Kamis, 23 Februari 2017

SINOPSIS Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 7

Di episode ini kita akan melihat hubungan Gil Dong, Gong Hwa, dan Ga Ryung yang mulai terjalin.


Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 7 

Episode dibuka Gil Dong dan Ri Ni yang terdesak di ujung tebing. Gil Dong meminta Ri Ni menutup mata. Gil Dong terpanah dan jatuh tercebur ke dalam air.

Mereka melayang di dalam air. Gil Dong mengenang perkataan ayahnya tentang Si Anak Perkasa, tiba-tiba dia membuka mata dan segera menarik Ri Ni ke permukaan air.


Kita masuk ke episode sebenarnya. Gil Dong menggendong Ri Ni yang masih pingsan, lalu menurunkannya. Gil Dong merasakan napas Ri Ni dengan jarinya, lalu Gil Dong pingsan.

Ri Ni tersadar dan membangunkan Gil Dong. Gil Dong mengigau meminta air, lalu Ri Ni berdiri sambil melepaskan ikatan kain di tangannya (Gil Dong mengikat tangannya dan tangan Ri Ni ketika berusaha kabur dari kejaran para penjahat).


Ri Ni menusuk-nusuk tanah dengan kayu. Dia tersenyum ketika melihat air mulai mengucur. Tiba-tiba di belakangnya ada seseorang, Ri Ni menoleh dan terlihat terkejut.



Gil Dong sadar dan mendapati Ri Ni yang tak ada di tempat. Gil Dong bangkit dan mulai mencari Ri Ni. Di hutan, dia bertanya pada dua orang yang mencurigakan, apakah mereka melihat gadis lewat sini? Mereka menjawab dengan takut kalau mereka tak melihat siapa-siapa, lalu mereka terkejut saat melihat punggung Gil Dong yang terpanah.


Gil Dong terus memanggil Ri Ni. Orang-orang yang berpapasan dengannya melihatnya dengan ngeri. Gil Dong melihat sekelompok gadis lewat dan mengikutinya.


Sekelompok gadis itu menari dengan diiringi musik, lalu mereka berteriak ketakutan saat Gil Dong datang menghampiri. Gong Hwa melihat kekacauan dari jauh. Dari belakang, kepala Gil Dong dipukul dan dia pun tercebur ke kolam. Pemukul itu adalah Ga Ryung.



Ga Ryung dan Gong Hwa terkejut saat melihat kalau pria itu adalah Gil Dong. Sekarang Gil Dong berada di dalam ruangan. Dia sedang diperiksa tabib, lalu tabib berkata kalau Gil Dong akan segera mati.

Gong Hwa melihat Gil Dong yang sedang tidur dan mengatakan, “kita bertemu lagi.”


Ga Ryung menyiapkan air hangat. Gong Hwa meminta air hangatnya yang membuat Ga Ryung bingung melihat sikap Gong Hwa. Lalu mereka masuk ke kamar dan terkejut saat melihat Gil Dong yang sedang minum dengan keadaan baik-baik saja.

Gil Dong berkata kalau sebentar lagi ulang tahun adiknya dan dia akan memberinya sepatu cantik. Gong Hwa dan Ga Ryung kebingungan saat mendengar Gil Dong mengatakan hal yang sama saat mereka bertemu dulu.

Gil Dong melangkahkan kakinya dan dia teringat samar-samar kehidupan yang pernah ia lalui. Gil Dong kembali pingsan.


Di tempat lain, Gil Hyeon terus memanggil Ri Ni dengan tertatih. Dia melihat dan masuk ke sebuah gubuk di tengah hutan. Gil Hyeon menyapa Tuan Rumah yang sedang duduk membelakanginya. Karena tak dibalas, Gil Hyeon menepuknya dan terkejut saat melihat Si Tuan Rumah malah terkulai lemah ke tanah.


Ga Ryung memberitahu semua gisaeng kalau Gil Dong adalah si pedagang ajaib. Dia mengaku kalau pernah bertemu Gil Dong sebelumnya. Tiba-tiba Gil Dong datang dan bertanya dimana dirinya sekarang?


Gil Dong diperiksa kembali oleh tabib. Tabib terkejut ketika mendapatkan denyut nadi Gil Dong yang baik-baik saja dan bertanya apa Gil Dong benar-benar tak ingat apapun? Gil Dong mengaku kalau dia hanya ingat samar-samar saja. Ga Ryung melihat Gil Dong mengeluarkan air mata dan bertanya mengapa Gil Dong menangis?


Gil Dong menggeleng tak tau. Gil Dong berkata kalau dadanya sesak dan membuatnya ingin terus menangis, lalu bertanya pada tabib penyakit apa yang dia derita itu? Gil Dong bercerita kalau dia ingat ketika bertemu beberapa pedagang di pintu masuk dimana harimau berada. Mendengar itu, Ga Ryung berkata, “omo, harimau itu mengambil jiwamu.”

Ga Ryung berkata kalau menurut rumor siapapun yang bertemu harimau, maka dia akan menjadi idiot. Gil Dong membalas kalau dia tak idiot. Ga Ryung mengejek Gil Dong karena tak mengingat apapun. Akhirnya mereka saling mengejek.



Gil Dong meminta panah yang pernah tertancap di tubuhnya. Gong Hwa memberikannya. Gong Hwa mengatakan bahwa Gil Dong akan sakit kepala jika mencoba mengingat terlalu keras, lalu dia menyuruh Gil Dong untuk tinggal di sana dulu sampai keadaannya kembali pulih. Gil Dong menunduk sambil berterima kasih. Gong Hwa mengingat percakapannya dengan seorang pedagang.


Kilas balik. Seorang pedagang bercerita tentang Si Anak Perkasa yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Yang bisa sembuh dengan cepat, meskipun lukanya fatal.


Gil Dong dikelilingi para gisaeng. Ga Ryung dan Wolhamae (kurasa dia pimpinan gisaeng) mendekati mereka dan mengejek Gil Dong yang sedang merayu wanita.


Seorang pedagang (yang bercerita tentang Anak Perkasa di kilas balik) mendekati Gong Hwa. Dia berkata dia mendengar kalau Gil Dong itu terluka parah, tapi sembuh dengan cepat. Gong Hwa menjawab kalau tabib telah salah mendiagnosa luka ringan. Pedagang itu bertanya, “apakah tertusuk tiga panah adalah luka ringan?” Si pedagang tertawa dan bertanya-tanya apakah Gil Dong adalah Si Anak Perkasa yang berhasi bertahan hidup?


Kilas balik. Si Pedagang bercerita kalau Si Anak Perkasa jarang muncul dan kebanyakan akan sulit bertahan hidup. Tapi, sekalinya dia berhasil bertahan hidup, Si Anak Perkasa akan mengubah dunia dan juga sejarah yang ada. 


Kembali ke dunia nyata. Si Pedagang berkata kalau pasti ada satu Anak Perkasa yang entah dimana dan dia hidup dengan menyembunyikan kekuatannya.

Ga Ryung mencuci pakaian. Dia melihat kain ikatan Gil Dong. Gong Hwa meminta kain itu karena dia sendiri yang akan memberikannya pada Gil Dong. Di kamar, Gong Hwa malah menyimpan kain itu ke dalam kotak.


Gil Dong meminta izin pada Gong Hwa kalau dia akan mencari tau darimana panah itu berasal untuk mendapatkan ingatannya kembali. Sebelum Gil Dong pergi, Gong Hwa bertanya apakah Gil Dong tak ingat percakapan mereka saat di Cheongeumnu? Gil Dong tak mengerti, lalu Gong Hwa bilang itu bukan apa-apa dan menyuruh Gil Dong pergi.


Gil Dong menghampiri sekelompok pemburu di hutan dan bertanya tentang panah itu. Mereka mengaku kalau itu bukan panah yang mereka pakai dan mereka berkata kalau ada pemburu lain yang suka mengambil hewan dari trap yang mereka pasang. Gil Dong meminta ikut karena dia ingin menemukan yang orang membidik panah itu. Para pemburu menolak karena tak mau terlibat masalah balas dendam Gil Dong. Gil Dong memohon dan dia berkata kalau larinya sangat cepat. Gil Dong berlari sambil menoleh ke belakang dan BUK! Dia menabrak pohon dan membuat para pemburu tertawa.


Ga Ryung dan Gil Dong menemani Gong Hwa ke tempat Tuan Kim. Pintu digeser dan Gong Hwa mulai bernyanyi diiringi Janggu (gendang tradisional Korea) yang dimainkan Gil Dong. Gong Hwa bernyanyi sambil menari dan membuat orang-orang yang mendengar suaranya sampai merinding.


Salah satu pria tua memeluk Gong Hwa, lalu pria yang lebih muda meminta maaf pada Gong Hwa dan meminta agar Gong Hwa menuangkan minuman saja. Gong Hwa menolak secara halus. Si Pria Tua hendak memeluk lagi, tapi Gil Dong mencegahnya sambil menatap tajam kedua Tuan tersebut. Sesaat kemudian Gil Dong tersenyum dan bertanya haruskah pestanya dimulai?


Gil Dong melucu dengan monolog konyolnya di hadapan para Tuan dan berhasil membuat orang-orang tertawa.

Mereka keluar ruangan. Gong Hwa bertanya kenapa Gil Dong melakukan itu? Gil Dong menjawab kalau dia tak ingin Gong Hwa bicara dengan sampah-sampah itu. Dia berkata kalau Gong Hwa adalah seniman. Gong Hwa berkata pelan kalau semua gisaeng juga menari dan menari. Gil Dong menegaskan kalau Gong Hwa adalah seniman dan dia berkata, “mungkin para Tuan itu terlihat seperti seorang sarjana, tapi mereka tak tahu apa-apa tentang seni.” Ga Ryung bertanya memangnya Gil Dong tau seni?

Gil Dong menjawab tentu saja karena dia telah mengelilingi penjuru negeri, bahkan dia tau kenapa Sungai Amnok memiliki warna biru yang mengagumkan yang sering orang sebut ‘Noksu’. Gil Dong menambahkan disebut Noksu karena mereka berada dalam kesedihan. Gong Hwa bergumam, “Noksu.”


Ga Ryung membantu Gong Hwa menuruni tangga. Gil Dong yang sudah di depan kembali dan menggendong Gong Hwa. Gong Hwa tersenyum. Ga Ryung memasang wajah cemberut dari atas tangga. Setelah menurunkan Gong Hwa, Gil Dong kembali naik dan menggendong Ga Ryung. Ga Ryung tersenyum lebar. (Suka banget ngeliat mereka^^)



Ga Ryung ingin ikut menari, tapi ditolak oleh Wolhamae dengan alasan Ga Ryung itu jelek. Dari belakang, Gil Dong berkata Ga Ryung adalah gadis tercantik yang ada di sini. Ga Ryung  tersenyum malu.

Ga Ryung, Gil Dong, dan Gong Hwa berjalan melewati gunung yang di penuhi tanaman. Gong Hwa mulai bernyanyi sebuah lagu yang bercerita tentang gunung dan Noksu. Gil Dong mengiringinya dengan Janggu dan ikut bernyanyi. Ga Ryung melihatnya dengan kagum, dia memuji Gong Hwa yang cantik. Nyanyian mereka terhenti ketika seorang anak kecil memanggil, “ibu.”



Gong Hwa dan Wolhamae ada di kamar. Gil Dong masuk dan diperintahkan oleh Wolhamae untuk memberi uang pada anak itu. Wolhamae berkata harusnya Gong Hwa memberi anaknya makan. Gong Hwa dengan mata berkaca-kaca berkata kalau dia tidak memiliki hati seorang ibu, dia adalah monster. Gil Dong menghentikan langkahnya dan menoleh pada Gong Hwa.


Gil Dong menemui anak Gong Hwa di luar dan memberikan uang. Gil Dong baru mau memberikan syalnya, tapi tiba-tiba seorang pria (sepertinya suami Gong Hwa) merampas uang yang ada di tangan anaknya dan membawa anaknya pergi.


Gil Dong masuk ke ruangan Gong Hwa dan memberitahu kalau dia telah memberi anak itu permata. Gong Hwa bercerita kalau ibunya adalah seorang gisaeng di pemerintahan. Ibunya menikah tiap ada gubernur baru. Dan pada suatu saat, ada gubernur yang berumur 60 tahun, gubernur itu malah meminta Gong Hwa untuk menjadi istrinya. Gong Hwa berkata kalau dia tak akan memaafkan orang itu, makanya dia butuh kekuatan. Kekuatan yang bisa membuang mereka ke lubang api. Gong Hwa berkata hatinya telah membeku sekalipun putranya itu memanggilnya ‘ibu’. Gong Hwa menyebut dirinya monster.


Gil Dong mendekati Gong Hwa dan memeluknya sambil menepuk-nepuk pelan. Gong Hwa menangis. Gil Dong berkata kalau Gong Hwa bukan monster karena Gong Hwa menangis. Gil Dong menatap Gong Hwa dan mengatakan kalau dirinya pernah berkata jika mereka bertemu lagi, itu artinya mereka ditakdirkan untuk bersama. Lalu Gil Dong mencium Gong Hwa.


Si Pedagang (yang bercerita perihal Anak Perkasa) melihat Gil Dong yang sedang tidur. Lalu dia mengambil arang yang membara dan meletakkannya pada tubuh Gil Dong. Gil Dong mengerang kesakitan. Dia meminta maaf karena tak sengaja melakukannya dan berkata kalau dia punya obatnya. Dia berlari keluar dan Gong Hwa pun masuk, lalu menyusul Si Pedagang. Si Pedagang mengaku kalau dia ingin tau apakah Gil Dong adalah si Anak Perkasa atau bukan.



Si Pedagang mengintipi Gil Dong. Ga Ryung memergokinya dan bertanya mengapa dia mengintip orang mandi? Ga Ryung mencoba mengintip dan terpesona dengan tubuh Gil Dong yang atletis. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Si Pedagang yang menghilang. Ga Ryung mengintip lagi, tapi sudah tak ada Gil Dong.


Tiba-tiba telinganya dijewer Gil Dong dari belakang. Ga Ryung menggigit tangan Gil Dong dan kabur. Gong Hwa datang dan memberi pakaian pada Gil Dong. Dari jauh, Ga Ryung melihat mereka yang saling tersenyum.


Kilat menghiasi langit Joseon. Kita dibawa ke dalam Istana. Lee Yong berlari menghampiri ayahnya yang sedang terbaring lemah. Raja berbicara tentang Konfusiusme dan Mencius. Lee Yong bertanya apakah menendang dan membunuh istrinya sendiri adalah kehendak Konfusius? Raja berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Lee Yong mendekati Raja dan berbicara pelan, “apa Ayah pikir aku tak tahu kalau ibunya dibunuh?” Lee Yong juga mengatakan kalau dia adalah putra dari ratu yang diturunkan. Raja terkejut dan mulai muntah darah.



Kita beralih ke hutan. Gil Dong sedang menghangatkan tangan bersama para pemburu. Salah satu pemburu melihat orang yang mengambil hewan dari jebakan yang mereka pasang. Gil Dong mengejarnya dan berhasil menangkapnya. Orang itu (orang mencurigakan yang pernah ditanyai Gil Dong di hutan) terkejut melihat Gil Dong yang sehat-sehat saja. Gil Dong mulai mengingat kejadian mengerikan yang dia pernah alami.

Gil Dong berjalan lunglai melewati orang-orang berpakaian putih yang memanggil-manggil nama Raja. (Sepertinya Raja udah meninggal)


Di sebuah gudang, Ri Ni duduk sambil memandang kain yang terikat di tangannya. Pintu gudang terbuka. Di tempat lain, Gil Hyeon membaca sebuah buku catatan seorang putra generasi ke-31 dari keluarga Park. Di sana tertulis kalau siapapun yang menemukan catatan itu, diminta agar mengabulkan permintaan yang ada di dalamnya.



Kita beralih ke sebuah rumah tua. Seorang pria berpakaian putih sedang melihat keadaan sekitar. Dia adalah Eomjachi! Eomjachi berkata kalau dia kembali dan tak ada siapapun di sini. Terdengar suara erangan seseorang. Lalu Eomjachi membuka sebuah pintu. Di sanalah Amogae berada.



BERSAMBUNG ke Ep 8

Komentar :

Dugaanku sepertinya benar.. Eomjachi tak bermaksud mengkhianati Amogae. Tapi, itu cara ngeluarin Amogae gimana ya? Mengingat kasus Amogae kan diawasi sama Pangeran.

Aku rasa hubungan Gil Dong sama Gong Hwa terlalu cepat.. Aku nggak yakin Gil Dong beneran suka atau sekedar kasian sama Gong Hwa. Entahlah. Yang jelas aku suka saat Gil Dong, Gong Hwa, dan Ga Ryung bersama dan aku juga suka Gil Dong sama Ga Ryung saling meledek satu sama lain. Huh, sepertinya akan ada cinta segitiga nih.


3 komentar:

  1. Makin seru aja nih lanjut min ☺☺☺

    BalasHapus
  2. padahal aq berharap gil dong sama ga ryung.. tp malah sama gong hwa.. :-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku jg berharap gitu haha

      Hapus