Rabu, 08 Februari 2017

SINOPSIS Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 1


Cerita klasik korea, bercerita tentang Robinhood versi Joseon. Happy reading!

Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 1


Adegan diawali dengan suara seorang laki-laki dewasa yang sedang menceritakan cerita Hong Gil Dong pada seorang anak kecil. Dia mengatakan bahwa Gil Dong itu sekuat beruang,  secepat harimau, dan lukanya bisa sembuh dalam semalam, seperti seorang jenderal. Makanya dia menyimpulkan kalau Gil Dong itu sangat berbahaya. Tapi, suatu saat Gil Dong dikabarkan mati bersama seluruh anggota keluarganya dan yang membunuhnya adalah Raja.

Musim Dingin tahun 1505, Pemerintahan ke-11 Raja Yeonsangun.


Seorang wanita, yang kita tahu bernama JANG NOK SU (Lee Ha-nui), sedang bersenandung di kursi dengan mata terpejam setelah selesai mandi. Masuklah seorang laki-laki yang bernama LEE YONG (Kim Ji-suk) dan memberi isyarat kepada dayang yang sedang merias Nok Su agar jangan bersuara (biar nggak ganggu Nok Su yang lagi bersenandung), seakan mengerti, dayang keluar ruangan. Mendengar suara Lee Yong, Nok Su tersenyum, tapi ketika Lee Yong mengatakan bahwa Hong Gil-dong mencari dirinya (Lee Young), senyuman Nok Su langsung hilang. Lee Yong bercerita bahwa dia mendengar kalau Nok Su dan Hong Gil Dong saling mengenal sebelumnya.


Adegan beralih ke suatu tempat dimana seorang gadis yang bernama SONG GA RYUNG (Chae Soo-bin)  tergantung di tiang dengan mata terikat kain dan di sanalah HONG GIL DONG (Yoon Kyun-sang) berada. Pasukan lawan menuntut untuk membuka gerbangnya, jika tidak, maka Ga Ryung akan mati. Ga Ryung menegaskan bahwa Hong Gil Dong jangan lemah hanya karena dirinya. Dengan berlinang air mata, Hong Gil Dong menarik panah dan melepaskannya tepat mengenai dada Ga Ryung.


Adegan beralih, Lee Yong yang mengenakan pakaian kebesarannya, ya dia adalah Raja Yeonsangun, bertemu dengan Hong Gil Dong di suatu tempat yang jauh dari keramaian. Lee Yong bertanya dengan nada marah, siapa Hong Gil Dong sebenarnya, apakah keturunan Goryeo yang telah dimusnahkan atau anak selir yang dia pernah lawan? Hong Gil Dong tersenyum, lalu menjawab kalau tebakan Lee Yong salah semua, dia hanyalah anak dari ayahnya. Ayahnya adalah seorang pelayan yang bernama Amogae.

Lee Yong tak percaya, baginya tak mungkin seorang pelayan rendahan punya anak seperti Hong Gil Dong. Lalu, Hong Gil Dong membalas, “Lalu..kenapa kamu menjadi pria rendahan seperti ini, padahal terlahir sebagai seorang Raja.”


Kita mulai di episode yang sebenarnya. Hong Gil Dong bercerita tentang ayahnya. Ayahnya adalah seorang pelayan yang bernama Amogae  yang  berarti Tanpa Nama. Sampai mati pun ayahnya selalu memanggil anaknya dengan cara yang sama, ‘Gil Dong ah, Gil Dong ah’.

Adegan berlanjut ke seorang wanita yang sedang mencuci tutup panci, dia ibu Hong Gil Dong GEUM OK (Shin Eun-jung), dia dikagetkan oleh suaminya, ayah Hong Gil Dong AMOGAE (Kim Sang-joong), dari belakang dan bilang kalau kelakuannya itu bisa menyebabkan keguguran karena kaget. Amogae bertanya apakah istrinya hamil lagi? Dan menawarkan agar membuat anak lagi. Istrinya tertawa malu.

Amogae menarik tangan istrinya sampai berdiri, lalu dia menggantikan pekerjaan istrinya. Istrinya melarangnya, tapi Amogae menolak dan meminta istrinya untuk meluruskan punggungnya sejenak. Setelah menepuk pelan bahunya, istrinya bertanya pada suaminya tentang anaknya Sam Seon yang mati secara tak wajar, istrinya bilang kalau orang desa mengatakan bahwa Anak Perkasa telah mati. Suaminya berkata kalau Anak Perkasa hanyalah omong kosong. Tiba-tiba istrinya bilang, “Apakah kau lakukan jika aku melahirkan Anak Perkasa?” Amogae bergurau bahwa dia akan menyingkirkan anak itu.


Pembicararaan mereka terhenti ketika anak tertua mereka (sekitar 7 tahun) membawa seorang bayi yang sedang menangis. Geum Ok lalu menyusuinya. Tiba-tiba ada seorang wanita yang mengingatkan Geum Ok agar Tuan Muda yang harus didahulukan daripada anaknya (ternyata bayi itu anaknya alias Hong Gil Dong). Geum Ok menyerahkan bayinya pada Amogae dan bergegas masuk ke dalam. Amogae berkata pada bayinya, apapun yang terjadi, namanya adalah Gil Dong. Amogae mengayun bayinya ke atas dengan penuh kasih sayang sambil memanggil, “Gil Dong ah” berkali-kali.


Amogae kecewa karena dia tidak diizinkan pulang oleh atasannya. Amogae bertekad kalau tahun depan dia harus keluar. Istrinya berkata tidak apa-apa jika harus tinggal di sana dulu (tempatnya dipenuhi jerami..), lagipula mereka tidak akan kelaparan. Amogae lalu berbalik untuk melihat Gil Dong (bayinya megang semacem cangkul, gokil abis). Gil Dong tertawa senang.


Gil dong sudah besar (sekitar 5 tahun?). Dengan mudah Gil Dong membengkokkan cangkul yang pernah dipegangnya dulu. Kegiatannya terhenti ketika kakaknya memanggil untuk segera keluar. Di luar sudah berkumpul anak-anak seumuran mereka. Mereka diminta mencari batu di gunung. Setelah beberapa lama naik gunung, anak-anak lain terlihat lelah ketika di atas gunung, tapi tidak dengan Gil Dong yang masih terlihat bugar bahkan dia terlihat sedang menikmati perjalanan ini. Kakaknya terbangun dan menyadari bahwa Gil Dong tidak ada.

Dimana Gil Dong? Ternyata dia ada di tempat dimana anak-anak lain telah berkumpul. Kakaknya ikut bergabung dengan yang lain, dan berterima kasih pada Eob Seon  yang tadi telah mengejeknya di gunung, dia mengira bahwa Eob Seon yang membawakan batunya.

Gil Dong menghampiri ibunya dan meminta beras renyah. Ibunya terlihat kesusahan mengangkat tempayan (kendi besar), lalu menyarankan agar Gil Dong bermain saja dulu. Ibunya bergegas. Gil Dong melihat tempayan dengan instens, lalu membuat gerakan seperti sedang mengupil. (kayaknya Gil Dong kalo mau ngambil keputusan, dia selalu membuat gerakan mengupil deh, ha)

Geum Ok meminta bantuan suaminya, tapi tempayan malah tak ada di tempat. Perhatian mereka teralih setelah mendengar Gil Dong bernyanyi. Geum Ok terkejut, bagaimana tempayannya ada di sana?


Akhirnya Geum Ok menghidangkan nasi renyah. Sambil makan, kakak Gil Dong bercerita bahwa Eon Seon telah membawakan batunya. Gil Dong mengaku bahwa dia yang membawanya. Ibunya mengiyakan menganggap itu hanya gurauan Gil Dong. Gil Dong makan dengan lahap dan banyak, ayahnya memberinya tambahan nasi, dan melirik Gil Dong dengan tatapan ‘sepertinya ada yang aneh’.



Adegan beralih ke tempat dimana ada semacam pertunjukkan. Sirkus ala Joseon. Banyak orang yang menonton karena memang banyak keahlian yang ditampilkan.

Di sana ada satu kelompok bernama Hwal Ryeok yang menawarkan ‘kekuatan’ jika ada yang mau bergabung dengannya. Contohnya, ada anggota Hwal Ryeok yang bisa mematahkan besi/kayu dengan kepalanya. Gil Dong berkata kalau itu bukan apa-apa, lalu Tuan Muda (kusebut begitu karena dia mengenakan pakaian bangsawan) menantang Gil Dong untuk membuktikan ucapannya. Gil Dong maju dengan percaya diri.

Ketua Hwal Ryeok memastikan, apakah Gil Dong bersunguh-sungguh. Lalu dia meminta rekannya untuk mengambil yang asli. (Lah, ternyata yang tadi kayu boongan, haha)



Dengan sekuat tenaga Gil Dong mematahkan kayu itu. Retak. Semua orang terkejut. Tapi, terhenti ketika ayahnya datang untuk menghentikannya. Semua orang berbisik apakah Gil Dong adalah Si Anak Perkasa itu?

Amogae mengambil kayu palsu dan mematahkannya dengan mudah, lalu berteriak kalau semua orang telah ditipu. Semua orang nampak percaya dan merasa tertipu, tapi Gil Dong kebingungan karena dia yakin tadi kayu asli. Amogae mengajak anak-anaknya pulang.


Malamnya, Geum Ok menemani suaminya yang belum tidur. Suaminya bercerita kalau dulu dia sangat kuat, sampai kepala desa bilang kalau kekuatannyanya itu membawa ketidakberuntungan. Istrinya bertanya, apakah suaminya sekuat Anak Perkasa? Amogae menjawab, mungkin saja, tapi kekuatannya telah hilang karena dia terlalu takut untuk menggunakannya. Amogae meminta istrinya untuk menjaga Gil Dong karena Gil Dong itu emosian. Geum Ok mengiyakan dengan sedikit bingung.


Tuan Muda meledek Gil Dong soal kayu kemarin. Gil Dong mengatakan kalau dia tidak berbohong. Tuan Muda menantangnya lagi untuk mematakan kayu yang ada di sebelahnya. Gil Dong menolak, lalu Tuan Muda mengancam akan mengusir Gil Dong dan keluarganya sambil terus mengejek Gil Dong yang tukang bohong. Gil Dong marah. Lalu Gil Dong menendang batu (berbentuk pot) dan hampir mengenai Tuan Muda, untung  ibunya datang tepat waktu untuk menangkap Tuan Muda.

Ibu Soo Hak (Tuan Muda) keluar memanggil histeris anaknya. Soo hak mengadu pada ibunya kalau Gil Dong pelakunya. Geum Ok membela anaknya, tapi dia malah ditampar.



Gil Dong diikat di tiang dan menyaksikan ibunya dicambuk ranting oleh ibunya  Soo Hak. Gil Dong berjanji dia tidak akan memaafkan mereka, sekalipun dia adalah Tuan Muda.

Amogae berlutut pada Tuan Muda untuk memaafkannya. Kemudian, Amogae ke tempat Gil Dong dan istrinya berada. Amogae berkata kalau dia akan memberi hukuman pada Gil Dong, lalu dia menyeret Gil Dong (nyeretnya kayak karung beras).


Gil Dong dibawa ke hutan. Ayahnya mengangkat kayu, siap memukul, tapi untungnya ditahan. Gil Dong memeluk ayahnya sambil menangis.


Setelah melapor pada atasannya bahwa dia tidak bisa menghukum anaknya. Sebagai gantinya, Amogae meminta agar mereka mengeluarkan keluarganya. Amogae bahkan menjanjikan katun untuk tiap seafood kering yang bentar lagi akan basi. Atasannya terlihat ragu. Amogae meyakinkannya.

Adegan beralih ke tempat minum. Ayahnya membiarkan Gil Dong untuk mencicipi arak (jangan ditiru ya). Amogae mengatakan bahwa dia akan pergi bekerja, tapi entah kapan dia pulang. Kemudian Amogae bercerita tentang Si Anak Perkasa. Ceritanya ada di awal episode ini.

Gil Dong terkesan. Ayahnya bilang, tidak seperti itu, Raja tidak akan membiarkan Anak Perkasa lahir dari keluarga pelayan.


Amogae bertanya, “Lalu apa yang harus dilakukan Si Anak Perkasa agar bisa menyelamatkan keluarganya?” Amogae meletakkan jarinya dibibir yang artinya diam dan tutup mulut. Dia menambahkan kalau Si Anak Perkasa tidak boleh menampakkan kekuatannya apapun yang terjadi. Gil Dong mengangguk mengerti.


Keesokan harinya, Gil bersaudara mengantar ayahnya dari kejauhan. Mereka berteriak meminta kue beras dan gula madu untuk oleh-oleh. Gil Dong bilang pada ayahnya agar cepat pulang. Mereka menangis.


Desa Gaeseong. Amogae telah sampai di pasar setempat dan mulai menawarkan dagangannya. Tiba-tiba ada sekelompok orang ribut sambil berlari mengejar seorang penjahat. Alih-alih ngebantuin nangkep, Amogae malah nendang kursi yang ada di dekatnya sehingga membuat pengejar berjatuhan dan penjahat lolos. Penjahat menoleh ke belakang dan melihat Amogae dengan tatapan terkejut. Lalu penjahat melanjutkan larinya sebelum tertangkap.


Amogae terlihat lesu karena ikannya masih utuh. Datanglah, sekelompok orang. Ada penjahat yang tadi Amogae tolong di antaranya. Kemudian, penjahat itu menraktirnya minum dan bertanya kenapa Amogae menolongnya? Amogae menjawab, “Cuma mau aja.”

Penjahat menebak kalau Amogae adalah pelayan yang mau jual ikan kering yang nggak akan terjual karena basi. Amogae bertanya, “apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa mendapat uang di sini?”

Ternyata si penjahat dan si kusut (belum tau namanya, aku sebut kusut karena rambutnya emang kusut) mengajaknya ke tempat yang banyak gisaengnya. Si penjahat bilang bahwa mereka akan mencuri makanan yang ada di dalam rumah itu karena sedang ada perjamuan makan utusan Dinasti Ming. Amogae tak mengerti, lalu si kusut menyebutkan semua jenis makanan yang dihidangkan. Makanan itu akan dijual di tempat gisaeng yang diperkirakan akan laku keras. Amogae akhirnya setuju.


Keesokan harinya, Amogae menjalankan misinya. Amogae bersembunyi di balik jerami dan keluar setelah penjaga menutup gudang makanan. Amogae sempat ternganga dan mencicipi beberapa makanan. Tim penjahat nunggu di luar dan telah menyiapkan gerobak untuk menyimpan makanannya. Lalu beberapa dari mereka menyelinap dengan memanjat tembok dan meminta Amogae untuk mengoper makanannya lewat jendela.


Makanan dikeluarkan sampai kosong. Si penjahat meminta Amogae bersabar sampai pagi tiba. Amogae mengangguk dengan ragu.

Setelah di luar. Si kusut menyebut Amogae sangat bodoh, lalu mereka tertawa.

Merasa ada yang tidak beres, Amogae kembali membuka jendela. Anehnya malah terkunci. Ternyata dari luar ditahan kayu, jadi nggak bisa terbuka. Dia merasa bodoh. Amogae melihat barang-barang di sekelilingnya dengan teliti.


Keesokan harinya, penjaga makanan terkejut melihat makanannya hialng semua, lalu dia memanggil prajurit. Ketika prajurit masuk, terdengar suara rintihan. Ya, itu Amogae. Tapi, dia keliatan babak belur. Good idea! (kita tau kalo Amogae cuma pura-pura)


Amogae dipindahkan di sebuah kamar dengan penjaga makanan dan seseorang yang sedang memeriksa tubuhnya. Amogae terlihat kesakitan. Penjaga makanan bertanya apakah Amogae ingat muka pelakunya, Amogae mengangguk. Lalu si penjaga makanan memanggil pelukis untuk melukis pelakunya.


Si kusut melapor pada si penjahat bahwa wajahnya telah tersebar dimana-mana. Si penjahat tak yakin, lalu si kusut menarik paksa tangan si penjahat untuk melihatnya sendiri.



Baru ingin melangkah pergi, si penjahat malah dijegat prajurit dan langsung mencocokkannya. (aku ngakak, entah dia terlalu santai atau emang dodol)

Si penjahat pun ditangkap.

Prajurit telah mengumpulkan semua orang yang punya tahi lalat di muka. Amogae diminta menunjukkan mana pelakunya.


Si penjahat terlihat gelisah. Lalu dia melepas tahi lalat dan memakannya. Amogae mendekat. Prajut bertanya apakah dia pelakunya?  Si penjahat memasang tenang, tapi bergerak seperti orang yang lagi deg-degan. Amogae malah menjawab bukan si penjahat pelakunya. Si penjahat terkejut (ekspresinya sama ketika Amogae membantunya pertama kali).


Si penjahat makan-makan dengan timnya. Tapi, si penjahat sendiri keliatan tak nafsu makan. Mungkin dia mikirin Amogae?

Selesai makan, dari belakang Amogae mengancam si penjahat dengan benda tajam dilehernya (si penjahat). Amogae menuntut bagiannya.



Akhirnya Amogae mendapatkan apa yang dia mau. Sebelum pergi, si penjahat bertanya mengapa Amogae tak melaporkannya? Amogae pun memberikan jawaban yang sama, “Cuma mau aja.”

Amogae juga menawarkan kalau si penjahat bisa mengunjungi kapan aja.



Beralih ke tempat dimana Amogae sedang berjalan pulang. Dan anaknya yang selalu menunggu kepulangannya. Amogae pulang dengan suasana hati yang baik.

BERSAMBUNG ke Ep 2

Komentar :

Aku seneng, menurutku ini awal yang cukup menarik. Alurnya juga sangat cepat dan tidak bertele-tele. Aku harap drama ini konsisten sampai akhir. Sosok Amogae juga sangat menyenangkan. Apalagi pertemuannya dengan si penjahat itu. Aku harap mereka bisa berteman haha. 


FYI, drama ini tayang bersamaan dengan  drama hits DEFENDANT dan HWARANG. Episode pertama ini Rebel berhasil mendapat 9%. Aku harap drama ini mendapat rating yang pantas hehe. Aku tegaskan kalau rating nggak nentuin drama itu bagus atau engga yaa, tapi bisa untuk ngukur tingkat ketertarikan orang terhadap drama tsb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar