Jumat, 02 Juni 2017

SINOPSIS Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 30 (Tamat)

NOW PLAYING : If Spring Comes - Ahn Ye-eun (repeated)

Mari ucapkan selamat tinggal untuk drama super kece yang satu ini, huhu. Drama ini emang ngga sempurna, tapi semuanya terasa sempurna. Dan tibalah kita pada akhir cerita (Bagian 2) drama Rebel: Thief Who Stole the People! Di tutup dengan rating 14,4%


Rebel: Thief Who Stole the People : Episode Terakhir

Pangeran Pyungsung dengan penuh percaya diri meminta agar Raja menyerahkan stempel kerajaan padanya. Raja berdiri dan terlihat sangat marah. Raja tak menyangka kalau orang yang sudah dia anggap teman malah mengkhianatinya.

Noksu berdiri seraya membenarkan pakaian Raja yang sebenarnya masih terlihat rapi.  Noksu dengan mata berkaca-kaca berkata pelan pada Raja agar dia jangan bersifat seperti Raja sebelumnya, tapi harus turun seperti Raja sebelumnya (jgn keras kepala seperti mendiang Raja, tapi turunlah dg terhormat).

Raja menatap Noksu bingung. Noksu berkata lagi, "Aku juga akan mati sebagai wanitamu,"



Kemudian Noksu memberikan penghormatan terakhir untuk Raja. Ketika Noksu menunduk, tangisnya pecah. Raja terharu melihat itu, melihat rasa peduli Noksu kepada dirinya. Lalu Noksu dibawa paksa oleh pasukan Pangeran.

Sebelum pergi, Noksu dengan berani meludahi Pangeran sambil mengutuk sikap Pangeran yang tak tahu terima kasih itu. Pangeran langsung mengeluarkan pedangnya, tapi Raja langsung berteriak memakinya, Pangeran pun memasukan kembali pedangnya. Kemudian Raja berniat mengejar Noksu yang dibawa paksa, tapi pasukan Pangeran menahannya. Raja menangis sambil memanggil nama Noksu berulang kali.



Ja Won melaporkan kalau para pejabat sudah memilih Raja mengganti untuknya (Pangeran Jin Sung), dan itu sudah mendapat persetujuan dari Ratu Dowager. Dengan berat hati, Ja Won berkata agar Raja segera melepas jubah kebesarannya. Raja tak sanggup berkata-kata.

Raja keluar, petugas sudah menunggunya. Raja terkejut saat tau kalau Ja Won tak ikut bersamanya. Ja Won hanya meminta maaf padanya. Di tempat lain, Gil Dong menemui Noksu dan berniat melepaskan Noksu sebagai balasan karena Noksu pernah menyelamatkannya dulu.

Dengan mantap Noksu menolak tawaran itu dan berkata kalau itulah jalan yang dia pilih, dia tak akan keliru atas keputusannya (milih Raja dan menerima semua konsekuensinya). Noksu menegaskan kalau Gil Dong tak punya hutang apapun, justru dialah yang harus berterima kasih, "Di hari kau menyebutku seniman, saat itulah aku berhenti menjadi seorang gisaeng. Dan hidup menjadi seorang seniman." Setelah mengatakan itu, Noksu pun pergi. Salut sama Noksu!



Noksu dan Wolhamae berjalan bersama beberapa petugas mengelilingi desa. Di tengah jalan, Noksu bernyanyi untuk meluapkan perasaannya saat itu, hingga dia sendiri menangis. Para warga memakinya, bahkan melemparinya dengan batu yang banyak.



Yeonsangun (bukan lagi Raja) juga diarak keliling desa. Para warga mengejek dan mengutuknya. Tapi ada satu orang kakek tua yang menangis sambil meminta agar Yeonsangun tidak diturunkan. Kakek tua itu langsung diseret petugas agar menjauh. Yeonsangun hanya diam, tak bisa membela ataupun melawan. Dari atas, Keluarga Hong melihat semuanya. Yeonsangun pergi sambil menatap mereka marah.



Yeonsangun melewati tempat yang Noksu lewati sebelumnya. Matanya menangkap sepasang sepatu yang familiar di antara tumpukan batu yang menggunung. Alangkah terkejutnya dia ketika petugas bilang kalau itu adalah kuburan Noksu yang baru saja meninggal akibat timpukan batu dari warga. Yeonsangun histeris meminta turun, tapi petugas tetap berjalan tanpa menuruti permintaannya. Sedih.



Ja Won bersiap untuk bunuh diri dengan menggantung dirinya sendiri, mungkin Ja Won merasa bersalah. Usahanya berhasil digagalkan Gil Dong yang berhasil memutus tali itu dengan anak panahnya tepat saat Ja Won menggantung dirinya. Saking takjubnya dengan akurasi bidikan Gil Dong, Yonggae memberikan jempolnya. Ha, ekspresinya ngga nahan XD

Gil Dong mendekati Ja Won dan memberinya secarik kertas yang terlipat. Gil Dong mengingatkan kalau Ja Won sudah terlalu memanjakan Yeonsangun, makanya Yeonsangun makin menjadi. Gil Dong secara terang-terangan berkata kalau dia tak akan melepas Ja Won begitu saja, "Kalau kau mati, maka matilah. Tapi kalau kau mau membayarnya, temuilah aku."



Guru Song berjalan sambil melihat-lihat keadaan Istana setelah kepergian Yeonsangun. Soo Hak mendekatinya, lalu menceritakan kalau dia ikut ambil bagian dari pemberontakan kemarin. Alih-alih Guru Song malah memperingati Soo Hak agar tak terlibat karena Ibu Soo Hak punya pengaruh penting pada Yeonsangun (siapapun akan dihukum jika ada hubungannya dg Yeonsangun). Soo Hak cuma bengong tak percaya melihat Gurunya tak acuh padanya.

Yeonsangun mengalami mimpi buruk di tempat pengasingannya. Dia terbangun dengan muka pucat. Yeonsangun dikejutkan oleh kedatangan tamu yang amat dibencinya, Gil Dong.

Gil Dong berlutut hingga pandangannya sejajar dengan Yeonsangun, lalu Gil Dong berkata, "Pangeran Jin Sung yang kau sayangi sekarang ada di tahta, Pangeran Pyungsung yang juga kau sayangi  memimpin pemberontakan. Kau telah gagal membuat, setidaknya satu yang setia padamu,"

"Kekerasan yang kau banggakan tak mampu membuat orang terdekatmu setia padamu. Kau tau kenapa? Karena kekerasan adalah salah satu tindakan seorang pengecut. Siapa yang mau percaya dan mengikuti seorang pengecut?" lanjut Gil Dong.


Yeonsangun marah, lalu menarik pakaian Gil Dong. Yeonsangun masih keukeuh kalo politiknya itu (dg kekerasan) berjalan sukses. Gil Dong menatap tajam Yeonsangun sambil berkata, "Kau tau kejahatanmu apa? Kau gagal mengenali apa yang harus diutamakan terlebih dahulu. Kau menghina moral kami! Itu adalah pengkhianatan!"

Gil Dong melepas cengkraman Yeonsangun dan pergi dari sana, tanpa memperdulikan Yeonsangun yang tiba-tiba terbatuk hingga mengeluarkan dahak darah. Dengan tertatih, Yeonsangun mengambil banyak kertas kosong dan menuliskan pesan terakhirnya (wasiat?). Padahal itu percuma saja, toh dia bukan Raja lagi sekarang. Siapa pula yang mau melaksanakan perintah itu? Tak lama kemudian, Yeonsangun terjatuh dan meninggal di tempat. 



Warga Hyangjumok menyambut Keluarga Hong yang baru saja tiba. Mereka terkejut tak percaya sekaligus senang mendengar kabar kalau Raja yang kejam itu sudah berhasil digulingkan. Mereka pun bersorak gembira.

Di tempat yang dikelilingi tumbuhan hijau, Ga Ryung bersandar di bahu Gil Dong. Ga Ryung curhat kalau dia melihat Gil Dong saat diikat di depan gerbang dulu. Gil Dong kaget dan bertanya balik apa itu benar? Ga Ryung mengangguk, lalu berkata kalau dia akan menceritakan semuanya pada bayi mereka nanti. Gil Dong kaget (lagi). Bayi? Ga Ryung membenarkan dan memberitahu kalau dia sedang mengandung sekarang. OMO. Gil Dong terkejut, tapi kali ini kejutan yang sangat menggembirakan. Gil Dong memeluk Ga Ryung seraya tersenyum.



Beralih, Ok Ran kembali ke gubuk itu sendirian. Ternyata di depan gubuk sudah ada Mori yang keadaannya terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Mori tersenyum kecil melihat Ok Ran yang mendekatinya, tapi dia langsung memasang ekspresi datar ketika Ok Ran sudah ada di hadapannya. AH, CIE.

Ok Ran memberinya sekotak makanan sambil berkata kalau Ga Ryung baik-baik saja. Mori berkilah kalau dia tidak menanyakan hal itu. Ok Ran dengan polos berkata kalau menurut dia, Mori perlu tau tentang hal itu. Kemudian Ok Ran berkata kalau mereka akan pergi dari Hyangjumok. Jleb. Mori berhenti mengunyah.

Dengan polosnya (lagi), Ok Ran mengajak Mori untuk ikut bersamanya, tapi Mori dengan tegas menolak. Lalu Mori terbatuk (atau keselek? HA), Ok Ran langsung khawatir sambil menyarankan agar Mori segera menemui tabib. Mori menarik tangannya kasar (gamau disentuh Ok Ran). Tiba-tiba dari belakang Uh Ri Ni memanggil Ok Ran. Mereka sama-sama terkejut.



Uh Ri Ni menatap Mori curiga, lalu dia menarik tangan Ok Ran pergi. Mereka dikagetkan dengan sekelompok ninja yang mengaku kalau mereka akan membasmi para pengkhianat. Mori langsung pasang badan. Mori menepis banyak pisau yang dilemparkan para ninja itu. 

Sayangnya, satu pisau berhasil menancap punggung Ok Ran yang baru saja ingin menjauh. Mori menoleh dan melihat Ok Ran yang terkapar. Tanpa aba-aba, Mori maju dan menghabisi para ninja itu hingga semuanya pingsan.



Gil Dong dan Keluarga Hong terkejut saat melihat Mori yang datang tergesa-gesa dengan Ok Ran di punggungnya. Mori keliatan tak enak hati, dia menghindari tatapan semua orang yang melihatnya dengan tatapan 'ngapain lo di sini'. Ha.

Ok Ran sadar, untunglah tusukannya tak terlalu dalam. Uh Ri Ni membantunya duduk. Lalu Ok Ran menunduk pelan pada Mori yang berdiri tak jauh dari sana sambil mengucapkan terima kasih. Ok Ran pun menjelaskan kejadiannya pada Gil Dong, "Oraboni sudah menolong kita tadi," ucap Ok Ran. OMO.

Gil Dong agak terkejut saat mendengar Ok Ran menyebut Mori dengan 'Oraboni' (kakak). Mori juga kaget dipanggil begitu, tapi kemudian dia berkata kalau Ok Ran tak perlu berterima kasih. Mori langsung buru-buru keluar kamar (karna malu ya?). Mendengar Mori yang ngga nyantai saat membuka pintu, Gil Dong tersenyum kecil. A! Lucu.



Di luar, Ga Ryung mengagetkan Mori dan mengajaknya makan sebelum pergi. Mori tak menjawab, dan dari atas, Gil Dong ikut membujuknya.


Dan ternyata Mori menyanggupi permintaan itu. Kini dia makan berhadapan dengan Gil Dong dan dikelilingi Keluarga Hong yang terlihat antusias melihat pemandangan langka itu. Mori keliatan tak nyaman diliatin seperti itu. HA. Serius, Mori kaku banget, sampe dia tersedak pas lagi minum air.

Setelah Keutsae melucu, suasananya berubah jadi tawa, ya meskipun Mori ngga ketawa. Dia masih keliatan kebingungan, Ha. Kemudian Gil Hyeon bertanya tentang ninja yang ada di gunung tadi. Mori pun menjelaskan apa yang dia tau. Uh Ri Ni yang ikut menyimak, langsung berdiri setelah mendengar penjelasan Mori dan berkata kalau dia tau orangnya siapa. Gil Hyeon menebak dengan yakin kalau orang itu adalah Guru Song. Seketika Gil Dong sadar dan berkata kalau Guru Song lah yang ada dibalik Pangeran Pyungsung.



Gil Dong berbicara empat mata dengan Mori. Setelah berdiam untuk beberapa saat, akhirnya Gil Dong membuka percakapan dengan mengajak Mori agar ikut bersamanya untuk meninggalkan Hyangjumok. Mori menolak. Kemudian Gil Dong langsung memojokkannya sambil bertanya alasan Mori yang masih ada di sekitar Hyangjumok. Gil Dong menebak kalau Mori penasaran dengan kehidupan dia dan Keluarga Hong.

Gil Dong berkata kalau Mori pasti diterima oleh Keluarga Hong, sebab mereka tau Mori sudah membiarkan Gil Dong hidup, padahal bisa saja Mori langsung membunuhnya. Mori berdiri dan mengingatkan agar Gil Dong tak mempermainkannya. Gil Dong memotong ucapan Mori,



“Fakta bahwa ayahmu mencoba membunuhmu, atau Tae Hak (bos Mori dulu) yang sudah mengkhianatimu, itu sama sekali bukan salahmu. Itu bukan karena kau kurang berbakat atau rasa kasihan, tapi kau hanya kurang beruntung. Mori-ya, aku ingin kau bergabung dengan kami,”

Mori tak menjawab, yang jelas Mori tersentuh mendengar kata-kata Gil Dong. Sepertinya Keluarga Hong mendengar semuanya dari luar, mereka masuk dan menatap Mori sambil mengangguk.



Kita ngga tau jawaban Mori apa, tapi ketika Keluarga Hong sedang berpamitan dengan Warga Hyangjumok, di belakang Keluarga Hong ada Mori juga di sana! Warga dan Keluarga Hong saling menunduk hormat. Gil Dong berjanji kalau dia dan Keluarga Hong akan mampir ke sana suatu saat nanti. Warga sangat senang mendengarnya. Kemudian mereka saling berpelukan dan bersalaman. Mori cuma diem di belakang dan melihat semua itu, ngga ikutan peluk-pelukan atau bersalaman. Kurasa Mori ini takjub melihat kehangatan yang ada di sana.

Para warga yang ada di pohon berakar besar menyambut Keluarga Hong yang baru saja tiba. Kemudian Eomjachi memberitahu Mori kalau di sanalah tempat tinggal mereka. Mori mengedarkan pandangannya ke semua sisi.



Keluarga Hong, plus Mori, berkumpul. Mereka berencana untuk mengakhiri tindakan tak masuk akal Guru Song. Gil Dong bertanya pada Mori apakah dia bisa membantunya (Mori pernah jadi pengikut Guru Song)? Keluarga Hong menatapnya, menuntut jawaban. Akhirnya Mori mengangguk.

Mori dan Keluarga Hong mendatangi penjara dimana korban Sugwidan dikurung. Para tahanan harus menahan rasa senangnya, sebab dari arah belakang muncul sekelompok ninja putih. Mori dan Keluarga Hong melawan mereka. 

Di tempat lain, Gil bersaudara menemui Pangeran Pyungsung. Gil Hyeon membeberkan apapun yang di tau tentang Guru Song. Tak lupa Gil Hyeon menceritakan kisah Pangeran Choongwon yang tewas secara tragis akibat berhubungan dengan Guru Song. Gil Hyeon mewanti-wanti agar Pangeran berhati-hati.



Pangeran Pyungsung mendatangi kediaman Guru Song. Guru Song menyarankan agar Pangeran Pyungsung segera bergabung menjadi pengikutnya Gil Dong. Pangeran Pyungsung malah berkata, kenapa dia harus mendengarkan Guru Song? Dari arah belakang, muncul beberapa prajurit. 

Pangeran Pyungsung memberi perintah agar menangkap Guru Song dan mengosongkan rumahnya, dengan alasan Guru Song telah membentuk kelompok pribadi (Sugwidan) dan mengontrol semuanya atas kehendaknya sendiri. Guru Song meminta penjelasan, dan dia tambah histeris saat buku Hengrok kesayangannya dan aksesori bola hijau yang selalu dia pakai, dibakar oleh petugas. 



Keesokan harinya, di suatu hutan nan hijau, Gil Dong bertemu dengan Pangeran Pyungsung. Pangeran Pyungsung menyayangkan perihal Gil Dong yang memilih pergi jauh, sebab Pangeran mengaku kalau sekarang dia mulai menyukai Gil Dong. Gil Dong tersenyum sambil berkata kalau nanti ada saatnya mereka akan bertemu kembali. Gil Dong menegaskan kalau dia akan terus mengawasi Pangeran. Setelah Gil Dong pergi, ekspresi Pangeran berubah, lalu meminta pengawalnya untuk mengikuti Gil Dong.


Warga menyambut gembira Keluarga Hong yang baru saja datang. Tapi Ga Ryung tak melihat Gil Dong di antara mereka. Keluarga Hong memasang wajah sendu, tiba-tiba ada suara Gil Dong memanggilnya sambil melambai-lambai kegirangan. Aw. Ga Ryung menoleh dan langsung berlari mendekati Gil Dong. Gil Dong melarangnya berlari karena sedang mengandung. Ga Ryung tetap lari, dan Gil Dong kebingungan saat melihat Ga Ryung menangis. Keluarga Hong nyengir. Ha.

Gil Dong menggendong Ga Ryung dan menaiki tangga. Yonggae ikut menggendong Baek Gyeon, tapi ngga ikutan naik ke tangga. Semua bersorak melihat kebahagiaan Gil Dong dan Ga Ryung. Mori juga tersenyum lebar. Yey, itu artinya dia udah ngerelain Ga Ryung buat Gil Dong! Dan oh! Liat! Mori merangkul Ok Ran. Owowu.



Soo Hak sedang berlutut sekaligus menerima makian dari majikannya. Lalu majikannya memukul punggungnya dengan ranting kecil, ya sama seperti yang pernah Ibu Soo Hak lakukan dulu ke Ibunya Gil Dong. Ibu Soo Hak berlari dan mendekati anaknya sambil berteriak pada majikannya kalau anaknya tak pantas diperlakukan begitu. Bagaimanapun juga, anaknya pernah melayani Raja.

Tiba-tiba Ibu Soo Hak batuk-batuk, dan mengeluarkan dahak darah. Soo Hak terkejut, tapi majikannya langsung meminta pelayannya yang lain untuk membuang Ibu Soo Hak karena dia tak ingin tertular wabah penyakit. Ibu Soo Hak memberontak, tapi tenaganya masih kalah oleh pria yang membawanya. Giliran Soo Hak yang berteriak, dia tak terima Ibunya dibuang, dia membela kalau ibunya masih hidup. Soo Hak mencoba mengejar ibunya, tapi pelayan yang lain segera menahannya.


Entah bagaimana Soo Hak lolos, sekarang dia dan ibunya sudah ada di desa yang terjangkit wabah penyakit. Di saat kondisinya sedang buruk pun, Ibu Soo Hak masih sempat mengutuk Amogae dan keluarganya. Setelah puas memaki Amogae, Ibu Soo Hak menghembuskan napas terakhirnya di pelukan Soo Hak. Soo Hak menangis tersedu-sedu. Soo Hak nangisnya kayak anak kecil, sedih banget.


Pada malam harinya, majikan Soo Hak dikejutkan dengan kedatangan Soo Hak yang sedang berdiri di depan rumahnya dengan sebilah clurit di tangannya. Majikannya sampai terjatuh saking takutnya, dia berteriak meminta tolong pada pelayannya yang lain. Untung, majikannya itu masih bisa menahan tangan Soo Hak sebelum clurit itu menyentuh kepalanya. Dua orang pelayan langsung menarik Soo Hak menjauh.

Soo Hak kini ada di penjara, dengan wajah penuh darah. Gil Dong menghampirinya dan berkata kalau hidup sebagai pelayan memang tidaklah mudah. Gil Dong beretorika menanyakan bagaimana rasanya menjadi seorang pelayan? Soo Hak hanya melihat Gil Dong yang menjauh sambil menahan amarahnya.



Di tempat lain, Gil Hyeon menemui Guru Song yang terlihat amat kacau. Di sampingnya ada Buku Hengrok yang sudah terbakar sebagian. Guru Song gondok melihat Gil Hyeon. Gil Hyeon tersenyum dan menjelaskan kalau rencana Guru Song yang ingin meminta bantuan kepada para pejabat yang pernah dia tolong tidak akan berhasil, karena para pejabat itu adalah musuh Guru Song, mereka tidak menyukai Guru Song. (Iya, waktu itu para pejabat menyebutnya ‘orang asing’)

Guru Song marah dan mencengkram pakaian Gil Hyeon, tapi dia malah terbatuk hingga terduduk di tanah. Gil Hyeon pun pergi meninggalkannya. Kemudian Guru Song menangisi Hengroknya. Beberapa saat kemudian, kamera memperlihatkan bahwa Guru Song sudah meninggal setelah menggantung dirinya dari atas pohon yang tumbuh di depan gubuknya.



Beberapa tahun kemudian, di musim semi. Ga Ryung dengan bayi di pelukannya, sibuk menceritakan kisah Hong Chum Ji kepada anak-anak kecil yang ada di hadapannya. Anak-anak kecil itu mendengarnya antusias. (Wah, ada Uh Ri Ni kecil, ada Gil Hyeon kecil juga! Ah sayangnya, ngga ada Si imut Gil Dong kecil, mungkin dia sedang sibuk di drama barunya)

Salah satu anak laki-laki bertanya seperti apa sih wajah Hong Chum Ji itu? Teman di sampingnya menjawab asal, dia malah menggambarkan wajah Hong Chum Ji seperti monster. Ha. Gil Dong yang juga ada di sana, mengerutkan keningnya. Dia menatap Ga Ryung sebentar, lalu mereka tertawa. Kemudian Ga Ryung menceritakan wujud Hong Chum Ji sebenarnya. Tapi, belum selesai bercerita, anak-anak kecil itu mengantuk dan tertidur sambil terduduk. HA.



Saat mereka tinggal berdua, Ga Ryung iseng bertanya, sejak kapan Gil Dong tertarik padanya? Gil Dong menjawab kalau dia tak tahu. Ga Ryung langsung cemberut. Gil Dong tersenyum kecil, lalu berkata, “Tapi aku ingat saat pertama kali aku jatuh cinta padamu. Saat kau tertidur dan menarik lengan bajuku. Saat itu aku sadar kalau aku harus menyayangi dan melindungi gadis kecil ini selama aku hidup.” Ga Ryung sumringah.

“Ga Ryung-ah, saranghae..” Ga Ryung membalasnya dengan kecupan.



Di suatu hari yang cerah, Gil Dong dan Mori bertanding adu panco. Uh Ri Ni dan Ok Ran masing-masing menyemangati pilihannya. Gil Dong dan Mori sama-sama bersemangat untuk memenangkan pertandingan itu. Keluarga Hong pada bertaruh menebak siapa yang akan menang. Semua orang terlihat bahagia. Mori sudah bisa tertawa lepas. Dan oh! Gaya rambut Baek Gyeon sudah berubah. Ah, aku turut senang, Yonggae udah berhasil ngelawan rasa takutnya terhadap perempuan yang dia suka.

Di tengah pertandingan, tiba-tiba warga menggosipi Pangeran Pyungsung yang memiliki hobi yang tak pantas. Gil Dong dan Mori menghentikan kegiatannya dan ikut menyimak. Keluarga Hong saling melirik. Saatnya mereka beraksi!



Ga Ryung bernarasi, ‘Akhirnya Hong Chum Ji menampakkan diri kembali, setelah sekian lama hidup dengan kedamaian. Itulah mereka, akan selalu ada saat rakyat membutuhkan pertolongan..’

Keluarga Hong mendatangi rumah Pangeran Pyungsung. Pangeran Pyungsung menjerit ketakutan, tapi dia terkejut saat melihat Gil Dong berdiri di hadapannya. Gil Dong bertanya apa Pangeran sudah lupa dengan  perkataannya dulu? Gil Dong akan terus mengawasi Pangeran. Lilin dimatikan. Semuanya menjadi gelap.



Ga Ryung menutup buku cerita Hong Chum Ji karangannya.


Keluarga Hong berdiri berjejer sambil melihat Joseon dari kejauhan. Mereka secara bergantian mengucapkan sesuatu untuk kita:

“Seperti itulah penguasa yang lain, telah terjatuh.”
“Butuh waktu lama untuk terjatuh, tapi itu juga sebuah kejadian.”
“Kita semua di sini. Selama periode lama itu, kita tak pernah terpisahkan satu sama lain. Itu luar biasa.”
“Sekarang, pasti ini lah akhirnya,”
“Well, Apa kau mau mengakhirinya?”
“Tidak ada akhir.”
“Jika seseorang melukai salah satu dari kita, kita tak akan bisa menahan diri untuk tidak membalas mereka.”
“Benar. Ini hanyalah awal bagi kita, Hong Chum Ji!”
“...”
“Ya, itu terdengar bagus. Ayo kita berisik dan melakukan hal besar sekali lagi! Untuk kita, Hong Chum Ji, ini hanyalah permulaan.”
“Ayo pergi!”
“Kita adalah Keluarga Hong yang berisik!” (Hong = noisy)



TAMAT

Komentar :

Endingnya keren! Selamat, drama ini masuk ke jajaran drama favorit aku. Ha. Bukan tanpa alasan, drama ini solid bgt. Dari cerita, plot, karakter, akting, screenplay, sampai sinematografinya sama-sama keren. Dan ya, lagu-lagunya Ahn Ye-eun, khususnya di If Spring Comes-nya!

Alur drama ini sangat cepat, meskipun di tengah-tengah agak ngebosenin. Tapi yang aku kaget, Ibu dan ayahnya Gil Dong cepet banget meninggalnya. Mereka ngga sempet melihat anak-anak mereka tumbuh besar. Hm. Untunglah Amogae bertemu dengan Soobori dan Keluarga Hong yang lain. Salut sama persahabatan dan kekompakan yang mereka tunjukin. Dan adegan berantemnya, EPIC.



Aku seneng Ji Sung atau Namgoong Min udah nolak tawaran drama ini (I like em btw), karena aku ngga bisa ngebayangin bakal ada yang bisa meranin karakter Gil Dong sekece Yoon Kyun-sang. Mungkin bakal aneh juga karena lawan mainnya Chae Soo-bin, yang nanti rentang umurnya bakalan cukup jauh. Ga Ryung, karakter yang paling mencuri perhatianku. Aku suka semangat dan keberanian yang dia punya! Dan, kisah cinta Gil Ryung itu bikin iri.


Semua antagonis dapet balesannya di episode akhir. Yang paling menarik adalah Soo Hak dan ibunya. Kena karma mereka. Dan yang lebih ngakak pas di bagian Soo Hak yang dateng bawa clurit. Aku ngakak, itu kayak Amogae dulu.

Yeonsangun dan Guru Song juga mati, salut ih sama akting mereka. Jahat banget. Yang aku kaget, Noksu juga mati. Hua! Aku mau dia hidup. Tapi aku tetep seneng, karena akhirnya Yeonsangun mengerti apa artinya ‘cinta’ berkat Noksu. Ya meski aku yakin, Gil Dong masih nempel di hati Noksu. Tapi di akhir cerita, kita tau kalo Noksu udah mulai menyukai Yeonsangun.


Mori. Ngeliat sikap Mori sama Ok Ran dan panggilan ‘oraboni’. Inget sesuatu? Ya ya. Mirip Ga Ryung dan Gil Dong dulu XD. Tapi kita gatau apa terjadi kedepannya.. bisa jadi mereka berdua emang adik-kakak yang pernah terpisah seperti yang Ok Ran bilang dulu. Atau mungkin.. 

Oke, lupakan itu, aku mau bilang kalau aku sangat-sangat suka pas adegan adu panco Mori melawan Gil Dong, keliatan banget kalo mereka udah berteman dekat. Ah, Gil Dong emang jago nih nyuri hati orang. Liat senyum Mori!



Dan ya, ada beberapa masalah yang terlewatkan, padahal itu butuh penjelasan. Pertanyaanku juga banyak yang belum terjawab. Uh.

Pertama, Gil Dong ngga memperkenalkan Ga Ryung ke Uh Ri Ni, yang adalah musuh di Jangkwon. Ya meskipun di akhir episode mereka keliatan dekat.
Kedua, surat yang Gil Dong kasih ke Ja Won. Itu isinya apa XD.
Ketiga, harimau yang Gil Dong cilik temui di hutan...
Keempat, Gil Dong yang hilang ingatan dan pingsan.
Kelima, Marga SONG yang nempel di nama Ga Ryung.

Ada yang terlewat?

Terlepas dari itu semua, drama ini memberi banyak pelajaran atau hal-hal kecil yang bisa diaktualisasikan di kehidupan nyata. Kayak solidaritas yang tinggi, kepercayaan tanpa ada keraguan, tekad yang kuat, dan cinta tanpa syarat.

Aku salut banget sama Keluarga Hong yang punya semua hal itu. Mereka hidup, hidup bareng. Susah, susah bareng. Seneng, seneng bareng. Mereka udah banyak ngelaluin banyak masalah dan rintangan, yang akhirnya mereka berhasil melewati itu semua, setelah air mata, darah, dan keringat yang mereka rasain. Makanya mereka pantes buat dapet ending yang teramat manis seperti ini.

Makasih SW-nim & PD-nim untuk drama yg kece ini! Aku tunggu projek selanjutnya^^


**

Oya, terima kasih untuk kamu, my precious readers, udah ngunjungin dan berkomentar di blog ini. Apalagi udah mau baca ocehan garing aku, Dan sampai jumpa lain waktu!



5 komentar:

  1. Aaaa akhirnya selesai. Selamat ketemu di drama selanjutnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Intan! Makasih ya atas kunjungannya :D

      Hapus
  2. Nontonnya msh season 18 neh.. Duh penasaraannnnn...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya 'episode' 18 kali wkwk. Semangat!

      Hapus