Sabtu, 24 Juni 2017

Sinopsis Secret Forest Episode 3

Jangan langsung percaya apapun yang Anda dengar. Jangan langsung percaya apapun yang Anda lihat. Itulah Shi Mok sekarang. Begitu banyak hal janggal. Shi Mok dipenuhi setumpuk pertanyaan di kepalanya. Tidak seorang pun yang bisa dia percaya. Setiap langkah yang dia ambil sama-sama berisiko. Letnan Han senantiasa membantunya.


Episode 3

Melanjutkan episode lalu, secara tidak langsung Shi Mok menantang Deputi Lee dengan mengaku kalau dia akan mengikuti jejak Deputi Lee (yg haus jabatan). Deputi Lee memperingati Shi Mok kalau dia mengkhianatinya, maka Shi Mok akan menerima akibatnya, seperti yang terjadi pada CEO Park. Shi Mok sama sekali tidak takut dengan ancaman itu, Shi Mok bertekad menemukan pembunuh yang sebenarnya. Deputi Lee diam sejenak, lalu berkata, “Kau yg memulai, kau juga yg harus mengakhirinya.”


Ketika Shi Mok sudah keluar dari ruangannya, Deputi Lee dengan kasar menggeser bukunya hingga terpental ke dinding, dia terlihat sangat marah.

Shi Mok tak sengaja melihat Jaksa Young yang sedang minum sendirian di pojangmacha. Shi Mok sempat mendengar saat Jaksa Young berbicara pada ibunya tentang ayahnya Jaksa Young yang syok. Shi Mok memutuskan untuk menemani Jaksa Young sebentar. Jaksa Young terlihat kacau.


Jaksa Young menebak kalau Shi Mok menyerahkan kasus Tuan Kang (teknisi yg tuduh membunuh CEO Park, hingga akhirnya bunuh diri) padanya atas perintah Deputi Lee agar bisa melimpahkan semua kesalahan padanya. Shi Mok menyangkal tuduhan itu sambil berkomentar kalau Jaksa Young sangatlah delusional dan paranoid. Shi Mok mengaku kalau dia sendiri belum sepenuhnya paham pada kasus itu.

Jaksa Young diam sejenak. Kemudian Jaksa Young curhat tentang ayahnya. Ayahnya adalah mantan menteri hukum. Ayahnya masih terpaku pada suatu kasus yang terjadi 3 tahun yang lalu, dan selama itulah ayahnya mengurung diri di kamar. Jaksa Young bilang saat dia pertama kali lulus ujian, dia membuka kamar ayahnya. Dia terkejut karena kamarnya sangat kacau, barang-barang berserakan, dan tembok penuh coretan.


Karena itulah, Jaksa Young mengaku kalau dia ngga pernah bilang kalau dia ditempatkan di Kejaksaan Seoul Timur, dimana tempat Deputi Lee berada. Jaksa Young bilang kalau ayahnya sangat membenci Deputi Lee. Jaksa Young berharap kalau pembunuhnya segera ditangkap, agar dia bisa selamat. Jaksa Young mengeluh kenapa si pembunuh itu pake segala ninggalin jejak segala.


Di dalam flatnya yang gelap, Shi Mok sedang merenung. Keesokan harinya, Shi Mok berada di suatu acara televisi yang disiarkan secara langsung. Shi Mok mengklarifikasi kasus salah tangkap Tuan Kang. Shi Mok berkata kalau pengakuan Tuan Kang-lah yang membuat dirinya ditahan.

Kemudian Shi Mok menunjukkan tayangan ulang rekaman blackbox yang dia punya. Shi Mok memberitahu saat Tuan Kang di depan gerbang, si korban (yg mengintip di jendela) masih hidup. Lalu Shi Mok mengatakan bahwa darah korban telah ditemukan di tempat yang sama sekali tidak dilewati Tuan Kang. Itu artinya Tuan Kang telah mengatakan kebenaran kalau sebenarnya ada pembunuh di TKP. Di depan semua orang, Shi Mok menyimpulkan bahwa orang yang mengintip itulah pembunuh sebenarnya. Semua orang heboh mendengar itu.

Shi Mok menjelaskan kalau si pembunuh pura-pura bertindak sebagai CEO Park sambil mengarahkan mengarahkan wajahnya ke blackbox, agar bisa mengecoh semua orang. Shi Mok meminta maaf karena tidak mendengarkan Tuan Kang saat Tuan Kang bilang kalau rekaman itu sudah dimanipulasi. Shi Mok mengaku salah dan bersedia untuk mempertanggung-jawabkan semuanya. Jaksa Young dan keluarganya juga menonton tayangan itu dari ruang rawat ayahnya Jaksa Young.

Shi Mok berjanji akan membawa pembunuhnya dalam 2 bulan, bahkan Shi Mok siap melepas profesinya jika dia tidak berhasil mengungkapkan pembunuhnya. Semua orang bertepuk tangan melihat keberanian Shi Mok.



Sedangkan di kantor polisi pusat, ada seorang polisi muda yang baru saja bergabung. Dia terlihat bersemangat. Biasa disebut petugas Park. Letnan Han hanya duduk di kursinya, tanpa ada niat untuk berkenalan. Tiba-tiba Shi Mok mengagetkannya dari belakang, kebetulan saat itu Letnan Han sedang membaca berita Hwang Shi Mok yang berjanji akan menangkap pembunuhnya dalam waktu 2 bulan.

Letnan Han dengan senang hati mengantar Shi Mok ke sauna dimana ibu CEO Park berada. Ketika mereka berjalan keluar, Kepala Kepolisian Kim menatap punggung mereka dengan tatapan tidak suka.

Di mobil, Letnan Han iseng memparodikan perkataan Shi Mok saat di acara teve tadi. Ha. Letnan Han mengeluh karena cara bicara Shi Mok sangat kaku. Shi Mok berkata kalau dia sengaja tampil di teve untuk memanfaatkan sentimen publik agar investigasi tetap dilanjutkan.

Letnan Han menghela napas, dan menyarankan agar mengungkapkan identitas CEO Park saja, agar lebih efisien. Shi Mok menembak balik, lalu kenapa kepolisian tidak mengungkapkan perihal Sersan Kim yang telah menyembunyikan bukti penting? Letnan Han berkata kalau itu diungkapkan, maka itu akan berdampak pada kehidupan keluarga Sersan Kim (mungkin akan dikucilkan).



Shi Mok bercerita kalau dulu ada whistle-blower (pengungkap aib) yang membocorkan korupsi antara Inspektur Jendral bersama Deputi Jaksa. Mereka memang terbukti bersalah, tapi beberapa saat kemudian, mereka mengajukan banding (pertimbangan ulang ke Pengadilan Tinggi). Hasilnya, kedua koruptor itu dinyatakan tidak bersalah. Sekarang mereka berdua menjalani kehidupan masing-masing dengan bergelimang harta.

Letnan Han berdecak gemas. Dia juga curhat kalau ada sunbae nya yang melakukan tindakan prostitusi, tapi setelah mengajukan banding, sunbae-nya kembali mendapatkan pekerjaannya. Tapi Letnan Han yakin kalau ada seseorang yang jujur dan dapat dipercaya.

“CEO Park pernah bilang padaku, hanya ada 2 orang yang pernah menolak tawarannya (suap),” kata Shi Mok. Letnan Han bertanya apakah Shi Mok salah satu orang itu? Shi Mok tak menjawab. Kemudian Letnan Han mengeluarkan beberapa permen dari sakunya dan meletakkannya di dasbor mobil, “Ayo kita menangkap pembunuh itu, supaya orang anti korupsi setidaknya tetap hidup.”


Ketika sampai di sauna, ketiganya menjauh dari keramaian, dan memilih tangga sebagai tempat obrolan. Tanpa basa-basi Shi Mok menanyakan peristiwa yang CEO Park alami sehari sebelum tragedi itu terjadi.

Ibu CEO Park bercerita kalau putranya sempat menerima telepon, dia mendengar anaknya sangat emosi ketika menjawab panggilan itu. Ibu CEO Park mengaku dia tak mendengar dengan jelas apa yang anaknya bicarakan dan tidak tahu dengan siapa anaknya berbicara saat itu. Kemudian CEO Park keluar rumah sebentar setelah menutup telepon itu, dan kembali ke rumah dengan wajah penuh amarah. “Aku yakin kalau itu bukan penagih hutang karena putraku pergi menemuinya,” jelas Ibu CEO Park. (CEO Park bangkrut, dia terlilit hutang, makanya CEO Park hanya diam di rumah)



Shi Mok sibuk memperhatikan gerak-gerik Ibu CEO Park yang terlihat mencurigakan. Kemudian Shi Mok bertanya, apakah Ibu CEO Park benar-benar sedih karena anaknya meninggal? Shi Mok menuduh dengan kematian itu, Ibu CEO Park terbebas dari hutang dan bisa mempertahankan rumahnya. Letnan Han marah mendengar Shi Mok malah menuduh Ibu CEO Park seperti itu. Shi Mok kembali bertanya, ada dimana Ibu CEO Park saat kejadian itu terjadi? Ibu CEO Park masih menanggapi Shi Mok dengan nada lembut, tanpa ada nada marah atau semacamnya.



Ketika di luar sauna, Letnan Han mengatakan kekecewaannya pada sikap Shi Mok. Shi Mok mengingatkan kalau akhir-akhir ini banyak kasus dimana satu keluarga membunuh anggota keluarganya sendiri. Letnan Han menghela napas melihat Shi Mok yang bersikeras, “CEO Park bukanlah satu-satunya korban, tapi setiap orang yang terluka akibat insiden itu juga disebut korban.”

Shi Mok tak terpengaruh, dia masih keukeuh sama fakta yang mencatat bahwa rasio pembunuhan antar-anggota keluarga sangatlah tinggi. Lalu Shi Mok juga berkata tidak semua orang akan terluka atas kepergian anggota keluarganya. Setelah mengatakan itu, Shi Mok pergi dan melajukan mobilnya. Letnan Han tak habis pikir dengan pemikiran Shi Mok.



Letnan Han kembali ke sauna dan menemani Ibu CEO Park makan siang. Letnan Han mengeluh kalau dia rindu masakan rumah. Ibu CEO Park menatap Letnan Han.

Jeng jeng. Akhirnya, Letnan Han mengajak Ibu CEO Park ke rumahnya yang tidak terlalu besar. Rumahnya berantakan, tidak seperti kamar wanita. Ha. Semua dindingnya dipenuhi oleh sketsa buatannya. Kamarnya malah terlihat seperti kamar anak-anak yang gemar menggambar. Letnan Han buru-buru merapihkan semua barangnya dan mempersilahkan Ibu CEO Park duduk. Kemudian Letnan Han pamit untuk kembali bekerja, dan mengatakan kalau dia akan pulang terlambat.



Shi Mok kembali ke kantornya. Ada banyak karangan bunga di ruangannya, sebagai bentuk kepercayaan masyarakat padanya. Di sisi lain, Shi Mok dimarahi habis-habisan (karena mencuri start) oleh atasannya. Shi Mok sama sekali tidak memperdulikan semua hal itu, dia lebih fokus pada pekerjaannya. Beberapa teman kerjanya menjauhinya. Jaksa Young tak enak hati, lalu dia mendekati Shi Mok.

Jaksa Young berterima kasih pada Shi Mok karena telah bersedia bertanggungjawab. Jaksa Young berkata dia tahu kalau ayahnya yang telah mewawancarai Shi Mok saat tes masuk dulu. Ayahnya menyukai jawaban Shi Mok dulu. Alih-alih Shi Mok berpesan pada Jaksa Young agar tidak dekat-dekat dengannya karena Jaksa Young akan dikucilkan juga nanti. Pembicaraan mereka terhenti ketika ponsel Shi Mok berdering.



Lewat telepon, Letnan Han menyebutkan sederet angka. Itu adalah nomor yang CEO Park hubungi sehari sebelum dia tewas. Nomor itu berasal dari pusat layanan informasi kantor Shi Mok. “Sebelum mencurigai keluarganya (Ibu CEO Park), sebaiknya kau memperhatikan dulu orang-orang di sekitarmu.” Klik. Belum sempat Shi Mok bertanya lebih lanjut, Letnan Han mengakhiri panggilannya. HA.


Jaksa Young yang ikut menyimak, terlihat sangat terkejut. Dia mengikuti Shi Mok yang sedang menuju pusat pelayanan. Ketika sampai di sana, Shi Mok memperhatikan telepon yang digunakan orang itu (yg kemungkinan tersangka). Jaksa Young menunjukan sebuah CCTV yang terletak tak jauh dari meja telepon. Sayangnya, rekaman itu sudah dihapus beberapa hari yang lalu. (rekaman CCTV akan dihapus tiap 2 bulan sekali).


Jaksa Young menawarkan diri untuk mencari rekaman lain, karena ada beberapa CCTV di lorong kantor, mungkin akan ada petunjuk di sana. Shi Mok tidak menanggapi. Jaksa Young menghentikan langkah Shi Mok, “Apakah orang yang menemui CEO Park terakhir kali adalah pelakunya?”

“Dia bukan pelaku, tapi tersangka. Lihatlah bagaimana dia menyembunyikan identitasnya dengan menggunakan telepon kantor,” jawab Shi Mok, tanpa menyadari kalau perkataan Jaksa ada yang janggal. (Jaksa Young bilang ‘orang yg menemui CEO Park terakhir kali’, padahal Shi Mok ngga pernah bilang begitu, Shi Mok cuma bilang ‘CEO Park menerima ancaman melalui telepon sehari sebelum dia tewas’. Jaksa Young mencurigakan yak.)


Di dalam mobil, Shi Mok memutar rekaman CCTV yang terletak tak jauh dari rumah CEO Park. Di dalam CCTV itu terlihat CEO Park yang lewat dari arah rumahnya, lalu kembali menuju rumahnya setelah 32 menit. Shi Mok memutar rekaman itu berulang kali, lalu Shi Mok melihat CEO Park yang membuang gelas bekas kopi ke tumpukan sampah yang berserakan. Dari gelas itu terdapat gambar kelinci. Shi Mok segera mencari kopi-kelinci di internet.



Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Shi Mok sudah tiba di depan rumah CEO Park. Kemudian dia berjalan lurus sambil menyesuaikan dengan durasi saat CEO Park keluar. Shi Mok harus berjalan sejauh mungkin hingga 16 menit berakhir (pergi+pulang = 32 menit). Itulah jarak terjauh yang mungkin CEO Park tempuh.

Tibalah Shi Mok di tengah jalan, entah jalan apa. Shi Mok sendiri kelihatan bahwa dia baru pertama kali ke sana. Kemudian Shi Mok membuka petanya dan mencari semua kafe yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Shi Mok mendatangi kafe itu satu-persatu. Usahanya membuahkan hasil ketika Shi Mok tak sengaja bertemu dengan orang yang sedang memegang minuman dengan gelas yang sama seperti CEO Park buang (yg ada gambar kelincinya).



Shi Mok pergi ke kafe itu, tapi Shi Mok tak berhasil mendapatkan rekaman CCTV karena rekaman CCTV yang terpasang di kafe itu akan dihapus tiap 15 hari. Sebagai gantinya, pemilik toko memberitahu nama karyawannya yang bekerja malam itu.

Mertua Deputi Lee (Kepala Kejaksaan?) menonton ulang acara Shi Mok, dia mengungkapkan kekecewaannya pada Deputi Lee karena Deputi Lee tertinggal satu langkah oleh Shi Mok. Deputi meminta maaf sambil berjanji akan mengatasi semuanya secepat mungkin. Deputi Lee berencana menyeret Shi Mok ke audit internal (pengujian ulang karena telah melanggar prosedur. Shi Mok melanggar karena dia tampil di teve, tanpa meminta izin atasannya).

Mertuanya berkata itu sama aja menggali kuburan sendiri, “Dia menyerang duluan karena dia tahu kondisinya. Hanya ada satu cara, kambing hitam. Buat dia sebagai pelakunya dan sebarkan bukti-bukti. Pastikan Shi Mok mendengusnya. Kalau si kambing hitam merasa terpojok, dia akan bunuh diri. Semuanya akan berakhir. Masyarakat takkan memaafkan Shi Mok untuk kedua kalinya untuk kesalahan yang sama (salah tangkap).”



Mertuanya meminta Deputi Lee untuk tidak melakukan kesalahan seperti yang terjadi oleh Young Il Jae (ayahnya Jaksa Young). Deputi Lee tersentak mendengar nama itu disebut lagi. Sepulang dari kantor mertuanya, Deputi Lee pergi ke rumah sakit dimana Young Il Jae dirawat. Dia hanya berdiri di luar, dia melihat Young Il Jae yang sedang tertawa dengan Jaksa Young.

Deputi Lee minum bersama Kepala Kepolisian Kim. Sepertinya mereka adalah teman lama, karena Kepala Kepolisian Kim bisa menebak kalau Deputi Lee habis dimarahi mertuanya. Deputi Lee mengeluh bagaimana cara menjatuhkan Shi Mok. Kemudian Kepala Kepolisian Kim mengatakan kalau seorang Letnan wanita di tempatnya (Letnan Han) membantu Shi Mok untuk menyelidiki kasus itu. Deputi Lee terkejut mendengar itu, setaunya Shi Mok itu selalu bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain.


Keesokan harinya, semua orang heboh ketika menonton sebuah pernyataan seseorang yang dibacakan oleh pembawa acara televisi, di sana tertulis orang itu mengaku telah menerima kekerasan dari Shi Mok saat masa sekolah dulu. Penyakit mental Shi Mok juga terungkap. Sekarang banyak orang yang menganggapnya sebagai psycho. Karena acara itu, beberapa orang juga mengaku mengalami hal yang sama (ngalamin kekerasan). Citra Shi Mok seketika tercoreng.

Shi Mok sebenernya ngga terlalu terpengaruh, tapi media-media itu mendatangi rumah ibunya. Itu sangat mengganggunya. Di tempat lain, Letnan Han juga menonton tayangan itu. Letnan Han tentu ngga percaya, tapi pikiran kembali saat dia melihat Shi Mok bermain pisau sendirian saat di rumah CEO Park dulu. (Shi Mok pernah pura-pura bertindak sebagai pembunuh saat di rumah CEO Park. Semoga Letnan Han ngga salah paham, hm.)


Shi Mok mengunjungi rumah ibunya. Ibunya berkata seharusnya Shi Mok hidup aja dengan tenang, kenapa harus muncul di teve segala. Ibu Shi Mok keliatannya malu punya anak seperti Shi Mok, dia berbicara tanpa menatap mata Shi Mok, bahkan ibunya memalingkan wajahnya. Shi Mok menyadari hal itu, dia pun berdiri. Shi Mok pamit, “Jika mereka datang lagi, bilang saja kau tak mengenalku, lalu teleponlah polisi,” (kok sedih ya kata-katanya)

Ibu Shi Mok ikut berdiri, tapi masih tak menatap mata Shi Mok. Dia bertanya, apa telinga Shi Mok masih sakit? Shi Mok menggeleng. Ibu Shi Mok bertanya lagi, apa Shi Mok sudah menemui ayahnya? Bahkan Shi Mok baru tau kalau ayahnya sudah kembali. Shi Mok meminta ibunya masuk karena suaminya telah menunggu. Ketika Shi Mok sudah menjauh, dia masih bisa mendengar, suami ibunya marah-marah karena ibunya telah menemui seorang psycho. (Hei, kata-katamu sangat kasar, Pak!)


Ketika Shi Mok sampai di flat-nya, lengkingan keras terngiang di telinganya (efek dr operasi saraf dulu). Shi Mok tak tahan, dia menutup telinganya kuat-kuat, hingga pingsan. Beberapa saat kemudian, Shi Mok terbangun. Lengkingan itu hilang. Di tempat lain, Letnan Han minum ditemani Ibu CEO Park, pikirannya dipenuhi Shi Mok. Dia bingung.


Seorang lelaki menulis pernyataan di internet, yang intinya kalau dia termasuk salah satu korban kekerasan Shi Mok. Laki-laki ini sempat muncul di episode awal, dan dia memang teman sekelas Shi Mok. Dia sempat menyapa Shi Mok layaknya seorang teman. Kalau saya ngga salah inget, dia punya firma kecil. Saya rasa dia iri sama Shi Mok, makanya dia menulis itu.


Jaksa Seo kembali membujuk Deputi Lee untuk memecat Shi Mok. Tentu Deputi Lee menolak (dia inget saran mertuanya). Deputi Lee beralasan Shi Mok akan semakin kuat, jika terus ditekan (diserang). Kemudian Deputi Lee menyinggung kasus Jaksa Seo. Mengenai prostitusi. Deputi Lee meminta berkas kasus itu, biar dia saja yang mengurusnya. Tapi Jaksa Seo menolaknya, dia berjanji segera membereskan kasus itu. Pembicaraan mereka terhenti ketika Shi Mok masuk.

Deputi Lee meminta Jaksa Seo memanggil Manajer Kang untuk menemuinya dalam 15 menit. Jaksa Seo keluar ruangan dengan terpaksa. Jaksa Seo keluar, lalu masuk ke ruang rapat yang letaknya tak jauh dari ruangan Deputi Lee.


Deputi Lee menyindir Shi Mok yang dia pikir sedang terpuruk. Bahkan menghubung-hubungan Shi Mok dengan Mr. Hyde & Dr. Jekyll (punya kepribadian ganda). Tapi Shi Mok bisa menanggapinya dengan santai, dia sama sekali ngga tersinggung.

Deputi Lee mengubah topik pembicaraan, Deputi Lee berkata kalau dia telah membatalkan audit internal. Shi Mok curiga, dan bertanya mengapa Deputi memotong tangan kanannya (membuang Jaksa Seo). Deputi Lee mengaku kalau dia memerlukan tangan kanan baru, kebetulan Shi Mok pernah bilang kalau dia ingin mengikuti jejak dirinya (yg haus jabatan). Kemudian Deputi Lee menyuruh Shi Mok melakukan penyelidikan dengan benar.



Shi Mok keluar ruangan, dan dia melihat Jaksa Seo yang baru saja keluar dari ruang rapat. Shi Mok masuk ke sana. Dan jeng jeng, ternyata ruangan itu bersebelahan dengan ruangan Deputi Lee. Shi Mok bisa mendengar dengan jelas suara Deputi Lee yang sedang menerima telepon. Shi Mok sadar kalau Jaksa Seo mendengar semua pembicaraannya dengan Deputi Lee.


Jaksa Seo buru-buru ke ruang kerjanya, dia mengambil berkas wanita seksi (yg pernah Deputi Lee bawa masuk ke kamarnya) dari balik mejanya. Jaksa Seo hanya menyembunyikan berkas itu. Lalu dia mengambil foto wanita seksi itu, dan bergegas pergi.


Shi Mok mengunjungi kafe kopi-kelinci lagi. Shi Mok bertemu dengan karyawan yang bekerja saat CEO Park ke sana malam itu. Shi Mok menunjukkan rekaman CCTV, karyawan itu masih mengingat CEO Park. “Dia sangat marah saat itu, makanya aku masih mengingatnya,” jelas karyawan itu.

Kemudian Shi Mok menunjukkan foto semua pegawai yang bekerja di instansinya. Lalu menunjuk foto Deputi Lee sambil bertanya, apa CEO Park bertemu orang itu? Karyawan itu menggeleng. Shi Mok beralih ke foto Jaksa Seo, karyawan itu kembali menggeleng. Lalu karyawan itu melihat wajah seseorang di foto itu, yang dia yakini kalau itu orang yang Shi Mok cari. Dia menunjuk wajah Jaksa Young.



Shi Mok terkejut. Lalu dia menoleh ke belakang, dan membayangkan ketika CEO Park bertemu dengan Jaksa Young.



BERSAMBUNG

Komentar :

Jaksa Young adalah orang yg menemui CEO Park sehari sebelum tragedi itu terjadi, tapi menurut CCTV, orang yang terekam saat itu adalah laki-laki, bukan perempuan. Saya cuma berharap karyawan itu ngomong yg sejujurnya, tanpa bersekongkol dengan pihak2 tertentu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar