Sabtu, 27 Mei 2017

SINOPSIS Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 28

Sebuah (awal?) pertarungan yang bisa membuktikan siapa yang paling kuat. Entah itu Raja, atau mungkin Gil Dong.


Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 28

Ga Ryung diturunkan dari atas tiang atas perintah Raja. Raja tertawa puas setelah melihat ekspresi Gil Dong yang belum pernah dia lihat.

Gil Dong berniat menyerahkan diri untuk menyelamatkan Ga Ryung, tapi Gil Hyeon langsung mengingatkan Gil Dong kalau perjuangan mereka (Keluarga Hong dan Warga Hyangjumok) akan sia-sia, setelah berhasil melangkah sejauh ini. Gil Dong sadar kalau ucapan itu benar, dia menahan tangisnya.


Raja ditemani Noksu melihat Ga Ryung yang tengah terikat di dalam tenda. Kemudian Raja mengejek Gil Dong yang terlihat sangat lemah saat melihat Ga Ryung tadi. Ga Ryung hanya menatap Raja, tanpa berkata-kata.

Tinggalah Noksu dan Ga Ryung. “Dunia ini sangatlah adil. Kau punya cinta. Dan aku akan menguasai dunia ini,” ucap Noksu sambil tersenyum kecil, tapi matanya berkaca-kaca. Noksu beranjak, dan Ga Ryung akhirnya memanggilnya dengan ‘Gong Hwa unni’ pada Noksu (selama di Istana, Ga Ryung memanggilnya Sukyong Jang). Noksu menghentikan langkahnya untuk sejenak, air matanya tumpah, tapi dia kembali berjalan keluar tenda. Mori mendengar suara Ga Ryung yang terdengar putus asa.


Gil Dong nelangsa banget, dia bingung harus ngapain. Dia mendengar para warga yang putus asa karena warga pikir pasti Gil Dong akan menyerahkan dirinya untuk menyelamatkan istrinya itu.

Raja menambah pasukannya. Kali ini hampir 3x lipat. Ada prajurit bayaran, penyusup asing yang berpenampilan kayak Avengers low budget (mereka bawa senjata2 aneh, mereka juga pernah berhadapan dengan Gil Dong dulu), dan ada juga orang-orang yang merupakan korban dari kejahatan Sugwidan yang direkomendasikan oleh Pangeran. (Korban Sugwidan itu diiming-imingi akan diampuni/dibebaskan, jika mereka berhasil membunuh Gil Dong)


Para warga juga membicarakan banyaknya prajurit itu. Mereka terlihat sangat takut.

Ga Ryung bermimpi indah. Dalam mimpinya, Ga Ryung digendong Gil Dong di tengah taman bunga yang sedang bermekaran. Mereka terlihat bahagia. Ga Ryung mencium pipi Gil Dong kanan dan kiri, lalu mereka tersenyum.



Ga Ryung tersenyum dalam tidurnya, kemudian terbangun. Dan ternyata ada Mori di depannya yang sedang menatapnya tanpa ekspresi, HA. Mori bertanya apakah Ga Ryung benar-benar mau kalau Gil Dong lebih memilih warga itu daripada dirinya? Ga Ryung tak menjawab seakan membenarkan perkataan Mori. Mori tertawa sinis, “Itu lah aku membenci kalian berdua. Kalian bodoh dan ceroboh,”

Mori bangkit, “Tapi yang paling aku harapkan adalah... suamimu akan peduli padamu. Dan setelah itu, dia akan membawamu pergi bersamanya dan menghilang dari pandanganku. Selamanya.” ucap Mori sambil meneteskan air mata, lalu pergi dari sana. OH. Itu pengakuan ya?


Para warga dan Keluarga Hong berkumpul, salah satu warga Hyangjumok berdiri dan mengucapkan terima kasih pada Keluarga Hong karena telah membantu mereka, padahal Keluarga Hong bukanlah warga Hyangjumok. Lalu pria itu menunduk hormat, diikuti oleh warga lain.

Para warga berniat membuka gerbangnya dan melawan prajurit-prajurit itu, kemudian mereka meminta Gil Dong untuk segera menyelamatkan istrinya, tanpa harus memikirkan Hyangjumok lagi.
Gil Dong pun berdiri dan berkata kalau dia akan melakukan yang mereka minta setelah mereka makan besar bersama-sama untuk terakhir kalinya. Semua warga tertawa (hambar) mendengar permintaan Gil Dong.


Mereka makan bersama-sama. Gil Dong melihat sekelilingnya. Gil Dong tahu betul kalau warga Hyangjumok sedih banget karena sebentar lagi mau perang yang kemungkinan besar mereka akan kalah. Mereka terlihat pasrah. Sedangkan Keluarga Hong mencoba bercanda (tapi garing) seakan-akan mereka akan segera berpisah. Apalagi semuanya pada berandai-andai ‘kalau kita mati’, seakan-akan mereka semua memang akan mati.


Para pria Hyangjumok berpamitan pada keluarga mereka. Dengan bermodalkan sebatang besi di tangannya, mereka melangkah dengan yakin. Hari ini atau tidak sama sekali, mungkin itu yang ada dipikiran mereka. Sedangkan di depan gerbang, pasukan Raja berbaris rapi dan siap untuk bertarung. Raja menonton itu semua dari jauh, dia terlihat senang. Sigh.



Ga Ryung diikat kembali. Gil Dong menahan tangisnya. Warga Hyangjumok berteriak dan meminta Gil Dong untuk menyelamatkan istrinya.

“Sobang (suamiku)! Kau bisa melihatku? Jangan menyerah! Jika kau menyerah karena aku, aku akan membencimu selamanya! Aku akan menyalahkanmu selamanya!” teriak Ga Ryung terisak. Semua orang mendengarnya sedih.


Gil Dong menangis, dan menarik anak panahnya dengan bergetar. Keluarga Hong terkejut melihat tindakan nekat Gil Dong. Raja melotot tak percaya. Dalam hatinya Gil Dong meminta Ga Ryung menunggu, dia berjanji akan menyelamatkannya dalam 1 jam. Dan CUS! Anak panah dilepas dan menembus dada Ga Ryung. Semua orang menahan napas. Ga Ryung tersenyum pelan, lalu kepalanya terhuyung ke bawah. Pingsan. Mori ngga kalah kaget, dia menatap Gil Dong marah.



Gil Dong berteriak dengan lantang bahwa prajurit dan Raja negara ini seharusnya tidak membunuh rakyat. Mereka bukan lagi ditujukan untuk rakyat. “Mereka harusnya dibunuh!” lanjut Gil Dong.

Warga melihat Gil Dong tak percaya sekaligus kagum. Seketika semangat warga membara, mereka membuka gerbang dan menyerbu prajurit. Gil Dong dan Keluarga Hong menyusul. Gil Dong telah berpesan pada Eomjachi untuk merawat Ga Ryung setelah membawanya dari arena berbahaya itu.



Keluarga Hong dan warga bertarung melawan prajurit Istana. Dengan semangat yang besar, mereka berhasil memaksa prajurit Istana untuk mundur sedikit demi sedikit. Raja yang tadinya duduk tenang langsung berdiri melihat kekacauan itu, dia tambah marah saat melihat Ga Ryung berhasil dibawa masuk ke Hyangjumok.

Kemudian Raja menyuruh penyusup asing untuk masuk dan ikut bertarung. Ternyata Keluarga Hong dan warga masih bisa mengimbangi permainan penyusup-penyusup asing itu. Akhirnya Raja meminta agar meriam andalannya ditembakkan. DUAR! Bom meledak bertubi-tubi hingga membuat tanah berhamburan ke udara dan membuat orang-orang terluka. Gil Dong langsung meminta semua warga dan Keluarga Hong untuk masuk gerbang. Raja sangat menikmati pemandangan yang mengerikan itu.


Tinggal Gil Dong dan beberapa penyusup asing (yang aku duga mereka adalah pemimpinnya). Gil Dong berhasil mengalahkan mereka, kekuatan ‘Si Anak Perkasa’ nya muncul di waktu yang tepat. itu sangat membantunya. Semua orang terkejut melihat kehebatan Gil Dong. Warga dan Keluarga Hong menontonnya dari atas gerbang raksasa itu, tak lupa memberi semangat untuk Gil Dong.



Giliran Mori yang mendekat. Dia mengungkapkan kekecewaannya pada Gil Dong karena sudah tega memanah Ga Ryung. Tapi Gil Dong tak berkata apapun. Akhirnya Mori maju untuk membuka pertarungan.


Bisa ditebak, karena mereka sama-sama kuat, mereka berhasil melukai lawan masing-masing. Gil Dong terjatuh, lukanya terlihat cukup parah. Warga terus menyemangati Gil Dong, bahkan menyanyikan lagu Ikhwa-ri dengan kompak.


Semua orang seakan tersihir mendengar lagu itu. Para pejabat Istana yang melihat kejadian itu, tidak bisa menyebunyikan kekagumannya pada Gil Dong dan warga Hyangjumok yang enggan menyerah. Kemudian Raja memanggil Pangeran, dan mengizinkan pasukan pilihannya (korban Sugwidan) untuk ikut membunuh Gil Dong.

Mereka masuk ke arena, Pangeran memimpin. Kemudian Pangeran membeberkan fakta kalau Gil Dong adalah seorang anak pelayan rendahan. Semua orang terkejut, Gil Dong tak kalah terkejut. Warga Hyangjumok kaget banget, mereka mulai bimbang. Gil Hyeon menahan amarahnya.

Gil Dong menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak dengan menahan tangis, “Kau benar. Aku adalah anak pelayan Amogae! Tapi, darah ayahku mengalir lebih panas dibanding darahmu, kaum bangsawan! Hanya mereka yang memiliki darah panaslah, yang pantas bertarung di pertempuran ini! Denganku!”

Warga terdiam mendengar perkataan Gil Dong yang begitu mendalam. Tiba-tiba salah satu warga meneriakan dukungannya untuk Gil Dong. Satu persatu warga melakukan hal yang sama hingga semua dukungan kembali diteriakan untuk Gil Dong.


Gil Dong dan Mori kembali berhadapan. Tak ada yang mau mengalah. “Kau mungkin punya Raja, tapi aku punya orang-orang itu dibelakangku,” kata Gil Dong. Entah kenapa, kayaknya perkataan Gil Dong cukup mengena untuk Mori. Tak butuh waktu lama, akhirnya Gil Dong berhasil menodongkan pedangnya lebih dulu ke leher Mori. Warga pun bersorak.  (fokus Mori ilang karna efek ucapan Gil Dong deh kayaknya)


Warga keluar gerbang dengan semangat 45, tapi mereka malah di panah sama Prajurit Raja. Warga berjatuhan. Gil Dong dan Keluarga Hong membantu untuk menepis anak panah menggunakan pedang yang mereka bawa. Karena panahnya emang banyak banget, jadi Keluarga Hong juga ikut tertusuk di beberapa bagian tubuh. Tapi mereka masih bisa mengayunkan pedang mereka untuk menepis anak panah yang datang bertubi-tubi.

Pasukan putih-putih pilihan Pangeran maju, siap melepaskan panah ke arah Keluarga Hong dan warga. Tapi sedetik kemudian, pasukan putih-putih itu berbalik dan mengarahkan anak panahnya ke pasukan kerajaan. Semua orang kaget dan bingung.



Pasukan putih-putih itu melepaskan anak panah mereka secara bersamaan. Prajurit-prajurit Raja berjatuhan. Keluarga Hong akhirnya mengerti kalau pasukan putih-putih itu sedang mendukungnya. Pasukan putih-putih itu menggelindingkan banyak bom ke prajurit Raja. Bum! Bom itu meledak secara bergantian. Selain membuat prajurit terluka, bom itu berhasil merusak meriam kerajaan.

Semangat Keluarga Hong ikut terpacu. Mereka mematahkan anak panah yang menancap di tubuh mereka, lalu kembali bertarung melawan prajurit yang masih tersisa. Gil Dong diam mematung melihat semua itu.

Dari atas tembok, Shaman berkata kalau sayap Si Anak Perkasa yang tadinya basah, sekarang sudah kering berkat orang-orang.



Gil Dong mendekati Mori yang masih berlutut. Lalu Mori menatap Gil Dong dengan mata berkaca-kaca. Mori mengambil pedang yang tergeletak di tanah, dan bersiap untuk memotong lehernya sendiri. Gil Dong menahan tangan Mori sambil melarang Mori untuk bersikap seperti anak-anak. Mori menatap Gil Dong tajam, dan berlari menjauh dari sana. (Hm, kayaknya Mori malu sama Gil Dong. Udah gitu, Mori mau ikut2an Ga Ryung yang mau bunuh diri. Ha.)


Raja kabur dengan menyamar memakai pakaian biasa. Dan yang menggantikannya adalah Pangeran. Pangeran ketakutan, dan benar saja, dia dikepung oleh banyak pasukan putih-putih yang dia bawa sendiri. Klik. Panah berbarengan menusuk seluruh tubuhnya. Pangeran roboh. Pasukan putih-putih itu kecewa karena selama ini Pangeran selalu memberi harapan palsu.


Setelah tak ada orang, Guru Song yang sejak awal memang melihat pertarungan tadi, kini mendekati Pangeran yang keliatan sekarat. Guru Song mengejek Pangeran yang bersikap sok tinggi padanya. Saking gedegnya, Guru Song pergi meninggalkan Pangeran di tengah hutan yang sepi itu.

Keluarga Hong kembali dengan selamat. Warga Hyangjumok menyambutnya dengan senang hati. Kebahagiaan terpancar di wajah-wajah mereka, meskipun banyak berlumuran darah akibat pertarungan hebat itu.


Gil Dong masuk ke kamar dimana Ga Ryung berada. Gil Dong tak kuasa menahan tangisnya. Dia mendekati Ga Ryung dan menggenggam tangannya. Gil Dong meminta maaf karena datang terlambat, juga dia minta maaf karena telah menjadi suami yang buruk. Tapi Ga Ryung tak kunjung membuka matanya.



BERSAMBUNG ke Ep 29

Komentar:

Inget ngga di episode ketika Gil Dong ngambilin stoberi buat Ga Ryung? Waktu itu Gil Dong bilang kalau dia jago dalam hal membidik. Sasarannya ngga pernah melesat. Sekecil apapun objeknya. Dan waktu Gil Dong berhasil metik stroberi yang Ga Ryung pilih pake batu kerikil yang dia lempar. Nah, itu dia, Ga Ryung ngga langsung mati pas abis di panah Gil Dong tadi, karena Gil Dong udah mengukur arah anak panahnya agar tidak mengenai organ vital tubuh yang bisa berakibat fatal untuk Ga Ryung nanti. 

2 komentar:

  1. Sedikit lagi mbak tetep semangat, dan selamat menjalankan ibadah puasa ya mbak

    BalasHapus