Selasa, 06 Juni 2017

Review : The Last Game (Lovasket #5) karya Luna Torashyngu


Ini adalah buku kelima dari seri Lovasket. Seri Lovasket adalah salah satu buku seri kesukaan saya. Dan saya yakin, seri ini ngga asing lagi buat kalian para pecinta teenlit. Sebenarnya, saya udah rada-rada lupa cerita Lovasket di buku-buku sebelumnya, Ha. Tapi tenang aja, saya masih inget karakter-karakter penting dari seri ini.

Review

Di buku ini, menurut saya ngga ada konflik yang serius. Sama seperti buku-buku sebelumnya, buku ini masih tentang basket (ya iyalah!), persahabatan, strategi permainan, dan kelicikan.

Setelah berobat dan melalui berbagai terapi di Amerika, akhirnya Vira kembali ke Indonesia, walaupun jalannya masih dibantu kruk. Di Indonesia, Vira melatih basket di salah satu SMA elit di Jakarta. Dan di saat bersamaan, Bianca –sepupu Stella– menemui Vira karena ingin membentuk satu tim basket baru untuk melawan salah satu tim WNBA –Dallas Thunder– yang sedang berlibur di Bali.

“Gue butuh pemain dengan skill yang bagus untuk membentuk tim melawan salah satu tim WNBA yang akan datang ke sini,” ujar Bianca.

Stella yang notabene benci banget sama Bianca langsung menolak mentah-mentah ajakan itu, karena Stella yakin kalau Bianca punya maksud tertentu dibalik permintaannya itu. Vira sebenernya juga curiga, tapi dia tetap menerima tawaran itu karena suatu alasan. Kalau Vira udah setuju, ya mau ngga mau Stella juga setuju. Berhubung Vira ngga mungkin untuk ikut bermain, maka Vira menjabat sebagai pelatih tim basket baru itu. Selain mereka bertiga, ada beberapa pemain lain, seperti Rida, Stefanie, dan beberapa teman basket satu sekolah mereka dulu.

“Dia itu orangnya egois, licik, dan selalu menggunakan segala cara supaya keinginannya tercapai,” gerutu Stella.

Ada juga konflik lain, yaitu tentang tim basket yang dilatih Vira. Tapi, buku ini lebih memfokuskan pada karakter Vanya. Sebelumnya Vanya adalah salah satu anggota girlband populer, tapi Vanya lebih memilih basket. Sepeninggalan Vanya, ternyata girlband-nya itu mengalami kekacauan, dan terancam bubar. Vanya tentu aja ngga mau itu terjadi. Makanya, Vanya ini mencari cara agar girlbandnya itu tetap hidup dan tetap eksis. Kalau ada Vanya, ada juga Vega. Masih ingat Vega? Vega adalah salah satu karakter penting di Lovasket 4. Vega mengalami hilang ingatan karena kecelakaan. Klise banget ya? Wk. Saat ini Vega berjuang untuk memulihkan ingatannya.

Cuma kamu yang bisa nyalemetin Venus!

Stella memuji skill basket yang dimiliki Vanya. Karena menurut Stella, cara bermainnya itu mirip Vira. Tapi Vira mengaku kalau ada yang lebih mirip lagi dari Vanya. Vega kah?

“Ada satu lagi yang lebih mirip dengan gue. Sayang, karier basketnya terhenti. Kalo aja dia bisa main di pertandingan kemarin, gua rasa kita bisa kalah melawan mereka,” katanya.

Ada beberapa kejutan yang muncul di buku ini. Seperti, alasan Stella kenapa dulu dia jahat banget sama Vira. Saya ngga kepikiran sama sekali kalau ternyata Stella itu ngga jahat beneran, dia cuma pura-pura jahat. Kalau dipikir-pikir, emang lebay juga sih tindakan si Stella. 

Biarpun begitu, tindakan Stella tetap ngebuat saya terharu. Vira ngga tau mengenai hal itu lho! Untunglah, Vira dan Stella sekarang kembali bersahabat setelah masalah usir-mengusir itu. Satu lagi, dan.. ternyata hubungan Stella dan Bianca ngga sesimpel yang saya kira. Ada dendam pribadi antar keduanya yang muncul akibat kejadian masa lalu.

Stella menerima semua tuduhan Vira tanpa berusaha menceritakan hal yang sebenarnya.

Lain lagi tentang Vira dan Aji. Masih ingat Kak Aji? Dia itu mantannya Vira. Kakaknya Niken –sahabat Vira. Dan calon suami orang. Vira sedih banget pas tau kabar pernikahan Kak Aji, soalnya Vira masih menyimpan rasa pada Kak Aji, tapi ya gimana, Vira ngga bisa berbuat apa-apa. Untungnya, Vira ngga berlarut-larut sama kesedihannya itu. Vira kembali fokus pada tim basket barunya yang akan melawan tim hebat asal Amerika itu.

“Lo nggak usah khawatir. Gue profesional kok. Gue nggak akan membiarkan masalah pribadi gue mengganggu tugas sebagai pelatih,” ujar Vira.
**

Komentar 

Seperti biasa, di halaman terakhir Bang Luna sengaja me-mu-tus cerita begitu aja. Cerita ini akan berlanjut di buku yang keenam atau seri yang terakhir! Oke, saya cukupkan aja sampai sini. Sekian.

**
Kutipan : 2014 © Hak Cipta. Luna. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar