Rabu, 05 Juli 2017

Sinopsis Secret Forest Episode 7

NOW PLAYING : Endless – Richard Parkers

Endless [case?]. An epic episode!  


Episode 7

Semua orang memberi selamat pada Kepala Lee (sebelumnya Deputi Lee), tak terkecuali Shi Mok. Setelah Kepala Lee memberi pidato singkat di tengah lorong itu, dia menyalami pengawainya satu persatu. Shi Mok dipenuhi banyak pertanyaan. Kepala Lee menjabat Shi Mok lama, terlihat ada ketegangan antar keduanya. Mereka berdua tersadar ketika pria yang mewawancarai dokter Shi Mok datang dan memberi selamat pada Kepala Lee. Manajer Kang memperkenalkannya sebagai Pak Yoon. Karena acara salam-salaman itu, Jaksa Young sementara ini terselamatkan dari amarah Jaksa Seo.



Jaksa Seo langsung mengunci pintu dan menutup tirai jendela setibanya di ruang kerjanya. Dia mengambil sesuatu dari balik benda yang berdiri di belakang pintu. Ponsel Kim Ga Young. Entah apa maksudnya, Jaksa Seo menghidupkan ponsel Kim Ga Young selama beberapa detik, lalu mematikannya lagi. Kemudian Jaksa Seo membenturkan ponsel itu ke kayu sofa hingga rusak.

Jaksa Seo keluar ruangan dan meminta stafnya untuk memeriksa kegiatan Kim Nam Jin saat 2 hari terakhir. Stafnya agak keberatan karena mencari informasi seorang Komando itu cukup sulit. Jaksa Seo tak mau tau, dia butuh infomasi itu bagaimanapun caranya. Stafnya menyanggupi dengan berat hati.



Di lorong, dia melihat staf Shi Mok membawa banyak berkas. Jaksa Seo mengikutinya dan mengintip Shi Mok yang sibuk mengatur berkas-berkas itu. Karena tak ada sesuatu yang istimewa, Jaksa Seo memutuskan untuk pergi. Shi Mok melirik ke pintu, dia tau ada Jaksa Seo tadi. Shi Mok segera mengirim pesan pada seseorang. Orang itu adalah Letnan Han. (Oh, berarti Shi Mok emg sengaja narik perhatian Jaksa Seo, biar ngintip ke kantornya)


Letnan Han sudah siap di basement gedung. Dia baru saja menerima pesan dari Shi Mok. Letnan Han segera menunduk tatkala Jaksa Seo berjalan melewati mobilnya. Mobil Letnan Han membututi mobil Jaksa Seo.

Beralih, Kepala Lee termenung di ruangan lamanya, dia masih belum berkemas untuk pindah ke ruangan barunya. Dia teringat kenangan lama.

Kilas balik. Beberapa tahun lalu. Ketika jabatan Kepala Lee masih rendah. Teman Kepala Lee memperkenalkannya pada seorang pria yang bernama Kim Nam Jin (sekarang Komando Divisi). Sejak saat itu, Kim Nam Jin ini sering mentraktir makanan untuk Kepala Lee tanpa diminta. Mau ngga mau, Kepala Lee mentraktirnya balik sebagai rasa hormat. Suatu ketika, Kepala Lee mupeng (muka pengen) ngeliat dompet kulit yang terpampang di elatase toko. Harganya cukup mahal. Tanpa dia tau, Kim Nam Jin melihat itu.

Kepala Lee bernarasi, “Saat kau bertemu orang baru, orang itu akan menjadi daftar koneksimu. Ada saatnya koneksi itu menjadi sebuah kekuatan, ada pula saatnya koneksi itu justru menjadi sebuah kelemahan untukmu.”

Kembali ke masa kini. Dompet kulit itu kini ada di tangannya. Masih baru. Entah apa salah dompet itu, Kepala Lee merobek dompet itu menjadi dua bagian, lalu membuangnya ke tong sampah. Kepala Lee bergumam, seharusnya dia tak pernah kenal dengan Komando Kim.



Letnan Han bingung melihat Jaksa Seo menyetop mobilnya di depan rumah CEO Park. Letnan Han ikut memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah CEO Park. Jaksa Seo terburu-buru masuk ke rumah CEO Park yang masih dijaga oleh 2 polisi. Salah polisi itu bernama Park Sun Chang. Rekan se-tim Letnan Han yang baru saja direkrut (polisi muda). Letnan Han memintanya tak bersuara, karena dia ingin mengikutinya ke dalam. Sun Chang mengerti. Letnan Han ke samping rumah, dan melihat dari apa yang Jaksa Seo lakukan dari jendela. Dia juga melaporkannya pada Shi Mok.

Sebelum ketahuan, Letnan Han berlari ke mobilnya. Seakan mengerti, Sun Chang sengaja berdiri di depan pintu sambil pura-pura mengikat tali sepatunya untuk menghambat langkah Jaksa Seo. Sampe mobil, Letnan Han menghirup napas lega. Letnan Han bertanya-tanya apa yang dicari Jaksa Seo, sebab saat keluar rumah, Jaksa Seo tak membawa apa-apa. Letnan Han kembali mengikuti mobil Jaksa Seo.



Jaksa Seo menepikan mobilnya di tengah jembatan. Dia mengeluarkan bungkusan hitam dari sakunya dan siap melemparnya ke sungai. Letnan Han segera menghentikannya sambil menodongkan pistol. Jaksa Seo langsung meletakkan bungkusan hitam itu di aspal dengan takut-takut. Letnan Han mengambilnya. Ketika dibuka, ternyata hanya sebungkus rokok dan korek gas. Sigh, Jaksa Seo knew that Letnan Han ngekorin dia.

Jaksa Seo tersenyum sinis, dan beralasan kalau dia hanya ingin berhenti merokok. Letnan Han tak menjawab karena masih kaget (udah ditipu). Jaksa Seo marah karena Letnan Han sudah mencurigainya yang tidak-tidak, apalagi berani mengintainya. Jaksa Seo menoyor kepala dan mendorong bahu Letnan Han kasar. “Bergaul dengan Shi Mok membuatmu semakin berani,” ejek Jaksa Seo.

Kemudian Jaksa Seo mengancam akan melaporkannya pada Kepala Kejaksaan Lee agar Letnan Han dipecat. Letnan Han hanya menunduk sambil meminta maaf, tanpa berniat membalas sikap kasar Jaksa Seo. Setelah puas memaki Letnan Han, Jaksa Seo kembali ke mobil dan melajukan mobilnya sambil memasang senyum kemenangan.



Jaksa Seo membawa mobilnya ke pinggir sungai terpencil yang dikelilingi ilalang kering. Jauh dari keramaian. Dia buru-buru mengeluarkan ponsel (milik Kim Ga Young?). Tiba-tiba terdengar suara ‘oooh’ (suaranya terdengar kaget) ketika Jaksa Seo siap melempar ponsel itu. Jaksa Seo melihat sekitar, tapi dia tak melihat apa-apa yang mencurigakan. Jaksa Seo pun melempar ponsel itu sekuat tenaga, lalu segera pergi dari sana.

Beberapa saat kemudian, Shi Mok tiba di sungai terpencil itu. Shi Mok agak syok melihat Letnan Han dan rekannya JANG GUN sibuk mengais sesuatu (ponsel) menggunakan jaring. Shi Mok mendekati mereka, dan berkata kalau itu akan percuma saja. Letnan Han yakin ponsel pasti ketemu. Shi Mok berkata, “Aku menyuruhmu memergokinya saat menghancurkan buktinya, ponselnya tidak terlalu penting (karena data ponselnya pasti udah dihapus),”


Jang Gun menginterupsi, berniat menceritakan sikap kasar Jaksa Seo. Letnan Han langsung menahannya. Dalam kilas balik singkat, Jang Gun ternyata mengikuti mobil Letnan Han. Dia juga melihat perlakuan kasar Jaksa Seo pada Letnan Han. Jang Gun berusaha menahan emosinya, karena saat itu dia masih dalam penyamaran. Dan Jang Gun inilah yang bersuara ‘oooh’ saat Jaksa Seo hendak melempar ponsel itu. Dia bersembunyi dibalik ilalang tinggi dan tidak bisa mengontrol suaranya saking kagetnya. Untung Jaksa Seo ngga menyadari keberadaan Jang Gun.


Jang Gun menceritakan itu semua pada Shi Mok. Shi Mok merasa bersalah. Sebagai gantinya, dia ingin ikut membantu mencari ponsel itu. Tapi Letnan Han memintanya untuk menjauh, sebab sungainya bau. Letnan Han memberitahu Shi Mok kalau ponsel Kim Ga Young sempat menyala beberapa detik, tapi ponsel itu belum bisa dilacak karena cuma nyala sebentar. Shi Mok tertarik.

Tiba-tiba Letnan Han berteriak senang. Sebuah ponsel tersangkut di jaringnya. Jang Gun segera membersihkan ponsel itu dan memasukkannya ke dalam plastik. (Tapi, ponsel itu keliatan ngga sehancur punya Kim Ga Young. Hm.)

Alih-alih Shi Mok malah melepas sepatunya. Shi Mok berkata bisa saja itu ponsel orang lain. Letnan Han mengeluh melihat sifat Shi Mok yang selalu curigaan. Letnan Han meminta Jang Gun membawa ponsel itu duluan, sebab dia akan membantu Shi Mok. Jang Gun geleng-geleng melihat mereka berdua, Ha.


Melihat Shi Mok yang membungkuk, Letnan Han menepuk punggung Shi Mok tanpa rasa bersalah sambil menyuruhnya untuk tidak membungkuk lagi. Shi Mok bengong, dia keliatan agak risih. Letnan Han sadar, dia bertanya apa Shi Mok marah? Shi Mok menyangkal. Tapi Letnan Han yakin kalau Shi Mok emang marah. Ha.

Letnan Han mengeluarkan buku kecilnya, dan menggambar wajah orang marah. Letnan Han menunjukkannya pada Shi Mok kalau wajahnya seperti itu sekarang, lalu memasukkan robekan kertasnya ke dalam saku Shi Mok. Sebagai hadiah. Tapi Shi Mok sama sekali ngga menanggapi gurauan Letnan Han. Letnan Han menghela napas kesal. Ha.



Shi Mok dikejutkan oleh kedatangan Jaksa Young yang sudah berdiri di depan pintu flatnya. Jaksa Young menutup hidungnya, dan bertanya Shi Mok habis darimana. Shi Mok memintanya pergi. Jaksa Young memohon karena ada sesuatu mendesak. Akhirnya Shi Mok mengizinkan Jaksa Young masuk.


Selesai mandi dan berganti baju, Shi Mok langsung bertanya maksud kedatangan Jaksa Young. Jaksa Young bertanya kenapa Shi Mok membelanya di depan Jaksa Seo? Apa Shi Mok mengkhawatirkannya? Shi Mok menyangkal. Jaksa Young iseng memegang lengan Shi Mok. Shi Mok refleks menarik tangannya. Sensitif bener yak.

“Lihat.. kau bahkan tak suka disentuh. Kau sengaja menghentikanku agar Jaksa Seo tau kalau kaulah yang punya ide untuk menyelinap ke ruangannya?”

Shi Mok mengangguk malas. Kemudian Jaksa Young menebak apa ponsel Kim Ga Young yang Shi Mok cari? Hingga Shi Mok rela basah kuyup mencarinya di sungai, karena Jaksa Seo sudah melemparnya ke sana. Shi Mok tak menjawab. Jaksa Young berkata dia yakin bukan Jaksa Seo pelakunya. Hanya satu orang yang bisa menghukum Kepala Lee, yaitu mertua Lee.

