Jumat, 24 Februari 2017

SINOPSIS Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 8

Di episode ini banyak kejadian yang cukup seru!


Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 8

Episode dibuka dengan Gong Hwa yang sedang berjalan, dia mengunjungi sebuah rumah. Lalu keluarlah Si Pedagang yang berpakaian putih-putih. Si Pedagang berkata kalau dunia ini terbalik. Gong Hwa tak mengerti. Si Pedagang berkata kalau Gong Hwa akan segera tahu. Lalu dia berkata kalau Gil Dong tidak bisa menjadi Anak Perkasa, lalu Si Pedagang pergi meninggalkan Gong Hwa.



Kita beralih ke istana. Lee Yong mempersilahkan Sangjeon (petugas pemerintahan) masuk. Masuklah Si Pedagang (selanjutnya ku sebut Sangjeon) dan Lee Yong langsung berlutut sambil meminta tolong. Sangjeon berkata kalau dunia telah terbalik dan dia juga bilang Lee Yong akan menjadi penguasa dunia.


Kita masuk ke episode sebenarnya. Semua orang berpakaian putih-putih sambil memanggil nama Raja. Raja mereka baru saja meninggal. Ga Ryung bertanya pada Wolhamae apakah tempat gisaeng harus tutup dulu? Wolhamae mengiyakan karena jika ada pejabat ketahuan pergi ke tempat gisaeng di waktu seperti ini, dia akan terkena hukuman.


Ga Ryung melihat Gil Dong dan mengikutinya. Gil Dong dengan tatapan kosong bertanya keadaannya saat dia datang ke sana pertama kali. Lalu Ga Ryung menjelaskan keadaan Gil Dong yang sangat kacau dengan tangan yang terikat kain.


Gil Dong membuka kotak dan menggenggam erat sepotong kain itu. Gil Dong berkemas, lalu Gong Hwa masuk sambil bertanya tujuan Gil Dong. Gil Dong berkata kalau dia telah mengingat semuanya. Dia juga berkata kalau ini bukan salah Gong Hwa, dirinya sudah terpikat oleh Gong Hwa dan lupa kalau dia telah kehilangan adiknya sendiri. 


Gong Hwa menggenggam tangan Gil Dong dan bertanya apakah Gil Dong akan meninggalkannya seperti ini? Gil Dong berkata kalau dia akan segera kembali.


Gil Dong mulai mencari Ri Ni dan bertanya pada semua orang yang perpapasan dengannya. Sampailah Gil Dong di Ikhwa-ri. Gil Dong melihat Ikhwa-ri yang sudah berubah menjadi mengenaskan. Kotor, kumuh, dan sedikit orang yang berlalu lalang (pas ada Amogae rame bener). Tiba-tiba ada yang mengenali Gil Dong. Gil Dong memanggilnya Tuan. Lalu ayah Eobsan keluar dan memeluk Gil Dong. Ayah Eobsan sekarang bisu.


Tuan menjelaskan kalau semua orang di Ikhwa-ri telah ditangkap dan dihukum (Ikhwa-ri tempat para budak yang melarikan diri). Gil Dong bertanya kenapa ayah Eobsan tak mengikuti Eobsan saja? Tuan menjawab kalau ayah Eobsan tak mau merepotkan Eobsan bahkan sempat mengancam untuk bunuh diri jika Eobsan tak pergi. Gil Dong menggenggam tangan ayah Eobsan. Lalu Gil Dong bertanya keberadaan ayahnya. Tuan berkata kalau Amogae telah meninggal saat dicambuk.


Gil Dong pergi ke makam ibunya. Dia bertanya apakah ayah, kakak, dan adiknya pernah ke sini? Gil Dong menangis. Gil Dong bersandar hingga malam di makam ibunya sambil berkata kalau ibunya tak perlu khawatir karena dia akan menemukan Gil Hyeon dan Ri Ni.


Wolhamae bercerita pada Gong Hwa kalau Raja yang baru suka bernyanyi dan menari. Gong Hwa menebak kalau Raja pasti mata keranjang. Wolhamae menyarankan agar Gong Hwa bergabung ke Jangakwon (pusat nasional untuk pentas seni tradisional Korea) dan memikat Raja. Tiba-tiba Ga Ryung datang, dia melaporkan kalau Yong Shim (salah satu gisaeng) matanya dicolok oleh Hakim karena dituduh telah berselingkuh.


Gisaeng lain berkumpul di kamar Yong Shim. Mereka terus menangis. Tiba-tiba Gong Hwa berteriak meminta agar semuanya berhenti menangis. Gong Hwa bertanya apakah dengan menangis akan ada yang datang untuk bersimpati pada mereka? Gong menggeleng sambil berkata kalau tak ada satupun yang akan menyelamatkan mereka. Lalu Gong Hwa keluar kamar.


Gong Hwa menangis di dalam kamarnya. Wolhamae meminta maaf dan menyuruh Gong Hwa untuk berhenti menangis. Wolhamae berkata kalau dia tak bermaksud menjual Gong Hwa pada Raja, dia hanya ingin Gong Hwa tak menyia-nyikan bakatnya. Lalu Gong Hwa berkata kalau besok dia akan bergabung dengan Jangakwon.


Gil Dong kembali ke tempat gisaeng. Dia mendapati ruangan Gong Hwa yang telah kosong. Dari belakang, Ga Ryung berkata kalau semua orang telah pergi kecuali dirinya. Ga Ryung bilang kalau dia menunggu Gil Dong kembali. (aww)


Ga Ryung mengekori Gil Dong pergi. Gil Dong berhenti dan meminta agar Ga Ryung berhenti mengikutinya. Ga Ryung malah berkata, “Kau pasti penjahat. Orang tak akan curiga jika aku ada bersamamu. Kau bisa bilang aku ini adikmu jika nanti ada yang bertanya.” Ga Ryung menambahkan kalau dia akan berbicara sopan pada Gil Dong mulai sekarang. (karena sebelumnya Ga Ryung selalu meledek Gil Dong)


Gil Dong menyewa kamar untuk bermalam. Karena tak ada kamar kosong lagi, terpaksa Gil Dong sekamar dengan Ga Ryung. Setelah masuk, Gil Dong langsung berbaring dan tidur. Ga Ryung menatap Gil Dong yang tertidur pulas.


Gil Dong terbangun dan mendapati Ga Ryung yang sedang tidur disebelahnya. Dia keluar dan menatap langit. Lalu dia mulai bernyanyi lagu tentang gunung dan Noksu. Di tempat lain, Gong Hwa juga menyanyikan lagu yang sama.



Gong Hwa berhenti bernyanyi karena seseorang memasuki ruangan. Dia adalah Lee Yong yang dikawal oleh Sangjeon. Lee Yong duduk dan semua anggota Jangakwon mulai bernyanyi. Mereka menyanyikan lagu tentang jenis-jenis orang yang hidup di Joseon yang dilambangkan oleh bunga.



Lee Yong menghela napas ketika nyanyian selesai. Dia berkata kalau nyanyiannya itu tak mencapai level musik yang tepat. Lalu dia berdiri dan meninggalkan ruangan. Sangjeon menatap Gong Hwa sebelum keluar.

Ga Ryung mengikuti Gil Dong ke pasar untuk membeli beberapa makanan. Lalu mereka pergi ke makam Geum Ok (ibu Gil Dong). Ga Ryung memperhatikan Gil Dong. Tiba-tiba Eomjachi datang dan terkejut saat melihat Gil Dong.


Eomjachi mengajak Gil Dong menemui ayahnya. Gil Dong menangis saat melihat keadaan ayahnya. Amogae mengusap pipi Gil Dong. Lalu Gil Dong memeluk ayahnya.


Di tempat lain Gil Hyeon memakai pakaian bagus bak bangsawan. Dia pergi ke pasar dan semua orang yang melihatnya pada menunduk hormat pada Gil Hyeon. Gil Hyeon mendekati para pemuda yang sedang membaca pengumuman ujian khusus negara. Salah satu pemuda mengatakan bahwa siapapun yang lolos di seleksi ini, maka akan mendapat posisi penting.


Gil Hyeon menjauh dari sana, lalu dia melihat orang yang menjual tinta dan kuas yang digunakan untuk ujian. Dia memaki dirinya karena tertarik ujian itu. Dari belakang, seseorang berkata bagaimana bisa Gil Hyeon kembali? SONG DO HWAN menebak kalau Gil Hyeon pasti ingin mengikuti ujian itu.


Kita beralih ke tempat Pangeran Choongwon. Istri Jo mendekati Tae Hak yang baru keluar ruangan dan bertanya apakah mereka berhasil menemukan tubuh anak-anak Amogae? Putra Tae Hak berkata kalau anak Amogae itu sudah mati karena dia terpanah dan tenggelam di sungai. Istri Jo berkata kalau Gil Dong bukan anak biasa, tapi Putra Tae Hak tak peduli dan pergi meninggalkan Istri Jo yang gemetar ketakutan.


Kembali ke tempat Amogae. Gil Dong keluar dan Eomjachi berlutut sambil meminta maaf karena telah melakukan ini semua. Eomjachi berkata kalau semua orang percaya kalau Amogae telah mati saat dicambuk. Ga Ryung mendengarkan, lalu diam-diam masuk ke dapur dan membuatkan bubur untuk Amogae.



Ga Ryung menyuapi Amogae. Gil Dong masuk dan Ga Ryung pun keluar. Gil Dong duduk di depan ayahnya. Amogae bertanya dengan suara serak dimana Gil Hyeon dan Ri Ni? Gil Dong berbohong mengatakan kalau mereka baik-baik saja. Dia berjanji akan membawa mereka pada Amogae.


Eomjachi berkata pada Gil Dong kalau Amogae telah banyak membantunya dan dia menyarankan agar mereka pergi setelah Amogae sembuh. Gil Dong berkata kalau dia akan mencari Soobori dkk. Eomjachi berkata kalau mereka itu telah melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka sendiri, apa Gil Dong pikir mereka akan kembali setelah Amogae gagal? Gil Dong dengan mantap menjawab kalau mereka akan kembali jika mengetahui ayahnya masih hidup.


Soobori sedang meramal seseorang dan terkejut saat melihat Gil Dong. Mereka pergi ke tempat minum dan Gil Dong meledek Soobori sebagai peramal yang buruk. Lalu Gil Dong berkata kalau ayahnya masih hidup. Soobori tak percaya. Gil Dong berkata kalau dia baru saja menemui ayahnya. Soobori terharu dan langsung meminta Gil Dong segera membawanya menemui Amogae.


Mereka menemui Keutsae yang sedang membawa kayu di hutan, Il Chung di tempat judi, Segul di tempat gisaeng, dan Yonggae yang sedang menjual panci di rumah warga.


Soobori memanggil Amogae yang baru saja mau masuk rumah. Soobori mendekati Amogae dan berlutut sambil menangis dan diikuti tim pencuri yang lain. Amogae meminta Soobori berdiri. Amogae memeluk Soobori terharu.


Yonggae melihat Eomjachi dan mengatainya bedebah. Eomjachi meminta Gil Dong menjelaskan pada Tim Pencuri kalau dirinya telah membantu Amogae. Yonggae mengejar Eomjachi yang menghindar sambil berkata kalau dia akan memukul Eomjachi.

Soobori menuangkan arak pada Amogae sebagai hukuman karena telah membodohi mereka (pura-pura mati). Eomjachi dengan wajah babak belur berkata kalau Amogae tak bisa meminum itu dulu. Amogae malah meminumnya.


Ga Ryung mengintip, lalu membawakan camilan untuk mereka. Tim Pencuri penasaran siapa Ga Ryung sebenarnya? Mendengar Ga Ryung memanggil ‘Gil Dong oraboni’, Tim Pencuri langsung memanas-manasi Gil Dong karena sudah tumbuh dewasa. Gil Dong berusaha menyangkal, tapi tak ada yang mendengarkan. Ga Ryung tersenyum jahil. So cute.



Gil Dong menemui Ga Ryung di dapur dan mengatakan agar Ga Ryung tak membawakan arak atau makanan lagi keluar karena mereka bisa mengambilnya sendiri. (mungkin itu bahasa halusnya 'sebaiknya lo nggak ganggu gua lagi')


Kita beralih ke tempat Pangeran Choongwon. Tae Hak berlutut dan melaporkan kalau hakim daerah (Eomjachi?) itu suka minum-minum di tempat gisaeng sepanjang hari. Lalu Tae Hak meminta sesuatu yang telah dijanjikan (diberikan pinjaman dari Kantor Keuangan) oleh Pangeran sebelumnya. Pangeran bertanya apa Tae Hak pikir dia ini pelayan Tae Hak? Pangeran kesal sambil berkata apa Tae Hak lupa kalau dia telah meminta putri Amogae dibawa hidup-hidup?


Tim Pencuri berkumpul. Keutsae menyarankan agar mereka membunuh Pangeran saja nanti malam. Gil Dong menolak, dia berkata kalau dia mau melihat Pangeran membayar semua dosa-dosanya. Ga Ryung dan Amogae mendengarnya dari luar.



Gil Dong berlutut dan memohon agar Tim Pencuri membantunya. Gil Dong berkata Ikhwa-ri telah hancur karena satu batu dari Pangeran. Dia berkata kalau ada tikus yang tidak akan membiarkan orang seperti mereka hidup (orang rendahan). Itu bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka menganggap kita bukan manusia. Ini adalah salah kita karena kita setuju dan mengalah ketika dianggap bukan manusia.


Gil Dong berkata kalau sekarang dia tak punya rasa takut lagi. Lalu Gil Dong bertanya apa Tim Pencuri mau hidup seperti binatang daripada sebagai manusia? Semua terdiam. Tiba-tiba Il Chung tertawa dan mengatakan kalau ini mengingatkan dia dengan masa lalu (saat Tim Pencuri bertengkar karena perbedaan pendapat). Seakan ikut teringat, Tim Pencuri yang lain ikut tertawa.


Lalu Soobori bertanya apa rencana Gil Dong? Gil Dong tersenyum dan berkata kalau langkah pertama dia akan menangkap Tae Hak dan memasang perangkap untuk Pangeran.

Gil Dong duduk di depan Ayahnya. Ayahnya menyebut Gil Dong gila karena ingin menyerang Pangeran. Kemudian Amogae tersenyum. (Amogae sudah bisa berbicara dg jelas)



BERSAMBUNG ke Ep 9

Komentar :

Kya! Aku suka bgt sama Ga Ryung di episode ini. Ya, meskipun Gil Dong keliatan nggak tertarik sama sekali sih, dia masih mikirin Gong Hwa yang entah di mana. Aku juga nggak tau kenapa Gong Hwa malah gabung ke Jangakwon ya? Emang Gong Hwa nggak percaya kalo Gil Dong bakal balik lagi? 


Yay! Tim Pencuri kembali! Aku terharu pas mereka ketemu Amogae. Gil Dong juga sepertinya sudah bisa menerima Soobori karena sebelumnya Gil Dong mengaku kalau dia tak menyukai Soobori.

Pertanyaan saat ini: Sebenarnya dimana Ri Ni berada?

NB. Ini lagu yg dinyanyiin Gong Hwa sama Gil Dong  [play]

Kamis, 23 Februari 2017

SINOPSIS Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 7

Di episode ini kita akan melihat hubungan Gil Dong, Gong Hwa, dan Ga Ryung yang mulai terjalin.


Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 7 

Episode dibuka Gil Dong dan Ri Ni yang terdesak di ujung tebing. Gil Dong meminta Ri Ni menutup mata. Gil Dong terpanah dan jatuh tercebur ke dalam air.

Mereka melayang di dalam air. Gil Dong mengenang perkataan ayahnya tentang Si Anak Perkasa, tiba-tiba dia membuka mata dan segera menarik Ri Ni ke permukaan air.


Kita masuk ke episode sebenarnya. Gil Dong menggendong Ri Ni yang masih pingsan, lalu menurunkannya. Gil Dong merasakan napas Ri Ni dengan jarinya, lalu Gil Dong pingsan.

Ri Ni tersadar dan membangunkan Gil Dong. Gil Dong mengigau meminta air, lalu Ri Ni berdiri sambil melepaskan ikatan kain di tangannya (Gil Dong mengikat tangannya dan tangan Ri Ni ketika berusaha kabur dari kejaran para penjahat).


Ri Ni menusuk-nusuk tanah dengan kayu. Dia tersenyum ketika melihat air mulai mengucur. Tiba-tiba di belakangnya ada seseorang, Ri Ni menoleh dan terlihat terkejut.



Gil Dong sadar dan mendapati Ri Ni yang tak ada di tempat. Gil Dong bangkit dan mulai mencari Ri Ni. Di hutan, dia bertanya pada dua orang yang mencurigakan, apakah mereka melihat gadis lewat sini? Mereka menjawab dengan takut kalau mereka tak melihat siapa-siapa, lalu mereka terkejut saat melihat punggung Gil Dong yang terpanah.


Gil Dong terus memanggil Ri Ni. Orang-orang yang berpapasan dengannya melihatnya dengan ngeri. Gil Dong melihat sekelompok gadis lewat dan mengikutinya.


Sekelompok gadis itu menari dengan diiringi musik, lalu mereka berteriak ketakutan saat Gil Dong datang menghampiri. Gong Hwa melihat kekacauan dari jauh. Dari belakang, kepala Gil Dong dipukul dan dia pun tercebur ke kolam. Pemukul itu adalah Ga Ryung.



Ga Ryung dan Gong Hwa terkejut saat melihat kalau pria itu adalah Gil Dong. Sekarang Gil Dong berada di dalam ruangan. Dia sedang diperiksa tabib, lalu tabib berkata kalau Gil Dong akan segera mati.

Gong Hwa melihat Gil Dong yang sedang tidur dan mengatakan, “kita bertemu lagi.”


Ga Ryung menyiapkan air hangat. Gong Hwa meminta air hangatnya yang membuat Ga Ryung bingung melihat sikap Gong Hwa. Lalu mereka masuk ke kamar dan terkejut saat melihat Gil Dong yang sedang minum dengan keadaan baik-baik saja.

Gil Dong berkata kalau sebentar lagi ulang tahun adiknya dan dia akan memberinya sepatu cantik. Gong Hwa dan Ga Ryung kebingungan saat mendengar Gil Dong mengatakan hal yang sama saat mereka bertemu dulu.

Gil Dong melangkahkan kakinya dan dia teringat samar-samar kehidupan yang pernah ia lalui. Gil Dong kembali pingsan.


Di tempat lain, Gil Hyeon terus memanggil Ri Ni dengan tertatih. Dia melihat dan masuk ke sebuah gubuk di tengah hutan. Gil Hyeon menyapa Tuan Rumah yang sedang duduk membelakanginya. Karena tak dibalas, Gil Hyeon menepuknya dan terkejut saat melihat Si Tuan Rumah malah terkulai lemah ke tanah.


Ga Ryung memberitahu semua gisaeng kalau Gil Dong adalah si pedagang ajaib. Dia mengaku kalau pernah bertemu Gil Dong sebelumnya. Tiba-tiba Gil Dong datang dan bertanya dimana dirinya sekarang?


Gil Dong diperiksa kembali oleh tabib. Tabib terkejut ketika mendapatkan denyut nadi Gil Dong yang baik-baik saja dan bertanya apa Gil Dong benar-benar tak ingat apapun? Gil Dong mengaku kalau dia hanya ingat samar-samar saja. Ga Ryung melihat Gil Dong mengeluarkan air mata dan bertanya mengapa Gil Dong menangis?


Gil Dong menggeleng tak tau. Gil Dong berkata kalau dadanya sesak dan membuatnya ingin terus menangis, lalu bertanya pada tabib penyakit apa yang dia derita itu? Gil Dong bercerita kalau dia ingat ketika bertemu beberapa pedagang di pintu masuk dimana harimau berada. Mendengar itu, Ga Ryung berkata, “omo, harimau itu mengambil jiwamu.”

Ga Ryung berkata kalau menurut rumor siapapun yang bertemu harimau, maka dia akan menjadi idiot. Gil Dong membalas kalau dia tak idiot. Ga Ryung mengejek Gil Dong karena tak mengingat apapun. Akhirnya mereka saling mengejek.



Gil Dong meminta panah yang pernah tertancap di tubuhnya. Gong Hwa memberikannya. Gong Hwa mengatakan bahwa Gil Dong akan sakit kepala jika mencoba mengingat terlalu keras, lalu dia menyuruh Gil Dong untuk tinggal di sana dulu sampai keadaannya kembali pulih. Gil Dong menunduk sambil berterima kasih. Gong Hwa mengingat percakapannya dengan seorang pedagang.


Kilas balik. Seorang pedagang bercerita tentang Si Anak Perkasa yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Yang bisa sembuh dengan cepat, meskipun lukanya fatal.


Gil Dong dikelilingi para gisaeng. Ga Ryung dan Wolhamae (kurasa dia pimpinan gisaeng) mendekati mereka dan mengejek Gil Dong yang sedang merayu wanita.


Seorang pedagang (yang bercerita tentang Anak Perkasa di kilas balik) mendekati Gong Hwa. Dia berkata dia mendengar kalau Gil Dong itu terluka parah, tapi sembuh dengan cepat. Gong Hwa menjawab kalau tabib telah salah mendiagnosa luka ringan. Pedagang itu bertanya, “apakah tertusuk tiga panah adalah luka ringan?” Si pedagang tertawa dan bertanya-tanya apakah Gil Dong adalah Si Anak Perkasa yang berhasi bertahan hidup?


Kilas balik. Si Pedagang bercerita kalau Si Anak Perkasa jarang muncul dan kebanyakan akan sulit bertahan hidup. Tapi, sekalinya dia berhasil bertahan hidup, Si Anak Perkasa akan mengubah dunia dan juga sejarah yang ada. 


Kembali ke dunia nyata. Si Pedagang berkata kalau pasti ada satu Anak Perkasa yang entah dimana dan dia hidup dengan menyembunyikan kekuatannya.

Ga Ryung mencuci pakaian. Dia melihat kain ikatan Gil Dong. Gong Hwa meminta kain itu karena dia sendiri yang akan memberikannya pada Gil Dong. Di kamar, Gong Hwa malah menyimpan kain itu ke dalam kotak.


Gil Dong meminta izin pada Gong Hwa kalau dia akan mencari tau darimana panah itu berasal untuk mendapatkan ingatannya kembali. Sebelum Gil Dong pergi, Gong Hwa bertanya apakah Gil Dong tak ingat percakapan mereka saat di Cheongeumnu? Gil Dong tak mengerti, lalu Gong Hwa bilang itu bukan apa-apa dan menyuruh Gil Dong pergi.


Gil Dong menghampiri sekelompok pemburu di hutan dan bertanya tentang panah itu. Mereka mengaku kalau itu bukan panah yang mereka pakai dan mereka berkata kalau ada pemburu lain yang suka mengambil hewan dari trap yang mereka pasang. Gil Dong meminta ikut karena dia ingin menemukan yang orang membidik panah itu. Para pemburu menolak karena tak mau terlibat masalah balas dendam Gil Dong. Gil Dong memohon dan dia berkata kalau larinya sangat cepat. Gil Dong berlari sambil menoleh ke belakang dan BUK! Dia menabrak pohon dan membuat para pemburu tertawa.


Ga Ryung dan Gil Dong menemani Gong Hwa ke tempat Tuan Kim. Pintu digeser dan Gong Hwa mulai bernyanyi diiringi Janggu (gendang tradisional Korea) yang dimainkan Gil Dong. Gong Hwa bernyanyi sambil menari dan membuat orang-orang yang mendengar suaranya sampai merinding.


Salah satu pria tua memeluk Gong Hwa, lalu pria yang lebih muda meminta maaf pada Gong Hwa dan meminta agar Gong Hwa menuangkan minuman saja. Gong Hwa menolak secara halus. Si Pria Tua hendak memeluk lagi, tapi Gil Dong mencegahnya sambil menatap tajam kedua Tuan tersebut. Sesaat kemudian Gil Dong tersenyum dan bertanya haruskah pestanya dimulai?


Gil Dong melucu dengan monolog konyolnya di hadapan para Tuan dan berhasil membuat orang-orang tertawa.

Mereka keluar ruangan. Gong Hwa bertanya kenapa Gil Dong melakukan itu? Gil Dong menjawab kalau dia tak ingin Gong Hwa bicara dengan sampah-sampah itu. Dia berkata kalau Gong Hwa adalah seniman. Gong Hwa berkata pelan kalau semua gisaeng juga menari dan menari. Gil Dong menegaskan kalau Gong Hwa adalah seniman dan dia berkata, “mungkin para Tuan itu terlihat seperti seorang sarjana, tapi mereka tak tahu apa-apa tentang seni.” Ga Ryung bertanya memangnya Gil Dong tau seni?

Gil Dong menjawab tentu saja karena dia telah mengelilingi penjuru negeri, bahkan dia tau kenapa Sungai Amnok memiliki warna biru yang mengagumkan yang sering orang sebut ‘Noksu’. Gil Dong menambahkan disebut Noksu karena mereka berada dalam kesedihan. Gong Hwa bergumam, “Noksu.”


Ga Ryung membantu Gong Hwa menuruni tangga. Gil Dong yang sudah di depan kembali dan menggendong Gong Hwa. Gong Hwa tersenyum. Ga Ryung memasang wajah cemberut dari atas tangga. Setelah menurunkan Gong Hwa, Gil Dong kembali naik dan menggendong Ga Ryung. Ga Ryung tersenyum lebar. (Suka banget ngeliat mereka^^)



Ga Ryung ingin ikut menari, tapi ditolak oleh Wolhamae dengan alasan Ga Ryung itu jelek. Dari belakang, Gil Dong berkata Ga Ryung adalah gadis tercantik yang ada di sini. Ga Ryung  tersenyum malu.

Ga Ryung, Gil Dong, dan Gong Hwa berjalan melewati gunung yang di penuhi tanaman. Gong Hwa mulai bernyanyi sebuah lagu yang bercerita tentang gunung dan Noksu. Gil Dong mengiringinya dengan Janggu dan ikut bernyanyi. Ga Ryung melihatnya dengan kagum, dia memuji Gong Hwa yang cantik. Nyanyian mereka terhenti ketika seorang anak kecil memanggil, “ibu.”



Gong Hwa dan Wolhamae ada di kamar. Gil Dong masuk dan diperintahkan oleh Wolhamae untuk memberi uang pada anak itu. Wolhamae berkata harusnya Gong Hwa memberi anaknya makan. Gong Hwa dengan mata berkaca-kaca berkata kalau dia tidak memiliki hati seorang ibu, dia adalah monster. Gil Dong menghentikan langkahnya dan menoleh pada Gong Hwa.


Gil Dong menemui anak Gong Hwa di luar dan memberikan uang. Gil Dong baru mau memberikan syalnya, tapi tiba-tiba seorang pria (sepertinya suami Gong Hwa) merampas uang yang ada di tangan anaknya dan membawa anaknya pergi.


Gil Dong masuk ke ruangan Gong Hwa dan memberitahu kalau dia telah memberi anak itu permata. Gong Hwa bercerita kalau ibunya adalah seorang gisaeng di pemerintahan. Ibunya menikah tiap ada gubernur baru. Dan pada suatu saat, ada gubernur yang berumur 60 tahun, gubernur itu malah meminta Gong Hwa untuk menjadi istrinya. Gong Hwa berkata kalau dia tak akan memaafkan orang itu, makanya dia butuh kekuatan. Kekuatan yang bisa membuang mereka ke lubang api. Gong Hwa berkata hatinya telah membeku sekalipun putranya itu memanggilnya ‘ibu’. Gong Hwa menyebut dirinya monster.


Gil Dong mendekati Gong Hwa dan memeluknya sambil menepuk-nepuk pelan. Gong Hwa menangis. Gil Dong berkata kalau Gong Hwa bukan monster karena Gong Hwa menangis. Gil Dong menatap Gong Hwa dan mengatakan kalau dirinya pernah berkata jika mereka bertemu lagi, itu artinya mereka ditakdirkan untuk bersama. Lalu Gil Dong mencium Gong Hwa.


Si Pedagang (yang bercerita perihal Anak Perkasa) melihat Gil Dong yang sedang tidur. Lalu dia mengambil arang yang membara dan meletakkannya pada tubuh Gil Dong. Gil Dong mengerang kesakitan. Dia meminta maaf karena tak sengaja melakukannya dan berkata kalau dia punya obatnya. Dia berlari keluar dan Gong Hwa pun masuk, lalu menyusul Si Pedagang. Si Pedagang mengaku kalau dia ingin tau apakah Gil Dong adalah si Anak Perkasa atau bukan.



Si Pedagang mengintipi Gil Dong. Ga Ryung memergokinya dan bertanya mengapa dia mengintip orang mandi? Ga Ryung mencoba mengintip dan terpesona dengan tubuh Gil Dong yang atletis. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Si Pedagang yang menghilang. Ga Ryung mengintip lagi, tapi sudah tak ada Gil Dong.


Tiba-tiba telinganya dijewer Gil Dong dari belakang. Ga Ryung menggigit tangan Gil Dong dan kabur. Gong Hwa datang dan memberi pakaian pada Gil Dong. Dari jauh, Ga Ryung melihat mereka yang saling tersenyum.


Kilat menghiasi langit Joseon. Kita dibawa ke dalam Istana. Lee Yong berlari menghampiri ayahnya yang sedang terbaring lemah. Raja berbicara tentang Konfusiusme dan Mencius. Lee Yong bertanya apakah menendang dan membunuh istrinya sendiri adalah kehendak Konfusius? Raja berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Lee Yong mendekati Raja dan berbicara pelan, “apa Ayah pikir aku tak tahu kalau ibunya dibunuh?” Lee Yong juga mengatakan kalau dia adalah putra dari ratu yang diturunkan. Raja terkejut dan mulai muntah darah.



Kita beralih ke hutan. Gil Dong sedang menghangatkan tangan bersama para pemburu. Salah satu pemburu melihat orang yang mengambil hewan dari jebakan yang mereka pasang. Gil Dong mengejarnya dan berhasil menangkapnya. Orang itu (orang mencurigakan yang pernah ditanyai Gil Dong di hutan) terkejut melihat Gil Dong yang sehat-sehat saja. Gil Dong mulai mengingat kejadian mengerikan yang dia pernah alami.

Gil Dong berjalan lunglai melewati orang-orang berpakaian putih yang memanggil-manggil nama Raja. (Sepertinya Raja udah meninggal)


Di sebuah gudang, Ri Ni duduk sambil memandang kain yang terikat di tangannya. Pintu gudang terbuka. Di tempat lain, Gil Hyeon membaca sebuah buku catatan seorang putra generasi ke-31 dari keluarga Park. Di sana tertulis kalau siapapun yang menemukan catatan itu, diminta agar mengabulkan permintaan yang ada di dalamnya.



Kita beralih ke sebuah rumah tua. Seorang pria berpakaian putih sedang melihat keadaan sekitar. Dia adalah Eomjachi! Eomjachi berkata kalau dia kembali dan tak ada siapapun di sini. Terdengar suara erangan seseorang. Lalu Eomjachi membuka sebuah pintu. Di sanalah Amogae berada.



BERSAMBUNG ke Ep 8

Komentar :

Dugaanku sepertinya benar.. Eomjachi tak bermaksud mengkhianati Amogae. Tapi, itu cara ngeluarin Amogae gimana ya? Mengingat kasus Amogae kan diawasi sama Pangeran.

Aku rasa hubungan Gil Dong sama Gong Hwa terlalu cepat.. Aku nggak yakin Gil Dong beneran suka atau sekedar kasian sama Gong Hwa. Entahlah. Yang jelas aku suka saat Gil Dong, Gong Hwa, dan Ga Ryung bersama dan aku juga suka Gil Dong sama Ga Ryung saling meledek satu sama lain. Huh, sepertinya akan ada cinta segitiga nih.