Rabu, 31 Mei 2017

SINOPSIS Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 29

Pemberontakan (dalam artian yang sebenarnya) telah terjadi. Inilah akhir (bagian 1) dari drama Rebel: Thief Who Stole the People. 


Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 29

Keluarga Hong dan warga Hyangjumok pulang dengan membawa kabar baik, ya, mereka menang melawan Raja. Tidak bisa dipungkiri kalau kemenangan mereka juga dibarengi dengan banyaknya warga Hyangjumok yang gugur saat kejadian yang paling bersejarah kemarin.

Gil Hyeon juga membawa kejutan lain, yaitu berhasil membawa sahabat adiknya, Ok Ran. Uh Ri Ni memeluk Ok Ran rindu. Ngga hanya Ok Ran yang ikut, ada musisi yang lain juga. Ketika di dalam, Gil Hyeon terkejut saat melihat Gil Dong pingsan dan bersimbah darah di samping Ga Ryung.



Di luar, musisi-musisi Raja ikut membantu untuk mengobati para warga yang terluka. Dan jeng! Yonggae sampe bengong ketika ngeliat kecantikan dari salah satu musisi Raja (Baek Gyeon) yang sedang mengobatinya (dia temen Ok Ran dan Ga Ryung dulu). Yonggae mencoba merayu Baek Gyeon, tapi Segul langsung menoyol kepala Yonggae untuk menyadarkannya. Ha.



Selain itu, Soobori dan Eomjachi makin deket, padahal mereka dulunya kaku banget. Sedang Il Chung, Keutsae, dan Eobsan sedang berjemur (atau istirahat?) sambil bercanda kecil. Mereka masih tak menyangka kalau mereka masih hidup.


Berita kemenangan Hyangjumok telah tersebar di desa-desa sekitarnya. Tak ketinggalan rumor yang mengatakan kalau Raja kabur ketakutan saat pertempuran kemarin. Para warga sangat mengelu-elukan kehebatan Hong Chum Ji. Guru Song juga ikut mendengar berita itu.

Raja mengalami mimpi buruk. Suara Gil Dong dan warga Hyangjumok terus menghantuinya. Raja terbangun, dan tingkahnya aneh. Raja lupa dengan kekalahan yang baru saja dia alami, dia malah mengira kalau semua itu adalah mimpi. Ja Won mencoba menjelaskan hal itu pada Raja, tapi Noksu datang dan meminta Ja Won keluar.

Noksu berbohong dan membenarkan apa yang Raja katakan. Noksu membiarkan Raja tidur di pangkuannya sambil menepuk-nepuk pelan Raja. Noksu menangis melihat Raja seperti itu.


Noksu terbangun dalam posisi masih terduduk. Noksu tak lagi melihat Raja di sana, dia pun keluar.  

Raja memang ada di luar, Noksu mendekatinya. Akhirnya Raja sadar kalau kekalahan yang dia alami adalah nyata. Raja menahan amarahnya.


Soo Hak dan ibunya dihukum menjadi pelayan Istana, itu pun sudah dipertimbangkan dengan kebaikan yang telah keluarga Soo Hak lakukan pada Ratu yang diturunkan dulu. Hukuman itu adalah mimpi terburuk untuk keduanya. 

Ibu Soo Hak histeris karena tak terima dijadikan pelayan, dia bahkan lebih memilih mati saja, daripada status kebanggaannya dinodai oleh hukuman itu. Tapi, Petugas Istana tak peduli, dan itu membuat Ibu Soo Hak pingsan (atau mati?).


Raja berencana untuk menyerang Hyangjumok lagi, tapi kali ini lebih mengarah ke balas dendam atas kekalahannya kemarin. Raja memerintahkan untuk membunuh dan menghabisi semua oarng yang ada di Hyangjumok. Para pejabat mendengarnya ngeri, tapi mereka tetap menuruti perintah Raja.


Gil Dong terbangun, dia mendapati dirinya ada di sebelah Ga Ryung yang masih terlelap. Gil Dong menggenggam tangan Ga Ryung. Gil Dong meminta Ga Ryung untuk segera sadar. Air mata Gil Dong menetes, sesaat kemudian jari Ga Ryung yang tidak digenggam Gil Dong bergerak pelan.


Warga Hyangjumok dan musisi Raja mencari dedauan di pegunungan yang tak jauh dari daerah sana, untuk bahan makanan atau mungkin obat herbal. Tanpa sengaja, Ok Ran menemukan Mori yang berlumuran darah di suatu gubuk yang ada di gunung itu. Keduanya sama-sama terkejut. Omo. Kita ngga dikasih liat apa yang terjadi di gubuk itu. Yang pasti, Ok Ran tidak mengatakan tentang pertemuannya dengan Mori pada siapapun, sekalipun ke Uh Ri Ni. Hm. Menarik.



Gil Dong membuka matanya setelah merasakan ada air yang mengenai tangannya. Oh, ternyata itu air mata Ga Ryung. Gil Dong langsung duduk berhadapan dengan Ga Ryung. Sambil menggenggam tangan Ga Ryung, Gil Dong berkata, “Jika ini adalah mimpi, ayo kita tetap berada di mimpi ini. Selamanya. Jika kau dan aku mati...”

Ga Ryung langsung memutus perkataan Gil Dong dan berkata kalau dia benar-benar Ga Ryung. Bukan mimpi. Butuh lima detik untuk Gil Dong mengerti apa yang Ga Ryung ucapkan, seketika Gil Dong sadar kalau Ga Ryung benar-benar nyata, kemudian mereka berpelukan melepas rindu.



Keluarga Hong senang sekali karena Ga Ryung sudah sadar. Mereka pun berkumpul, bersama musisi Raja. Gil Hyeon memberi penawaran untuk musisi-musisi itu, apakah mau ikut mereka atau kembali ke Istana. Semuanya setuju, kecuali Wolhamae. Dia mengaku tak tega meninggalkan Noksu sendirian di sana. Aw. 

Yonggae senang sekali karena Baek Gyeon tetap tinggal. Dia langsung mendekati Baek Gyeon hingga membuat Baek Gyeon kaget, tapi Segul langsung menarik Yonggae untuk duduk kembali. HA.



Noksu menangis ketika melihat Wolhamae yang baru saja sampai di Istana. Karena Noksu pikir mereka tak akan bertemu lagi. Wolhamae menghapus air mata Noksu dan menenangkannya sambil berkata kalau itu tidak mungkin. (Wolhamae tuh udah Noksu anggep kayak ibu nya)


Warga Hyangjumok sudah mendengar kabar kalau wilayah mereka akan di serang lagi. Keluarga Hong mencoba meyakinkan kalau itu tak akan terjadi dalam waktu dekat, selama Raja tidak mengganggap Hyangjumok bukan markas pemberontak. Tapi, tiba-tiba Gil Dong malah berkata, “Kita tak perlu repot-repot untuk hal lain. Kita hanya perlu mengganti Raja. Kalian tau? Raja lah yang membuat Hyangjumok menjadi markas pemberontakan. Inilah saatnya untuk menunjukkan Hyangjumok yang sebenanrnya!” Awalnya warga ragu, tapi setelah berpikir, mereka akhirnya setuju dengan rencana Gil Dong. Ga Ryung menatap Gil Dong dengan bangga.


Gil Dong mengekori Ga Ryung yang menjauh dari kerumunan warga. Ga Ryung berkata kalau dia kagum dengan keberanian Gil Dong (Kamu juga! Kamu pernah gigit telinga Raja). Ga Ryung mengaku kalau dia juga takut. Gil Dong tersenyum dan memeluk Ga Ryung. Gil Dong berkata dengan yakin kalau mereka tidak akan berpisah lagi.



Raja mondar-mandir di dalam kamarnya, dia terlihat kebingungan. Suara Gil Dong dan nyanyian Ikhwa-ri masih terngiang di kepalanya. Raja menutup telinga, tapi suara itu masih terdengar jelas. Akhirnya Raja menjadi tak terkendali dan melempar barang yang ada di dekatnya, lalu keluar kamar. Guru Song yang baru saja datang, tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dia pun ikut keluar.

Di luar, Raja mengayun-ayunkan pedangnya ke udara seakan-akan sedang bertarung dengan seseorang (berhalusinasi). Guru Song tak tinggal diam, dia langsung berlutut di depan Raja untuk menyadarkannya. Raja pun berhenti mengayunkan pedangnya. 

Guru Song mengingatkan kalau Raja adalah ‘Raja’, harusnya tidak bersikap seperti itu. Guru Song juga mengingatkan Raja kalau Raja lah yang ada di posisi teratas kelompok Sugwidan (kelompok yg suka nyiksa orang). Bukannya dapat pujian, Guru Song malah diejek. Raja pun kembali bersikap aneh.

Noksu yang sudah melihat itu dari tadi, langsung mendekati Raja dan menutupi Raja dengan roknya. Noksu menenangkan Raja kalau tidak ada apa-apa sekarang. Dari dalam rok, Raja mengangguk cepat-cepat seperti anak kecil. Kemudian Noksu mengusir Guru Song secara halus. Guru Song kaget banget karena dia malah diusir sama Noksu (yang dia pikir seorang rendahan).



Keluarga Hong sedang bergembira karena kabar tentang kemenangan Hyangjumok sudah tersebar luas. Itu akan membantu untuk melancarkan rencana mereka yang ingin melengserkan Raja Yeonsangun, tanpa perlu menumpahkan darah. 

Kemudian Gil Hyeon berkata kalau ada orang Istana yang akan menemui mereka, kebetulan itu adalah orang terdekat Raja. Dia adalah Pangeran Pyungsung. Tapi, akhir-akhir ini hubungannya dengan Raja memang tidaklah baik. Itu tentu menjadi suatu kesempatan yang bagus.


Tanpa diketahui Keluarga Hong, Pangeran Pyungsung ini sebelumnya sudah bertemu dengan Guru Song. Dalam kilas balik, Guru Song meminta Pangeran untuk bertemu Gil Dong guna menyelamatkan Raja.

Pangeran kini berhadapan dengan Gil Dong yang dikelilingi oleh Keluarga Hong. Dari atas, Guru Song mengawasi pembicaraan mereka. Tanpa basa-basi, Pangeran dengan jelas meminta agar Gil Dong dan penduduk Hyangjumok meninggalkan daerah itu sebelum ada pertempuran berikutnya.

Gil Dong tesenyum kecil dan menolak tawaran itu. Lalu Il Chung menjelaskan kalau kesempatan untuk mereka menang sangatlah besar, sebab kemenangan mereka yang sebelumnya telah tersebar di seluruh desa. Itu akan membuat warga mendukung mereka. Gil Hyeon juga menambahkan kalau ada orang tambahan yang akan mendukung mereka, yaitu orang-orang yang pernah menjadi korban yang pernah menerima hukuman dari Raja, “Apa kau pikir, orang-orang seperti kalian (org yg deket sama Raja) akan selamat?”

Selanjutnya Gil Dong berkata, “Satu cara agar kalian tetap hidup adalah, dengan mengganti Raja dengan tanganmu sendiri.”

Sontak Pangeran Pyungsung marah dan menodongkan pedangnya pada Gil Dong, tapi dia malah ditodong balik oleh pengikutnya Gil Dong. Dua pedang lagi. Ha. Gil Dong bangkit. Sebelum pergi, Gil Dong berpesan agar Pangeran memikirkan hal itu sekali lagi.



Para pejabat (termasuk Pangeran Pyungsung) terkejut saat mendengar para tahanan Raja kabur. Para pejabat kelihatan tak tenang dan agak takut. Para pejabat takut kalau para tahanan itu akan balas dendam pada mereka. Pangeran berdiri dan menyarankan agar memberitahukan hal penting itu pada Raja. Salah satu pejabat mengeluh karena Raja tak kelihatan dimana-mana.

Para pejabat itu datang ke Jangakwon. Ternyata Raja memang ada di sana, dia sedang menari memakai topeng. Para pejabat kebingungan melihat Raja yang seperti itu. Yang tambah aneh, Raja malah mengajak para pejabat untuk ikut menari bersamanya menggunakan topeng-topeng aneh itu. Para pejabat kaget, tapi mereka tak berani menolak permintaan Raja itu. Noksu dan Ja Won terkejut melihat sikap Raja yang tambah aneh. 



Sedangkan Pangeran Pyungsung hanya melihat Raja dengan tatapan tak percaya. Apalagi Raja menarinya cuma melompat-lompat kegirangan, seperti anak kecil yang kegirangan karena mendapat teman menari.


Pangeran Pyungsung menemui Guru Song untuk mendiskusikan hal tersebut. Guru Song menasehati Pangeran agar tidak melakukan pemberontakan pada Raja. Tapi selanjutnya, Guru Song berkata kalau mengganti pemerintahan tidaklah buruk, bahkan Guru Song meminta Pangeran untuk kembali menemui Gil Dong dan memanfaatkan pengaruhnya untuk mendapatkan simpati rakyat.


Pangeran berhadapan dengan Gil Dong dan menceritakan maksudnya. Pangeran berkata kalau dia ingin melengserkan Raja Yeonsangun dan meminta agar Gil Dong memberikan dukungan rakyat padanya. Gil Dong tak langsung menerima tawaran itu, sebab dia curiga pada Pangeran. Dan sebelum pergi, Gil Dong memberi peringatan keras bahwa dia akan terus mengawasi Pangeran. Pangeran cuma bengong karena merasa diremehin sama Gil Dong.



Pangeran Pyungsung juga menceritakan rencananya pada para pejabat. Para pejabat ragu kalau itu akan berhasil, tapi mereka ngga mau menyia-nyiakan kesempatan bagus, makanya para pejabat menyetujui rencana itu.

Suasana di Istana menjadi gaduh setelah tiba-tiba ada sepotong surat yang tersemat di panah yang baru saja menancap tiang. Seorang kasim membaca surat itu, dan isinya adalah peringatan kalau akan ada pemberontakan dalam waktu dekat, di surat itu juga tertulis kalau siapapun boleh bergabung jika mau. Mendengar itu, semua pelayan dan kasim behamburan dan ketakutan. Mereka kabur menjauh dari Istana.


Ja Won yang baru saja melihat kegaduhan itu langsung mengejar mereka, lalu menodongkan pedangnya pada salah satu kaism yang tertangkap. Kasim itu dengan ketakutan menjelaskan apa yang terjadi. Ja Won terkejut, kemudian melepaskan kasim itu tanpa berkata-kata.

Ja Won tak sengaja bertemu dengan Noksu di depan Istana yang sudah kosong itu. Seakan mengerti apa yang terjadi, Noksu meminta agar Ja Won menyiapkan satu pesta terakhir yang sangat spesial untuk raja. Ja Won tersenyum sambil mengangguk setuju. Hm, hubungan mereka makin membaik ya?



Raja baru saja sampai ke tempat pesta yang dimaksud, dan dia kebingungan melihat musisinya tinggal sedikit. Noksu yang sudah berpakaian cantik mendekatinya. Noksu menenangkan Raja kalau dia masih ada di sana. Raja hanya menatap Noksu kosong. Kemudian Noksu meminta Wolhamae untuk menyanyikan lagu untuk Raja. Wolhamae menyanggupinya. Dia mulai bernyanyi sambil memetik bipa-nya. Dan ya, lagunya kedengeran sedih banget. Mata Noksu berkaca-kaca.



Sedangkan di luar Istana, Pangeran dan pasukannya sedang harap-harap cemas menunggu rakyat datang untuk mendukung mereka. Tak lama kemudian, akhirnya para warga berbondong-bondong datang dengan semangat dan bergabung dengan pasukan Pangeran. Pangeran senang sekaligus agak tidak percaya kalau Gil Dong menurutinya.



Tanpa mereka tahu, Keluarga Hong melihat semuanya dari jauh. Keluarga Hong terharu melihat semangat warga yang membara.


Entah apa yang dipikirkan Soo Hak yang sekarang telah menjadi pelayan, dia malah membukakan pintu gerbang pada Pangeran dan pasukannya, lalu menunjukkan tempat dimana Raja sedang berada. Pangeran dan pasukannya pun masuk ke Istana. Dan Soo Hak sadar, dia melihat Keluarga Hong dari kejauhan. Keluarga Hong tersenyum padanya. Ha. (Mungkin Soo Hak kesal sama Raja yang udah ngejadiin dia pelayan)

Pangeran masuk ke tempat di mana Raja berada. Raja berdiri dan menatapnya marah.



BERSAMBUNG ke Ep 30 (tamat)

Komentar :

Sepertinya Noksu udah ada rasa sama Raja. Dia udah tau bakal ada pemberontakan, tapi dia tetep di samping Raja dan nemenin Raja.

NB. Satu episod lagi, harap sabar ya! 

1 komentar:

  1. aduhhh gak sabar nunggu lanjutannya nieh Mbak, tetap semangat ya!..

    BalasHapus