Tapi Shi Mok sama sekali ngga terpengaruh dengan perkataan Jaksa Young. Shi Mok malah menyindir karena Jaksa Young datang ke rumah seorang pria malam-malam. Jaksa Young membalas, toh Shi Mok tak akan berbuat apa-apa padanya, jadi dia tak perlu mengkhawatirkan apapun (karena Shi Mok punya masalah emosi). Shi Mok terdiam sesaat, sepertinya dia agak tersindir. Sebelum pergi, Jaksa Young berkata, “Aku harap kau memang bisa merasakan hal itu (punya ketertarikan pada seseorang). Itu membuatku sedikit senang.” Eh?



Shi Mok masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil ponsel dari saku jasnya, di sana dia melihat robekan kertas dari Letnan Han. Shi Mok melihat gambar itu, lalu berdiri di depan cermin. Sambil memegang robekan itu, Shi Mok berusaha mengikuti ekspresi yang tergambar di kertas itu. Shi Mok memasang wajah marah, tapi Shi Mok bingung karena ekspresinya ngga mirip dengan gambar itu, akhirnya dia memilih untuk tersenyum lebar. HAHA.



Seorang wanita mendekati kasur Kim Ga Young yang sedang lepas dari pengawasan suster. Susternya ada di toilet untuk membasuh wajahnya karena ngantuk berat. Wanita itu melepas oksigen dan membekap wajah Kim Ga Young menggunakan bantal.

Selesai dari toilet, suster itu bergegas memeriksa Kim Ga Young. Suster itu kaget dan langsung memasang oksigennya kembali, dia mengira Kim Ga Young telah mengalami kejang-kejang (padahal itu ulah wanita tadi). (Dari belakang, kayaknya itu Istri Kepala Lee deh)



Pemimpin Tim dan beberapa polisi mengejar Park Kyung Wan (putra CEO Park). Park Kyung Wan berhasil ditangkap dan dibawa ke Kantor Polisi. Penangkapan itu tak luput dari berhatian Letnan Han. Kyung Wan dituduh sebagai pembunuh ayahnya dan Kim Ga Young. Dengan alasan Kyung Wan ketahuan memberi kesaksian palsu dan menghapus foto-foto Kim Ga Young.

Jaksa Seo bicara enam mata dengan Kepala Lee dan Kepala Kejaksaan Kim. Jadi, Jaksa Seo lah yang menjadikan Kyung Wan kambing hitam. Jaksa Seo memberitahu semua informasi yang dia tahu. Secara kebetulan Park Kyung Wan tak ada di barak militer saat pembunuhan terjadi.

Kyung Wan adalah pelatih Golf pribadi untuk Kim Nam Jin. Pasti waktu itu Kyung Wan sedang keluar bersama Komando Kim. Tapi tak ada yang melihatnya pada jam segitu, karena Kyung Wan sedang tidur di dalam mobil dengan merendahkan joknya sambil menunggu Komando Kim yang sedang makan-makan dengan kenalannya, makanya Kyung Wan ngga kelihatan dari luar. (peserta Wamil ngga boleh jadi pesuruh pribadi atasannya)

Kepala Lee tidak begitu yakin dengan rencana Jaksa Seo. Sedangkan Kepala Kejaksaan berpendapat sebaliknya, dia berkata itu ide yang bagus. Mereka tinggal mencari data pendukungnya. Kemudian Jaksa Seo mengeluarkan ponsel dari sakunya, dan berkata, itulah senjatanya.



Jaksa Seo berdiri di depan pers. Lalu Jaksa Seo memutar sebuah rekaman pembicaraan di depan publik. Dari rekaman itu terdengar suara Komando yang mengaku bahwa dia tidak melihat Kyung Wan saat pembunuhan itu terjadi. Akibat rekaman itu, kebobrokan kemiliteran Korea terungkap. Sang Komando menjadikan salah satu peserta wamil menjadi pesuruhnya, padahal peserta itu harusnya mengabdi untuk negara.

Kepala Kejaksaan pura-pura marah pada Pemimpin Tim. Dia tak menyangka Pemimpin Tim akan tertipu oleh kesaksian palsu Kyung Wan. Pemimpin menunduk sambil meminta maaf. Dia berjanji akan membuat Kyung Wan mengaku bagaimanapun caranya.


Jaksa Seo menginterogasi Kyung Wan. Kyung Wan hanya menjawab sekenanya dengan nada malas. Entah dia jujur atau bohong. Yang jelas, Kyung Wan menyangkal semua tuduhan pembunuhan. Tapi Jaksa Seo terus mengompori Kyung Wan, hingga Kyung Wan benar-benar terpancing dan menggeprak meja karena kesal. Kyung Wan keukeuh bukan dia pelakunya. Jaksa Seo tersenyum kecil. Shi Mok ikut mengawasi interogasi itu tanpa sepengetahuan Jaksa Seo. Selang beberapa menit, Shi Mok menelepon Letnan Han untuk meminta bantuan.



Sedangkan di tempat lain, Komando Kim memenuhi panggilan kejaksaan. Reputasinya sedang dipertaruhkan. Kepala Lee mengingatkan kalau pernyataan Komando Kim akan menentukan masa depan Kyung Wan. Kepala Lee bertanya apa Jaksa Seo sudah mengancamnya? Komando Kim menyangkal dengan tegas bahwa dia tidak diancam.

Kilas balik. Belum lama ini, Jaksa Seo menemui Komando Kim. Jaksa Seo menyudutkan Komando Kim dengan berkata kalau Komando Kim telah melanggar peraturan dan menghambat penyelidikan kasus pembunuhan. Mungkin karena ngga mau nyari masalah dengan kejaksaan, akhirnya Komando Kim menceritakannya sesuai dengan isi rekaman yang Jaksa Seo putar di depan pers. Komando Kim tak sadar kalau Jaksa Seo merekam perkataanya.

Kembali ke masa kini. Komando Kim mengaku kalau dia sudah dibodohi Jaksa Seo. Bukannya memberi pernyataan, Komando Kim malah menasehati Kepala Lee untuk waspada pada Jaksa Seo. Kepala Lee tak bereaksi, dia melepas Komando Kim.



Di tempat lain, Letnan Han berusaha menemui istri Komando Kim. Berkat kecerdikannya, Letnan Han berhasil menemui Istri Komando Kim. Itulah bantuan yang Shi Mok minta. Pasalnya, Istri Komando Kim ini selalu menghindar, bahkan tak pernah mengangkat telepon darinya (untuk dimintai keterangan). Setelah bertemu, Letnan Han segera menelepon Shi Mok. Letnan Han memberitahu bahwa malam saat Kim Ga Young diculik, Istri Komando Kim ikut ke lapangan golf bersama Kyung Wan (artinya Kyung Wan tidak menculik Kim Ga Young). Shi Mok langsung memutus panggilannya ketika Jaksa Young masuk  ke ruangannya.



Kepala Lee memerintahkan agar Jaksa Seo melepas Komando Kim. Jaksa Seo bersikeras dengan terlibatnya Komando Kim, rencana mereka akan berhasil (untuk melimpahkan kesalahan pada Kyung Wan). Kepala Lee tak bereaksi, tapi dia terlihat ragu.

Jaksa Seo tak sengaja satu lift dengan Jaksa Young. Jaksa Seo menuntut penjelasan atas penyelinapan yang dilakukan Jaksa Young bersama Shi Mok kemarin. Bukannya menjawab, Jaksa Young buru-buru keluar saat pintu lift terbuka. Jaksa Seo mengikutinya. Jaksa Young emosi, “Kau harus tanyakan sendiri pada Shi Mok. Kenapa dia masuk ke ruanganmu dan kenapa dia harus masuk ke sungai yang bau itu,”

Ups. Melihat reaksi Jaksa Seo yang terlihat kaget, Jaksa Young tau kalau dia telah keceplosan membocorkan sesuatu yang penting. Jaksa Young langsung memberi pesan pada seseorang setelah Jaksa Seo bergegas pergi.



Di basement, Jaksa Seo menelepon Sersan Kim. Dia bertanya, “Kau bilang ponsel Kim Ga Young menyala, jam berapa itu? Dan pukul berapa pemeriksaan Kyung Wan selesai?”

“Ponsel itu menyala sekitar 1.30 siang. Sedangkan Kyung Wan selesai jam 1 siang. Apa itu artinya pelaku itu menyalakannya setelah Kyung Wan menjalankan pemeriksaan? Tapi semua barang-barang Kyung Wan ada pada kami. Anehnya tak ada ponsel Kim Ga Young di sini,” jawab Sersan Kim seakan tersadar ada yang tak beres.

Jaksa Seo berkata dia yakin kalau Kyung Wan menyembunyikannya di suatu tempat, “Di rumah misalnya. Kau tau kan rumah itu tidak diperiksa lagi? Coba kau ke sana, aku juga akan kesana.” Sersan Kim mengiyakan.



Setelah mengakhiri panggilan, Sersan Kim masuk ke sebuah ruangan. Di sana terlihat seorang pria yang sedang dipukul habis-habisan oleh polisi. Adalah Kyung Wan. Dia dipaksa mengaku kalau dialah pembunuhnya. Tapi Kyung Wan tetap menjawab ‘tidak’.


Jaksa Seo tiba di rumah CEO Park. Dia mengeluarkan sesuatu. Ponsel Kim Ga Young! Dia berencana menyimpan ponsel itu dibawah kasur. Tapi... jeng jeng. Seseorang muncul dari balik lemari. Ya, dia Letnan Han. Sedetik kemudian Shi Mok muncul dari balik pintu sambil merekam adegan dramatis itu dengan ponselnya. Ha.

Jaksa Seo cuma bengong. Letnan Han merampas ponsel Kim Ga Young, lalu memborgol Jaksa Seo. Jaksa Seo memberontak, “Bukan. Bukan aku! Kepala Lee lah pelakunya! Aku yakin itu.”



BERSAMBUNG

Komentar :

Ini istrinya Kepala Lee agak mencurigakan. I’m watching you, madam!

Kayaknya Jaksa Young sengaja emosi deh, trus pura-pura keceplosan. Biar bikin Jaksa Seo gelisah (?). Shi Mok yang nyuruh Jaksa Young begitu. Shi Mok udah tau kalo ponsel yang ditemuin di sungai itu bukan milik Kim Ga Young, makanya Shi Mok berencana bikin Jaksa Seo buat ‘memperlihatkan’ ponsel Ga Young yang asli. Dan itu berhasil, Shi Mok dan Letnan Han memergoki Jaksa Seo yang mau ngumpetin ponsel Ga Young.   

Maksud dari pernyaataan Komando Kim bisa menentukan nasib Kyung Wan adalah, seandainya Komando Kim ngaku ngga liat Kyung Wan bersamanya, itu bakal ngebuktiin kalau Kyung Wan ada di tempat lain. Di waktu itulah ayahnya (CEO Park) terbunuh. Orang awam akan nganggep Kyung Wan pergi ke rumah ayahnya dan ngebunuh ayahnya. Kenapa? Karena Kyung Wan marah gara-gara ayahnya udah nyeret perempuan yang ditaksinya (Kim Ga Young) menjadi wanita penghibur untuk memuluskan bisnis pribadinya.

Skenario yang dibikin Jaksa Seo itu emang masuk akal. Tapi Kyung Wan sendiri menyangkal semua tuduhan itu. Aslinya kita belum dikasihtau siapa pembunuh sebenarnya.

6 komentar:

  1. Miminnn,,, Di tunggu ya kelanjutannya,,, Walaupun udah nonton ga sreg klu belum baca sinopsinya dari mimin,, Fighting!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sori, baru sempet ngelanjutin, episod terbaru sudah diposting ya

      Hapus
  2. long time not see min, ni baru ep 7 min?? udah nonton tapi selalu pengen baca sipnop dari sini, ya udah semangat min huhu, d tunggu kelamjutam nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. I was here, Nine 9. Monggo dicek episod selanjutnyaa

      Hapus
  3. Lebih seru baca sinopsis ini btw daripada filmnya�� dan lebih cepat jg. Thanks yang udab buat sinopsis inii

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, samasamaa. enjoy your reading :)

      Hapus