Kamis, 25 Mei 2017

SINOPSIS Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 26

NOW PLAYING : Red Ties - Ahn Ye-eun

Anther amzng episd that’ll make you say ‘wah’ or ‘wow’. Happy reding!


Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 26

Guru Song marah besar saat mengetahui fakta kalau Park Ha Sung yang dia bimbing selama ini adalah Gil Hyeon, kakaknya Gil Dong. Dia membanting semua barang yang ada di depannya.


Gil Hyeon memeluk Sang Hwa sambil menyebut-nyebut ‘Uh Ri Ni’. Tapi Sang Hwa malah mendorong Gil Hyeon dan berkata kalau dia bukanlah Uh Ri Ni, lalu Sang Hwa langsung pergi menjauh dari Gil Hyeon. Gil Hyeon bingung sekaligus sedih melihat sikap Sang Hwa.


Ibu Soo Hak gondok (dongkol) banget pada Gil Hyeon, dia memaki dirinya sendiri karena tak menyadari kalau selama ini Gil Hyeon ada di depannya. Pangeran juga kesal, tapi dia masih lebih sebal pada Guru Song. Makanya dia manfaatin itu buat menjatuhkan harga diri Guru di depan Raja.

Di hadapan Raja, Pangeran berkata, “Bukan tidak mungkin jika kau juga ada hubungannya dengan Pencuri Hong.. Yang Mulia, kau bukan dikhianati oleh Park Ha Sung, tapi oleh Tuan Song! Sebab dia lah yang membuat Park Ha Sung masuk ke Istana dan dekat denganmu, Yang Mulia!” Guru Song langsung menyangkal karena tak terima dituduh seperti itu. Raja bingung tak tahu harus bersikap atau ngomong apa.


Keluarga Hong mengelilingi Sang Hwa. Mereka berusaha mengingatkan Sang Hwa tentang kehidupan mereka dulu (ketika di Ikhwa-ri). Tapi Sang Hwa benar-benar tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Malamnya, Gil Dong mendekati Sang Hwa yang sedang tertidur dengan menggenggam sepotong kain yang selalu dia bawa. Sang Hwa refleks terbangun ketika Gil Dong menyentuh tangannya. Gil Dong berkata kalau dia sudah lama mencari Sang Hwa kemana-mana dan tak pernah sekalipun melupakan Sang Hwa.



Gil Dong mengeluarkan potongan kain miliknya dan menyatukannya dengan milik Sang Hwa. Cocok. Sang Hwa terkejut, tapi dia tak berkata apa-apa. “Uh Ri Ni-ya, aku adalah kakakmu, dan kau adalah adikku satu-satunya..” ucap Gil Dong sambil menangis. Kilatan ingatan Sang Hwa muncul, sayangnya itu ngga terlalu berarti. Sang Hwa menarik tangannya dan berkata dengan nada marah kalau dia bukanlah Uh Ri Ni.



Soo Hak berjanji pada Raja kalau dia akan segera membawa Park Ha Sung. Meskipun itu membutuhkan waktu. Raja menyetujuinya. 

Tapi Soo Hak jadi kesel setengah mati ketika tau kalau dia akan dikawal oleh Mori (pelayan rendahan). Soo Hak menatap Mori sinis. Mori sih santai-santai aja diliatin seperti itu. Ha. Soo Hak berkata pada Mori kalau mereka akan bekerja sendiri-sendiri. Mori mencoba menolak, tapi Soo Hak tak peduli dan pergi duluan meninggalkan Mori. (Lihat Mori, dia tersenyumkah? Ekspresinya ngga bisa ditebak XD)



Pasukan Soo Hak sampai ke gunung yang tak jauh dari tempat Gil Dong. Sebelumnya Shaman sempat bilang ke Gil Dong kalau tempat itu tak mudah ditemukan, jadi Shaman meminta semuanya tak perlu merasa khawatir. Meski begitu, Gil Dong dan Keluarga Hong tetap waspada. Apalagi Soo Hak samar-samar mendengar suara bayi menangis.

Soo Hak bertanya pada segerombolan petugas yang lewat. Salah satu dari petugas itu adalah hakim daerah. Hakim itu berbohong pada Soo Hak kalau ada banyak binatang buas yang mempunyai suara aneh, dan berkata kalau hanya ada satu jalan keluar di sana, jadi ngga akan ada tempat tinggal atau orang yang ditinggal di gunung itu. Untungnya Soo Hak mempercayai kebohongan itu, dan bergegas pergi.



Tak lama kemudian, Keluarga Hong keluar dan mendekati Hakim, lalu bertanya alasan hakim itu berbohong karena kalau sampai kebohongan itu ketahuan, Hakim itu bisa mendapat masalah yang serius. Hakim itu tertawa dan berkata, “Aku juga masih peduli pada rakyatku. Aku dengar kau menerobos Istana dan mengalahkan pada pengawal Istana? Wah, itu membuat hatiku senang...!” Keluarga Hong tertawa mendengar gurauan itu.



Noksu menginterogasi Ok Ran dan menanyakan tentang kedekatannya dengan Ga Ryung. Kemudian Ok Ran menceritakan semua yang dia tau. Dan bang! Seakan disetrum listrik, Noksu terkejut ketika mendengar kisah sepotong kain yang selalu dibawa Sang Hwa. Noksu ingat betul kalau Gil Dong juga punya potongan kain yang keliatan sangat berharga untuk Gil Dong.


Ketika semua orang tertidur, Sang Hwa kabur dari gua itu dan bertekad untuk memberitahu tempat persembunyian itu pada Guru Song. Untungnya Gil Dong dan Eobsan sadar dan mengikuti Sang Hwa dari belakang. Mereka ingin tau kemana Sang Hwa pergi.

Sang Hwa tiba di depan rumah Guru Song. Sang Hwa tersenyum ketika melihat Guru Song yang baru saja mau masuk rumah, tapi ekspresi langsung berubah ketika melihat seorang pria tua yang berjalan disamping Guru Song. Kilatan ingatan Sang Hwa muncul. Dan semakin jelas.


Kilas balik. Uh Ri Ni duduk berhadapan dengan pria tua itu. Pria tua itu mencuci otak (brainwash) Uh Ri Ni yang terlihat sangat ketakutan dengan terus berkata, “Keluargamu meninggalkanmu. Kau harus percaya dan mengikuti kami.” Dan ternyata ngga Uh Ri Ni aja yang ada di sana, ada banyak anak seumuran Uh Ri Ni yang duduk dibelakangnya. Mereka terlihat sangat ketakutan.



Kembali ke masa kini. Sang Hwa sempoyongan mengingat itu, lalu ingatan ketika dia berpisah dengan Gil Dong berputar dengan jelas di kepalanya. Sang Hwa roboh, untung Gil Dong langsung menangkapnya. Sang Hwa menatap Gil Dong dan perlahan memanggilnya dengan ‘Gil Dong oraboni’. Gil Dong menangis terharu saat mendengar namanya disebut, tapi selanjutnya Sang Hwa pingsan. 


Sang Hwa digendong Gil Dong kembali ke gua besar itu. Gil Hyeon mendekati mereka dengan wajah cemas. Sang Hwa sadar, dia tersenyum melihat Gil Hyeon dan memanggil Gil Hyeon dengan ‘Gil Hyeon oraboni’. Gil Hyeon terharu mendengarnya.


Uh Ri Ni menceritakan alasan kenapa dia bisa berakhir menjadi kelompok Geoin. Uh Ri Ni juga bercerita tentang kekejaman yang pria tua itu buat. Pria itu tega membunuh orang dengan alasan untuk dijadikan sebagai contoh untuk orang lain agar tidak melakukan pelanggaran yang sama. Keluarga Hong ngeri mendengar kisah itu.


Beralih ke Istana. Seorang musisi menatap Raja marah, dia kesal karena kehidupannya hancur karena keserakahan Raja. Entah apa yang musisi itu pikirkan, tapi musisi itu jelas sedang menentang Raja. Raja mendekatinya dan berkata, “Kau harus mati hari ini. Kau tau? Kau akan mati untuk negara ini. Kau akan menjadi contoh untuk mereka yang keras kepala sepertimu..” 

Lalu Musisi itu dibawa pergi oleh petugas. Saking beraninya, dia masih sempat mengutuk Raja dihadapan musisi-musisi lain.


Ga Ryung menceritakan dongeng buatannya pada Raja yang terlihat antusias. Tapi belum semenit, Raja langsung terlelap. Ha. Ga Ryung memasang wajah serius dan perlahan mendekati Raja. “Aku akan menunjukkan pada semua orang, hukumuan yang pantas bagi Raja yang telah membunuh rakyat-rakyatnya,” kata Ga Ryung sambil mengambil tusuk rambut dari kepalanya.Ga Ryung melayangkan tusuk rambutnya ke udara. Dan hap! Noksu menahan tangan Ga Ryung.


Noksu menarik tangan Ga Ryung keluar dan menamparnya keras. Ga Ryung histeris bukan karena ditampar, tapi karena Noksu sudah menghalanginya. Noksu berkata kalau Ga Ryung bisa mati kalau Ja Won yang melihatnya. Noksu juga bilang kalau Ga Ryung sudah berbohong padanya mengenai suaminya yang dimakan binatang buas.

“Aku ke sini memang untuk mati! Ya, suamiku adalah Gil Dong. Dan aku tak pernah berbohong. Suamiku memang dimakan binatang buas. Raja lah binatang buas itu! Aku melihat sendiri Gil Dong berlumuran darah dan digantung ditiang sana. Raja telah membunuhnya!” ucap Ga Ryung sambil menangis. Hua! Sedih. Ekspresi Noksu ngga berubah, tapi matanya berkaca-kaca mendengar pengakuan itu. Dan Noksu juga ngga bilang kalau Gil Dong masih hidup.


Raja mengirim pasukannya untuk menghabisi semua warga yang telah menentangnya. Gil Dong dan pasukannya yang telah mendengar rencana itu langsung mengambil tindakan. Keluarga Hong menghalangi jalan para prajurit Istana di tengah perjalanan mereka.


Para prajurit langsung melawan pasukan Gil Dong yang jumlahnya tak seberapa. Bisa ditebak, Keluarga Hong kewalahan melawan pasukan Raja yang jumlahnya seambrek. Meskipun kedua pasukan sama-sama memiliki persenjataan lengkap, tapi itu tak terlalu berpengaruh karena pasukan Gil Dong sangat sedikit dibanding pasukan Raja.


Melihat darah yang terus mengucur, akhirnya Gil Dong meminta Keluarga Hong untuk berhenti, dan menawarkan agar dia saja yang melawan prajurit itu, tapi tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh semua Keluarga Hong. “Kita mati, mati bersama. Dan hidup, hidup bersama!” kata Yonggae semangat.


Tiba-tiba, Bum! Dari atas gunung muncul para warga yang tinggal di gua tersembunyi itu (Gil Dong melarang mererka untuk gabung, dengan alasan keselamatan). Para ibu menggelindingkan banyak guci yang berisi minyak tanah. 

Sedang para bapak, mereka melepaskan anak panah berapi ke arah prajurit-prajurit Raja dengan rasa percaya diri, hingga membuat percikan api yang sangat merepotkan prajurit-prajurit itu. Mereka juga mengarahkan anak panah ke tubuh prajurit secara bertubi-tubi, hampir semuanya tepat sasaran. (Ngga sia-sia mereka berlatih selama ini!)



Gil Dong dan yang lain terharu melihat semangat para warga. Seakan mendapatkan energi baru, Gil Dong dan yang lain kembali menghajar para prajurit hingga mereka semua terkapar tak berdaya. Mereka semua bersorak. Yey, Keluarga Hong menang!


Raja yang tadinya sedang menikmati musik dari musisinya seketika marah besar saat mendengar pasukannya kalah oleh pasukan pemberontak. Dia membanting gelas yang ada di tangannya. Semua musisi langsung menunduk takut.


Kemenangan Keluarga Hong harus dibayar mahal, karena ada warga yang meninggal di tempat. Sebelum menghembuskan napas terkahir, dia sempat mengaku kalau dia sangat senang bisa terlibat dalam pertempuran hebat itu. 


Gil Dong sangat sedih, tapi juga marah karena dia tidak mampu menyelamatkan dia. Gil Dong berdiri dan berkata, “Aku akan membuat Hyangjumok menjadi markas pemberontakan!”


BERSAMBUNG ke Ep 27-1

NB. Hyangjumok adalah daerah yang mau diserang oleh pasukan Raja.

1 komentar:

  1. Aaaa gasabar nih nunggu ep selanjutnya. Buat penulis semangat yaaaa

    BalasHapus