memergoki Jaksa Seo yang sedang menggeser sofa.  

Di ruangannya, Mertua Lee menahan amarahnya. Tak menduga Shi Mok sebegitu berani melawannya. Kemudian kamera memfokuskan ke asisten Mertua Lee. (Oke, dia terlihat mencurigakan)



Anggota-tim-inti bersorak saat Shi Mok setuju untuk makan bersama. Tapi sorakan itu cuma sebentar. Shi Mok baru saja mendapat telepon yang mengharuskan dirinya untuk pergi menemui Jaksa Agung. Shi Mok berkata, “Aku harus menemui Jaksa Agung. Mereka bilang, tim ini akan dibubarkan dan semua data yang kita punya harus dikirim ke Kejaksaan Pusat. Tetaplah di sini dan jangan biarkan siapapun masuk.” Semua langsung lesu mendengarnya.

Shi Mok langsung bertanya alasan kenapa timnya dibubarkan, padahal masih banyak tugas yang belum diselesaikan. Jaksa Agung sendiri terlihat sangat tertekan. Jaksa Agung beralasan Shi Mok sudah menghancurkan instansi-instansi tertentu (maksudnya kepolisian), apalagi banyak pegawai kejaksaan (alias rekan Shi Mok) yang menentang tindakan Shi Mok.


Tiba-tiba muncul Manajer Kang dan beberapa orang penting dari kejaksaan. Mereka berjejer menghadap Jaksa Agung, dan memohon agar Tim Investigasi Khusus tidak dibubarkan. Salah satu orang penting itu bilang, “Anda punya kekuasaan, Pak. Jangan biarkan Anda tunduk pada mereka (Hanjo).” Perkataan itu menohoknya. Shi Mok menambahkan, “Beri aku 20 hari untuk menyelesaikannya.” Jaksa Agung berpikir keras.



Di luar ruangan Jaksa Agung. Mereka menghela napas lega. Nampaknya permintaan mereka disetujui. Manajer Kang mengaku merinding saat di dalam tadi, HA. Tak lupa dia berpesan pada Shi Mok untuk memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Shi Mok menunduk hormat seraya berterima kasih. Setelah para petinggi itu pergi, Shi Mok menelepon Jaksa untuk menyampaikan pesannya pada Kepala Lee.


Kepala Lee tiba di sebuah ruang sidang yang kosong. Di susul Shi Mok. Shi Mok mulai membicarakan masa lalu, saat dia masih menghormati Kepala Lee sebagai seniornya di Kejaksaan, bahkan pernah menjadikan Kepala Lee sebagai teladannya. Kepala Lee tau kalau Shi Mok menginginkan sesuatu (soalnya Shi Mok memujinya).


“Apa Anda takut? Makanya membubarkan tim kami?”

“Kau pikir kenapa aku menunjukmu? Kau selalu menghalangiku. Sekarang juga begitu!” Kepala Lee berhenti sejenak, “Apa kau jauh-jauh ke sini, mau membuktikan pada dunia kalau kau dan aku akan bertemu di sini sebagai Jaksa dan Terdakwa?”

“Hanya Anda yang bisa menentukan hal itu,” jawab Shi Mok.

Kepala Lee menegaskan kalau Shi Mok tak akan bisa menjatuhkannya. Mendengar perkataan Kepala Lee yang ambigu itu, Shi Mok bertanya, “Dari perkataan Anda, sepertinya Anda mengakui kalau Anda akan memang terdakwa.” Kepala Lee tak menjawab, lalu pergi.



Shi Mok mengetuk kantor-nya. Kantornya beneran dikunci ternyata, haha. Jung Bon bergegas membukanya. Anggota Tim menghela napas lega saat Shi Mok mengatakan kalau tim mereka tak jadi dibubarkan. Untuk merayakan kabar gembira itu, Letnan Han menyarankan untuk mengadakan pesta kecil. Serentak semua orang setuju.

Jaksa Young meletakkan sebuah paperbag kecil di depan pintu flat Shi Mok. Jaksa Young kembali masuk lift, dan saat itu, sekilas dia mendengar suara pintu flat Shi Mok terbuka. Sayangnya pintu lift sudah tertutup duluan. Jaksa Young berpikir kalau dia sudah salah dengar.

Sesampainya di luar, Jaksa Young menoleh lagi ke pintu masuk gedung. Di sana dia melihat seseorang berpakaian hitam-hitam dengan payung hitam yang menutupi wajahnya. Jaksa Young menadahkan tangan, tak ada rintik hujan. Dia bingung kenapa orang itu pakai payung saat tak ada hujan. Kemudian Jaksa Young menelepon Shi Mok. Berhubung Shi Mok ke toilet, Letnan Han yang mengangkat ponselnya. Sekaligus mengajak Jaksa Young untuk bergabung.



Tim-inti-investigasi-khusus kini sedang bersenang-senang di rumah Letnan Han. Di depan pintu masuk bangunan, ada Jang Gun yang terlihat bingung. Eh muncul Jaksa Young. Akhirnya mereka naik ke atas berdua untuk bergabung. (rumah Letnan Han ada di lantai paling atas. Inget rumah Tae Gong Shil di Master’s Sun? Nah kayak gitu rumahnya)

Mereka disambut baik oleh anggota-tim. Jang Gun langsung minta maaf karena sudah bersikap tak pantas kemarin. Anggota-tim tidak mempermasahkan hal itu. Kemudian, mereka pun bersulang.

Di dapur, Jaksa Young membantu Letnan Han untuk mengupas buah. Jaksa Young berterima kasih karena sudah diundang (bisa seneng-seneng bareng). Letnan Han tersenyum, berterima kasih balik karena Jaksa Young sudah mau datang. Letnan Han kepo.. mau bertanya tentang hubungan khusus antara Jaksa Young dengan Shi Mok, tapi dia mengurungkan niatnya. Pembicaraan mereka terhenti saat Tuan Yoon muncul untuk bertanya letak toilet.

Letnan Han keluar sambil membawa buah. Tak lama, Tuan Yoon juga setelah selesai memakai toilet. Tuan Yoon ingin ikut membantu Jaksa Young, tapi dia malah ketumpahan air. Jaksa Young tak tahu ada Tuan Yoon di sana. Buru-buru Jaksa Young mengambil tisu dan mengelap bahu Tuan Yoon. Ada tulisan hitam menembus kemeja putih Tuan Yoon yang basah. Jaksa Young bertanya, apa itu tato?



Belum sempat dijawab, Letnan Han muncul dan melihat kekacauan itu. Dia ikut membantu membereskan dan mengelap lantai. Sedangkan Tuan Yoon kembali ke toilet. Setiba di toilet, ekspresi Tuan Yoon berubah. Galak. Kemudian dia membuka kemejanya di depan cermin, dan memperlihatkan tato di belakang bahunya. ‘D.J’ (mirip ‘nol’ dan ‘tujuh’)


Tuan Yoon keluar dengan kemeja yang sepertinya sudah agak kering. Tuan Yoon muncul dari balik pintu untuk kembali bergabung. Tatapannya berhenti pada Jaksa Young. Jaksa Young tersenyum ke arahnya.



BERSAMBUNG

TUAN YOON pelakunya. Yang menculik Ga Young. Yang kemungkinan besar pembunuh CEO Park juga. Soal tato, kayaknya Ga Young salah baca. Harusnya D.J, bukan 0.7. Tapi kenapa Tuan Yoon? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar